Fighting Dreamer

Harapan pribadi atas blog ini:

Pemilihan Umum antara Demokrasi Politik dan Kesejahteraan

Salus Publica Suprema Lex Esto

-Cicero

Mobil mikrolet nomor 17
jurusan Garut Kota – Wanaraja itu melaju menembus hujan lebat yang turun di
Garut. Meski hujan deras tetapi suara lantang penceramah dari Toa sebuah masjid
kampung yang dilalui terdengar oleh sang supir, kernet yang duduk di samping
sang supir, seorang teman, penulis dan dua orang penumpang lainnya.“ahhh, masing keneh ajengan ge amun tos
jadi pejabat mah ngabangsat (
biarpun kiyai kalau sudah jadi pejabat pasti
jadi bangsat),”ujar sang supir
setengah berteriak. “ lain pajabat,
penjahat I(
bukan pejabat, penjahat),”timpal
sang kernet. Penulis hanya bisa tersenyum, dalam tatapan heran teman yang
kebetulan beretnis Jawa dan sama sekali tidak mengerti bahasa Sunda.

Apa yang diungkapkan
oleh sang supir dan kernet itu pada dasarnya menunjukkan satu hal. Kepercayaan
publik pada pejabat daerah dan sangat mungkin Pemerintah Daerah bahkan mungkin
Pemerintah Pusat, apa pun latar belakang pejabat sebelumnya, teramat rendah.
Mereka lelah dengan proses demokrasi politik bernama Pemilu atau dalam hal ini
Pilkada yang selama ini tidak membawa dampak langsung bagi kehidupan ekonomi
mereka, atau tepatnya kesejahteraan mereka.

Sejatinya keberadaan
Pemilihan Umum (pemilu) termasuk di dalamnya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)
adalah ciri dari suatu negara demokrasi. Pemilu menurut teori demokrasi klasik
merupakan suatu “transmission belts of
power”,
rakyat merupakan sumber political authority para wakil rakyat
maupun kepala pemerintahan. Pemilu merupakan proses transformasi itu. Jargon
negara Republik, “ pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”
diwujudkan dengan pemilu.

John Locke mengungkapkan
bahwa salah satu tujuan didirikannya negara adalah untuk melindungi hak-hak
individu masyarakatnya, dan puncaknya berdirinya suatu negara dimaksudkan untuk
mencapai kesejahteraan bersama. Pengalaman pemilu di Indonesia pasca reformasi,
semenjak Pemilu 1999 dan 2004. Proses transformasi kekuasaan dari rakyat kepada
wakil rakyat untuk kemudian menjalankan fungsi-fungsi negara yang bertujuan
pada upaya mensejahterakan warga negara tidak berjalan sebagaimana yang
diharapkan.

Jika berkaca pada data
kemiskinan, tidak ada peningkatan berarti sejak berakhirnya era Soeharto hingga
kepemimpinan SBY saat ini. Prosentase penduduk miskin bahkan meningkat dari 14%
di akhir era Soeharto hingga paruh akhir kepemimpinan SBY pada kisaran 16.8 %. \jika
ukurannya harga bahan makanan pokok maka terjadi peningkatan yang signifikan.
Secara perlahan tapi pasti subsidi BBM dikurangi, yang berimbas secara langsung
kepada menurunnya tingkat kesejahteraan rakyat. Pendidikan di era reformasi
bukan merupakan hak konstitusional sebagaimana semestinya. Pendidikan merupakan
beban yang mesti ditanggung dan harus memakan korban. Tidak hanya sekali kita
dikejutkan dengan perilaku ibu yang membunuh anaknya dan menghabisi hidupnya
sendiri akibat akumulasi tekanan ekonomi yang tinggi. Tukang gorengan yang
gantung diri. Siswa SD yang gantung diri. Contoh ekstrem memang karena anak
putus sekolah, gizi balita buruk, makan nasi aking adalah fenomena yang biasa
di tengah kedaulatan politik yang selama ini berlangsung.

Tingkat kesejahteraan
yang menurun, dan tekanan hidup yang meningkat diperparah dengan perilaku
korupsi dan penegakan hukum yang menyedihkan. Pemilu di satu sisi merupakan
pesta demokrasi dan sebagaimana diungkapkan di atas merupakan proses
transformasi kedaulatan rakyat. Namun, di sisi lain dia merupakan hajatan yang
banyak membutuhkan dana. Suara-suara kedaulatan rakyat tergadaikan dengan
beras-beras berkedok baksos, upeti preman, jatah 25ribuan untuk para tukang
ojek, handphone gratis, konsesi proyek, konsesi jabatan politik (jabatan lurah
dan camat). Merupakan ’biaya-biaya’ di luar biaya kampanye yang rela
dikeluarkan oleh para calon pejabat publik yang haus kekuasaan. Maka wajar jika
baik calon incumben maupun orang baru pasca terpilih akan berupaya untuk
menanggulangi kerugian yang dideritanya. Perilaku ini di tengah kebebasan
informasi dan media menjadi hal yang hampir setiap hari menemani rakyat dalam
pergulatan akrobatik hidup mereka.

Agaknya demokrasi yang
kita nikmati saat ini baru sekedar demokrasi prosedural. Demokrasi yang sekedar
mengantarkan individu-individu yang besar kemungkinan kemudian, meminjam istilah
sarkastik yang digunakan oleh sang supir bahkan Kiyai pun saat menjadi pejabat
bisa menjadi bangsat!!

Sudah saatnya dan
semestinya kita mengupayakan demokrasi yang sejati yaitu demokrasi yang
mensejahterakan. Sebagaimana apa yang diutarakan oleh Cicero, kepentingan,
kesejahteraan rakyat adalah hukum yang tertinggi.

Viva altermundialista!!

Ayat-ayat Sepatu

"Mar, ukuran sepatu loe berapa sih?" tanya Pak Rahmat Yananda suatu hari (sekitar sebulan yang lalu) entah di hari senin atau rabu,menjelang tiba saatnya untuk berpamitan selepas maghrib dan makan malam dalam pengabdian berbayar (ngajar). Belum sempat aku menjawab, Pak Rahmat menunjukkan sepatu bermerek Reebok, "Nih, coba loe pake!" Aku mencobanya…Kau tahu apa yang ku rasakan… Aku merasakan sensasi nyaman yang  luar biasa pada kedua kakiku. Sepatu Reebok itu tidak hanya begitu pas pada kedua kakiku tapi bantalannya yang tebal dan lembut memberikan sensasi nyaman yang luar biasa…entah, mungkin ini sedikit berlebihan…sudah berapa tahun aku tidak merasakan sensasi kenyamanan bersepatu seperti ini. "pas, waaah enak banget…ini sepatu Bapak? ukurannya 42 juga pak?" …"loe bawa deh Mar." "buat saya pak?" tanyaku seolah tak percaya."Terima kasih pak" aku merasa tak perlu menunggu jawaban Pak Rahmat, itu akan menjadi pencederaan bagi kebaikan beliau dan tanpa menyembunyikan perasaan senang yang tiada tara aku pulang berbekal sepatu dalam kantung plastik.

Kau tidak mungkin mengerti betapa senang dan bersyukurnya aku atas pemberian itu. Sepatunya memang tidak baru tetapi sangat baik dan bagus, terlebih pemberian itu datang di saat yang sangat tepat. Baru dua minggu sebelumnya sepatu ‘terbaru’ku menutup masa hidupnya yang singkat, 2 bulan, umur tersingkat dari sepasang sepatu yang pernah kupakai.  Berada di  bawahnya adalah sepatu  ‘nike2-an’ seharga Rp 50.000,- yang ku beli di emperan  seberang Bintaro plaza satu setengah tahun lalu, umurnya tiga minggu lebih lama sebelum semplak, itu pun setelah sempat di’operasi’ dengan super glue tiga minggu sebelumnya.    

Mungkin yang menggerakkan Pak Rahmat adalah sepatu yang kupakai hari itu. Adidas2an  dan itu milik Andi anak PPSDMS ang. 3, izin meminjamnya sudah dua minggu yang lalu, malam  hari di mana sebelumnya sepatu hitam pemberian kakak iparku wafat, di minggu kedua terakhir latihan basket menjelang kejuaraan Fakultas  Hukum se-Nasional  Pancasila Cup. Penampilannya masih baik untuk standarku, kedua ujungnya memang menampakkan tanda-tanda lepas tapi masih sangat layak untuk dipakai bahkan untuk intensitas tinggi seperti berlari, melompat,  pivot, shuttle atau power run sekalipun. Ya, agaknya Pak Rahmat ketika pulang sempat melihat sepatuku di luar.

Ayat-ayat sepatu? Izinkan aku mengucap segala puji bagi Dia Yang Maha Rahman, Yang Sangat Luas dan tak terhingga kebaikannya, pokoknya Dia Top banget deh…ga ada duanya!!! Untuk kesekian kalinya, Dia menunjukkan kuasa kebaikan yang tidak terduga dalam hidupku. BAri memang luar biasa…9 minggu sebelumnya aku sempat berbuat ‘kesalahan’ dengan mengutarakan keinginanku untuk memiliki sepatu olahraga kepada bundaku sudah cukup lama mengandalkan stok sepatu olahraga adik-adik di asrama
untuk menyelingi pemakaian sepatu kulit pemberian ayah untuk berkuliah
atau sekedar lari pagi..  dan aku menyesal atas  ketidakempatianku itu, dengan dua alasan: semestinya aku lebih pintar menabung tapi keadaan tidak mentoleransi uang donat dan mengajarku untuk habis sekedar biaya makan dan keperluan kuliah terlebih aku sudah terlalu dewasa untuk meminta, kedua Abi dan Ummi pun berjuang dengan tekanan hidup yang lebih dahsyat permintaan dari anak kesayangannya bisa berarti ketulusan untuk menanggung beban yang lebih berat dengan berhutang kepada teman kantor…"nga usah deh bun, nanti aku  aja yang beli, bulan ini insya Allah ada proyek pelatihan." Aku berusaha secepatnya mengangkat opsi-opsi akrobatik ekonomi yang mungkin berkecamuk dalam benak bunda. Memang di minggu itu masih ada proyek pelatihan hukum meski ternyata tidak sesukses yang diharapkan.

DIA bilang begini "Jo, klo loe nolong agama Allah, Allah(GUE) bakalan nolong loe dan menetapkan kaki-kaki loe…" di lain kesempatan DIA bilang "I akan mendatangkan pertolongan dari arah mana yang loe nga kepikiran bakalan datengnya…" Dua pusaka kehidupan ini dan banyak tips2 hidup lainnya dalam Al-Quran Alhamdulillah telah lama menjadi peringan bagiku dalam menjalani hidup ini…

Benar saja…DIA emang gila…luarrr biasa men!Top markotop dah!! kagak ada matinye….tidak lama berselang seminggu kemudian keponakanku Rayhan si Bayi Gorila datang bersama kedua orang tuanya, kakakku Indira dan kakak iparku, suaminya Mas Ilham…Dia datang dengan sepatu olahraga hitam pemberian bosnya seorang ekspatriat berkewarganegaraan Korea.   SEnangnya bukan main, meski  sepatu itu  tidak diperuntukkan  menanggung  beban  kerja yang berat (kematian prematurnya karena sempat kupaksakan untuk latihan basket), tapi cukup layak untuk kegiatan-kegiatan middle apalagi sekedar untuk kuliah, jaminan nga bakalan diusir di kelas-kelas seangker Zakat Wakafnya bu Nunung, atau Hukum Administrasi Daerahnya Pak Nursanto. Maka cerita selanjutnya berjalan sebagaimana ku utarakan di muka.

Tahun 1995, adalah tahun di mana aku mulai menyadari bahwa sepatu merupakan barang yang mahal. Bahwa selama ini sepatu-sepatu baruku selama sebelumnya seharga 1/3 gaji ayahku, terlebih ketika itu aku dan kakakku Farida baru duduk di kelas 6 dan 5, jarak pendidikan dan usia yang hanya dua tahun dalam umuran masa itu, kalau satu mendapat sepatu baru, sebaiknya yang satu harus mendapatkan yang sama, untuk menghindari goresan-goresan mendalam akibat kuku2 yang dihujamkan atau sekedar perang gaduh di rumah. Itu aku sadari saat sedang berbelanja ‘besar-besara’ ke Matahari Cipulir untuk membeli sepatu, jaket kulit. pakaian monyet, dan handuk. Itu bukan kesempatan ritual, tapi ’sakral’ karena ayah baru saja mendapat uang langsam sebagai persiapan untuk menghadapi tugas sebagai staf komunikasi di Kedutaan Besar RI di Cairo dari negara. Sepatu yang dibeli waktu itu, aku masih ingat, sepatu merek nasional "eagle" warna hitam seharga Rp 90.000,- bukan sepatu yang waktu itu aku ingini tapi karena sepatu bermerk Reebok atau Adidas, dan Nike berkisar Rp 200ribuan ke atas, sepatu Eagle ini sangat layak . Kenyataan betapa mahalnya harga sepatu menciptakan tekad untuk sejarang mungkin meminta beli sepatu baru dan berhasil. SEpatu itu tercatat dalam Hall of Fame sepatu terkuat dan terlama yang aku miliki, umurnya lebih dari 2 tahun!Padahal aku memakainya untuk banyak aktivitas luar biasa, dari mulai main benteng, galaksin, sepak bola gaprakan ala SEkolah Indonesia Cairo(SIC) atau sekedar ku bawa berlari menghindari kejaran teman-teman wanitaku yang baru ku usili dengan menaruh kapas beringus bekas mimisanku di atas meja-meja mereka…sepatu yang patriotik! dia melayani tuannya dengan baik.

Ada ikatan emosional yang lebih antara masalah sepatu, aku dan bundaku…semenjak sadar betapa sepatu sedemikian mahal, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Mesir, aku selalu beli sepatu-sepatu aspal  (aseli tapi palsu) itupun aku beli di Bulak Dakrur (daerah pasar) yang terkenal murah-murah dan aku berlangganan dengan satu toko, jadi untuk mendapat kortingan harga adalah masalah sepele terlebih Abu Abdullah penjaga toko penggemar berat Al-Ahli (tim sepak bola ibu kota) aku tinggal mengibulinya dengan memuji kehebatan pemain-pemain Ahli, semisal Husam dan Ibrahim Hassan serta Walid Salahuddin, padahal sejatinya aku dulu pendukung Zamalek (tim satu kota). Suatu hari bundaku sempat memuncak kekesalannya kepada seorang kakakku yang ditinggal di Indonesia, keluargaku banyak mengeluarkan uang untuk keperluannya dan tiga yang lainnya (hanya aku Teh Ida dan adikku Fatimah yang ikut ke Cairo). Paling banyak untuk keperluan kuliahnya. Ibuku sampe berujar sambil menitikkan airmatanya ," dia itu ga tau klo  mamah ngirit-ngirit di sini untuk ngirimin uang, untuk beliin sepatu kamu aja dientar-entar, padahal mama nahan malu sama ibu2 KBRI  ngeliat kamu make sepatu udah sampe begitu…","hahaha…nga papa kok mah, perasaan tmen umar asik-asik  aja..sepatunya juga masih bisa dipake kok!"

Hidup ini penuh dengan ironi dan ketidakadilan….tahukah Anda klo icon Nike semisal Michael Jordan atau Tiger Woods bisa di bayar jutaan dollar sementara buruh pabrik Nike dibayar di bawah UMR dan dipaksa bekerja lebih dari 12 jam di ruangan pengap tak berpendingin ruangan???Apparel lain seperti Adidas dan Reebok pun membayar para pesepakbola ternama , pemain basket, atau tenis dengan angka2 fantastis. HAKI yang membuat harga-harga sepatu melangit, dan ketamakan banal yang dilanggengkan oleh kapitalisme yang membuat harga sepatu bisa mahal. Kenapa sepatu-sepatu aspal bisa seharga 1/5 sd 1/10 dari yang asli? tinggal bermodal tambahan maksimal 20 ribu rupiah untuk memperkuat jahitan pada sepatu kau akan mendapat jasa yang hampir setimpal dengan yang asli.

Hanya saja…dengan pemberian Reebok kali ini aku menyadari satu hal yang tidak bisa  diberikan oleh sepatu-sepatu aspal: sensasi kenyamanan yang diberikan…..dan tahukah kau apa yang kulakukan setelah mendapatkan pemberian ini?
menangis, menitikkan air mata, karena rasa syukur…aku bisa merasakan kenyamanan bersepatu yang itu sudah hampir pasti tidak dirasakan oleh banyak orang di luar sana…anak-anak ajarku semacam Nurika, Fani, Aldi, Fahmi dan kawan-kawan besar kemungkinan merasa puas dengan sepatu-sepatu mereka, sekedar berpikir untuk memiliki sepatu bermerk Nike, Reebok atau Adidaspun pasti tidak terlintas dalam benak mereka, bagi mereka dan aku sepatu hanya bersifat fungsional untuk menutupi kaki dan layak untuk bersekolah atau kuliah, tak ada prestise.

Ini nikmat kesekian juta kalinya yang DIA berikan…tanyakan padaku apakah dengan ini aku menjadi orang yang bersyukur?

"Maka nikmat Tuhan mana lagikah yang hendak kamu dustakan???"

Allahummaj’alni min al syaakiriin..allahumma amin!

Tanah for Sale

Pengumuman…pengumuman…

Di jual…
Tanah dengan luas 1500  meter2 berikut bangunan rumah 7  x 4 meter
Bersertifikat
lokasi: Cirende, Cisaat-Sukabumi
lokasi cocok untuk Yayasan Pendidikan atau Peristirahatan keluarga besar (villa)
Kawasan berkembang
rencananya akan dilalui proyek jln tol Sukabumi
harga mulai 270 jt
berminat??
Hubungi
Wihardja (pemilik) 0251 552602
Umar (putra pemilik ) 021 98029882

It IS In The Blood

Kalau kau kebetulan bertanya padaku di semester satu, "Mar, klo lulus loe mau kerja di mana? Lawfirm?"…"jawabannya pasti, lawfirm, NO WAY"…"Aku ke Deplu"…Bahkan kalau sekiranya pertanyaan itu Kau ajukan saat ini, maka jawabannya SDA!

Alasan kenapa saya memilih fakultas Hukum UI, adalah impian untuk bisa mengabdi kepada negara di Departemen Luar Negeri. Alasan logis karena banyak hal. Pertama, they need lulusan fakultas Hukum terutama yang menguasai hukum internasional. Kedua, FHUI merupakan yang terbaik untuk hukum internasional, mungkin UNPAD dengan Prof Muchtarnya juga lumayan, tetapi dengan beragam fasilitas yang ada, FHUI simply the best, belum environmentnya, jajaran highly qualified pengajar, and briliant class mates, center of excellences! KEtiga, waktu itu pilihan paling memungkinkan dengan kemungkinan berhasil masuk lebih baik adalah FH, ketimbang Hubungan Internasional, Saya punya firasat kuat. Alhamdulillah Allah memudahkan.

Bukan sebuah kebetulan, saya rasa kenapa pilihan impian itu ada…barangkali sudah hampir seumur hidup Saya diarahkan untuk masuk ke DEPLU. Ayah, aktor utama…yang sering membeirkan semangat, berbagai alasan dari yang paling pragmatis, sampai idealis kenapa mengabdi di DEPLU adalah pilihan yang sempurna.

DAri sisi Ayah, ada alasan yang sangat personal sifatnya untuk menjadikan salah satu dari anaknya untuk bisa masuk Deplu. Ada tiga anak yang dipersiapkannya untuk masuk Deplu, Huesin kakak pertama ku, Yusuf kakak ketiga, dan Aku, yang keenam dari tujuh!

PErjalanan hidup membawa kedua yang pertama menempuh jalan yang berbeda. Kakakku Husein be kini bekerja di perusahaan pengimpor pakaian, sedangkan Yusuf sudah setahun di Departemen Perindustrian kini sedang tugas belajar S2 di Ekonomi Industri Pasca-sarfjana FE UI. Kini harapan pria yang lahir di tahun 1947 itu tinggal tersisa pada puteranya yang sudah menempuh 10 semester kehidupan akademisnya di FHUI.

Semasa aktif bekerja beliau menerima tiga penghargaan sebagai pegawai terbaik oleh tiga Menteri Luar Negeri Yang berbeda dalam kurun masa pengabdian 1973-2000. Dedikasi yang ditunjukkannya berbanding terbalik dengan kenaikan karirnya. Lebih karena ‘pendidikan’, nasib menentukan karirnya harus mentok, meski keputusannya untuk pensiun dini lebih karena alasan ideologis-politis, tapi masalah ‘pendidikan’ ini menjadi sesuatu yang disayangkannya seumur hidup. Tekadnyalah untuk kemudian mengobati hal itu dengan menaruh harapan pada putera-puteranya. Saya akan merasa teramat bangga untuk dapat mengobati perasaan itu!

Di tahun 1970-an, Opa Soeharto ngambek dan menganggap kampus adalah dapur perlawanan bagi rencana jangka panjang pengakaran kekuasaannya maka dibekukanlah seluruh perguruan tinggi. Saat itu , Abi sudah masuk tahun terakhir di fakultas Ekonomi Sosial dan Politik UNAS, dan sedang merampungkan skripsinya, di saat yang bersamaan beliau juga sudah lebih dahulu bekerja di Deparemen Luar Negeri di bagian Kepegawaian, juga mengajar Matematika di salah satu SMA di bilangan Jakarta. Tiga tahun kemudian ada pengumuman ujian negara bagi para mahasiswa yang dahulu terbengkalai akibat kebijakan itu. Sayangnya Abi sudah pindah domisili, surat pemebritahuannya tidak pernah sampai kepada Beliau. Ujian itu bahkan baur diketahuinya ketika secara ironis beliau dalam statusnya sebagai pegawai Deplu mengadakan ujian bagi calon pegawai Deplu, beberapa rekan seangkatannyalah yang memberitahukan beliau keberadaan ujian tersebut. Ibu Fauziah, Pak Husein Bahfein (atau Bahrein entah lupa…) dan beberapa lainnya kini telah pensiun dengan puncak karir sebagai diplomat minimal minister counselor alih-alih staf pembantu non-diplomat kedutaan bagian komunikasi seperti bapak.

Ironi kehidupan kembali harus diterima dengan penuh kesabaran oleh Bapak. Di tahun 1985 ada pengumuman ujian kesempatan terakhir bagi seluruh mahasiswa yang belum mengikuti ujian, sayangnya saat itu bapak sedang bertugas di KKBRI Riyadh, sebagai orang yang diutus pertama kali untuk menyiapkan instalasi komunikasi bagi KBRI Riyadh yang dibuka setengah tahun kemudian. Alhasil, status kepegawaiannya sekedar lulusan SMA, dan mustahil untuk mendapat status diplomat.

Nasib itu tidak lantas membuat dedikasinya dalam mengabdi negara surut. Saya adalah saksi mata, bagaimana totalitas seorang abdi negara dalam mengemban tugas kenegaraan, tak peduli betapa rendahnya status beliau. Kesadarannya atas peran kecil tapi signifikan membuat beliau dikenal sebagai sosok pekerja yang handal, bertanggungjawab, jujur, dan berani. Ayahku yang mengajarkan keberanian. Adalah Ayahku yang mengajarakan keberanian! Ayahku yang mengajarkan pentingnya memiliki nurani, dan kemauan untuk memperjuangkan kebenaran!

Deplu juga punya arti penting bagi keluarga besar kami….atas arahan Bapak, banyak keluarga yang kemudian memutuskan untuk ikut bekerja di Deplu…sampai saat ini 2 orang pamanku masih aktif di Deplu, Ibuku masih tiga tahun lagi menatap masa pensiunnya, Uwaku sudah lebih dulu pensiun, satu pamanku, dan tiga kerabat lainnya adalah localstaf di sejumlah perwakilan RI. Deplu mengangkat derajat keluarga besar kami, itu mungkin kata yang dapat menyimpulkan seberapa besar arti Deplu bagi keluarga besar kami.

Maka adalah wajar, ketika Mang Budi juga berharap banyak atas kelulusanku dan berdoa semoga Saya bisa masuk Deplu, saat kemarin kluarga besar mengadakan acara syukuran atas penugasan beliau ke Yordania.

Pengalaman menikmati hidup sebagai ‘anak’ KBRI juga banyak mempengaruhi impian itu. Adalah kenikmatan yang Allah berikan dan sampai saat ini sangat saya syukuri ketika diberi kesempatan untuk mengunjungi Negeri-negeri -Nya, bertemu dengan makhluk-makhlukNYA dari bangsa lain. Membuktikan FirmanNYA bahwa manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling mengenal, saling memahami dan menyadari tugas pengabdian hanya untuk-Nya. Menikmati kesucian, Haramain, dan MEsir yang eksotis, sungguh kesempatan yang langka.

Impian itu tidak pernah menjadi impianku seorang, tapi impian seorang ayah, dan impian keluarga besar. Semoga Allah memberi kekuatan berupa kerja keras, kesabaran, ketabahan, hingga di akhir SAng Pemilik Ketetapan terketuk hati-NYa untuk menetapkan bahwa Umar Badarsyah ibnu Wihardja dapat menggapai cita-citanya. Amin

Film Ayat-ayat Cinta

Saya belum menonton film ini…well saya ralat…sudah sebenarnya tapi hanya  ‘kuat’ 19 menit saja…bukan karena filmnya ngehang…atau karena baterei laptop kawan saya tiba-tiba mati…wah ketawan nih nonton downloadan…hidup HAKI ..eh….
Lebih karena kecewa…..
Saya tidak tahu respon publik atas film ini seperti apa…
Hanya saja saya menduga…bagi kawan-kawan yang pernah merasakan atmosfir masisir dengan latar geografis mesir, budaya masyarakat Cairo dan budaya masisir sendiri pasti kecewa…beberapa hal teknis lain juga mengecewakan…saya tidak berbicara tentang kulitas gambar…untuk hal ini bisa dikategorikan sangat baik…MAri kita ulas sama2

FIlm ini terlalu cepat untuk dibuat….dia minim referensi, kurang matang…sudah saatnya dunia perfilman kita berbasis riset terutama ketika berupaya mengangkat tema yang ‘berat’. Kekayaan novel ayat-ayat cinta tidak hanya teredusir dari  alur pembabakan yang terpangkas, hal ini masih wajar kalau kita mencari pembanding semacam Harry Potter dan Lord of the RIng tetapi juga nilai-nilai yang ingin diangkat juga terkikis.

Sebelum membahas nilai-nilai itu beberapa commen teknis yang ingin saya utarakan:
1. SEtting tempat…bisa jadi India adalah pilihan rasional secara finansial untuk memproduksi film ini, dan sekiranya Saya tidak pernah ke mesir pasti akan fine2 saja. Tapi Mesir bukan India, masyarakat Mesir bukan masyarakat India…meski banyak kemiripan tetapi berbeda…Kabar baiknya konsumen nga semuanya pernah ke Mesir. Struktur apartemen…di MEsir jarang ada flat yang bersekat seperti di sini…umumnya mereka memiliki 2 ruang tengah dan kamar tanpa ada sekat kalaupun ada tidak tertutup sempurna. Flat yang ditempati fahri dan kawan-kawan pada film lebih mirip kontrakan di Indonesia. Suasana daerah yang dipakai juga kurang sesuai meski perbedaannya hanya sedikit, tempatnya kurang padat penduduk, bentuk flatnya masih lebih renggang antar satu bangunan dengan lainnya. Cairo kota padat penduduk…Saya memang belum pernah ke wilayah tempat fahri dalam settingan cerita, tapi kalau perbadingan lainnya seperti daerah Sayyida Jenab, kemudian daerah sekitar masjid Amru bin ash, trus hay asyir…settingnya masih kurang menghadirkan suasana mesir.

2. Pemeran fahri lumayan baik…bahkan aksen ‘arab Mesirnya cukup terasa tinggal body languagenya yang kurang…di Mesir (seluruh jazirah Arab bahkan hanya berbeda derajat gerakannya saja) anggukan, gelengan kepala, dan tangan kerap kali ikut ‘bicara’, tapi Maria paraaaaaaah boro-boro body languagenya…ngomong arabnya aja masih kalah sama balita mesir…(yaaa iyaaa lah)

3. Aisha…berhubung sya hanya nonton selama 19 menit nga terlalu tahu aktingnya gimana…kalau adegan di metro adalah standarnya, maka paraaaaaahhhhh…SEingat Saya Aisha tidak meninggi suaranya, di film bahkan berteriak! Kelembutan Aisha teredusir dalam film kalau begitu…Ini yang saya katakan produser kurang riset…ORang Arab, Mesir adalah orang-orang yang ekstrem…….kau bisa menemukan orang-orang yang sangat keras kepala sekaligus orang-orang yang sangat lembut…percekcokan antara dua karakter yang berseberangan secara ekstrem inilah yang ada dalam novel dan gagal dihadirkan dalam film. SAya tidak menonton adegan itu sampai habis… untuk melihat perubahannya karena saya tidak ingin kecewa terlalu jauh. Dalam benak saya yang terjadi selanjutnya seperti ini….oh sebelumnya tokoh fahri ketika mengucap sholli ‘alannabiy kurang terasa tastenya…penkanna aksennya kurang dan intonasinya tidak sebagaimana kami mengucap sholli ‘alannabiy, dan reaksi pendengar juga kurang, sumpah orang-orang Mesir yang sedang dalam puncak kemarahannya untuk sesaat bisa berubah 180 derajat hanya untuk sekedar menjawab shalawat, untuk kemudian memulai kembali argumentasi keras kepala khas mereka. Idealnya saat argumentasi mereka ditaklukkan dan mereka melihat kebenaran, mereka berubah menjaid sangat lembut dan penuh hormat…yang sekali lagi saya tidak tahu bagaimana kejadiannya dalam film. Oh ya tambah lagi Maria adalah keturunan Turki Palestine, Saya tidak tahu watak orang
Turki tetapi Palestine, di Dunia Arab merkea punya pandangan terhadap
masing-masing ciri khas orang di negara Arba tetangganya, ORang-Orang
Mesir di kenal sebagai diplomat ulung (secara negatif bahkan dianggap pelanggar janji licin, ada singkatan terkenal untuk memperolok orang MEsir: IBM= Insya Allah, Bukroh, Ma’lisy…contohnya kalau kita pergi ke bengkel untuk memperbaiki mobil dan berharap selesai segara maka di hari pertama mereka akan mengatakan Insya Allah dua hari lagi selesai, nah di hari yang dijanjikan kita datang dia akan bilang bukroh=besok, dan diakhir cerita dia akan bilang ma’lisy=maaf! Tentunya ini hanya stigma tidak menggambarkan orang Mesir secara keseluruhan), Orang-orang Palestine dikenal
sebagai orang arab paling cerdas dan baik hati, orang-orang Yaman
dikenal sebagai pedagang handal, orang-orang Saudi dikenal sebagai penjamu yang baik dst..dst…Maria adalah simbol kelembutan khas orang berdarah Palestine, sangat merusak citra jika ditamplkan dengan sosok yang mudah meninggi suaranya.

3. Pakaian akhwat Indonesia di Mesir….Saya nga tau apa perwakilan masisir akan mengajukan somasi. Mahasiswa Indonesia di Mesir tidak berhijab ‘ala sebagian orang-orang mesir dengan jilbab gantung…mereka berjilbab lebar, rapi seperti akhwat2 kita di kampus. Itu tahun 1995 sd 1999 dan saya yakin sampai saat ini masih. MOdel jilbab gaul mungkin dulu dipake sama sebagian kecil akhwat2 dari filipina. Indonesia dan Malaysia jilbab lebar dan rapi, Thailand Patani bahkan sebagaian bercadar.  PErgaulan masyarakat masisir pun terjaga….percampuran laki-laki perempuan jarang terjadi….pada banyak forum resmi selalu ada tempat terpisah…SAya masih inget waktu jadi perwakilan SEkolah Indonesia Cairo pada Muktamar PPMI Mesir di NAsr City…duduknya di pisah.  Umumnya para akhwat jalan berkelompok, paling sedikit berdua ke mana pun mereka pergi.
Dalam 19 menit itu ada adegan ketika fahri berbicara dengan akhwat…jaraknya terlalu dekat…Masisir tidak seperti itu…klo anak2 SIC sih iyaaa kita kan sekuler liberalistik terbiasa dengan model pergaulan ala  anak2 KBRI. ……..

Oh kabar bagusnya kata produser film yang beredar di dunia maya itu versi Raw masih mentah belum diedit sound dan macem-macemnya…semoga filmnya lebih baik…kalau benar demikian mungkin saya berniat untuk memecahkan rekor seumur hidup belum pernah ke bioskop….let see…berarti 24 tahun masih perawan, belum pernah nonton ke bioskop…sekali waktu hampir-hampir pas HArry Potter 2 Tayang udah niat bener2 ampe dateng ke BIntaro Plasa bareng Isna adikku…eh kita udah ketinggalan jadwal…ya suy balik deh…Is it worthed to watch? Need comment from  whose already watch the well edited movie.

Untuk pertanyaan di atas ternyata sudah terjawab. It is not worthed! Hehheheh…aku dapat pembanding dari Ust. Syarwat LC di Era muslim, coba kawan2 cek di sini http://www.eramuslim.com/ustadz/fqk/8301223809-film-ayat-ayat-cinta-lebih-berbahaya-film-maksiat.htm

lagian ust. Syarwat ternyata juga mantan Masisir dan pendapatnya ternyata mutasawiyaaani ma’a ullii…hehehe…Di Mesir ada juga mitos, kalau kau sudah minum dari sungai Nil kau besar kemungkinan akan kembali…ini sekedar menggambarkan betapa orang-orang yang pernah ke sana akan memendam rindu dendam yang teramat sangat atas Mars di Bumi ini (El-Qohirah). Kalau aku punya dan mungkin mahasiswa Indonesia di Mesir punya jurus jitu untuk membuat orang Mesir terpesona dengan kita…ini sangat mujarab, di banyak kesempatanjual beli kau sangat mungkin dapat diskon khusus, sama halnya kalau kau menebak tim sepakbola kesukaan supir taksi yang sedang membawamu…katakan seperti ini…’indi kalimatin: Anduunesia ruuhi wa masri ‘albi (Saya punya dua kalimat : Indonesia ruhku dan Mesir hatiku…) gahahahahha…karena ia diucapkan dalam bahasa Arab, kesan yang ditangkap sangat luar biasa…selamat mencoba!

Owh orang Mesir juga suka menobongkan diri bangsa mereka. Ini dikarenakan mereka menyadari sebagai bangsa yang tertua , dan termasuk paling dulu mengenal tulisan. Kemudian letak geografis mereka yang teramat strategis di jantung peradaban dunia…kesombongan itu mereka ungkapkan dalam kalimat : MAsri ummu ddunya (Mesir Ibu dari dunia)…eh dan dasar anak2 mahasiswa Indonesia Mesir mereka nambahinkelakar begini, wa ‘arafta abuha? Abuha Anduneesia.. (dan kamu tau bapaknya? Bapaknya Indonesia!) gahahhaha….yang ini pasti ngebuat orang Mesir mesem…dan sejujurnya kalau merenung sejenak saja, sang pengucap pasti sadar, reputasi bangsanya saat ini kurang bisa dibanggakan!….. :)

I Love Indonesia

Salam

Pidato yang Tertunda!

Aku (mohon maaf klo pembaca terganggu dengan inkonsistensi penggunaan kata ganti aku dan saya, ini dikarenakan penulis belum bisa memutuskan mana yang lebih tepat digunakan terutama untuk kepentingan menghadirkan keterikatan emosi pembaca terhadap tulisan) punya beberapa ritual, dua sebenarnya. Khas seorang melankolik, eh entah apa orang dengan tipe yang sama sampai memiliki ritual?
Pertama adalah mengunjungi sahabat yang jasadnya kini terbarring dalam kedamaian, dan semoga ruhnya pun dalam belaian kasih sayang Munkar dan Nakir, berikut dengan taman-taman yang lapang berbunga harum dan berbuah ranum, ya Kuntum Ayu Arini terbaring ditemani kuntum-kuntum bunga yang indah atas kebaikan hatinya dan amalan baiknya. 23 Juli, adalah hari kelahirannya, yang dulu selalu dibanggakannya karena bertepatan dengan hari anak nasional. Tahun lalu ada sedikit kesengajaan untuk tidak hadir di sampingnya khawatir menjadi bid’ah, meski sungguh aku tidak pernah menganggapnya sebagai ibadah karena prinsipnya jelas, untuk ibadah segala sesuatunya dilarang kecuali yang diperintahkan.
Ritual yang kedua adalah menghadiri acara wisuda di balairung. Untuk yang ini sudah dua kali termasuk kesempatan kemarin aku tak hadir, lebih karena situasi ketimbang keinginan untuk hadir.
Motivasi, adalah alasan utama mengapa aku meritualkan untuk hadir dalam acara wisuda. Untuk diketahui pembaca budiman, meski aku yakin sebagian pembaca adalah orang-orang yang sudh tahu fakta bahwa sampai detik tulisan ini dibuat, aku masih harus berkutat dengan dunia kampus, dan doakan semoga semester ini bisa segera diwisuda. Kehadiranku dalam setiap acara wisuda kerap menghadirkan motivasi untuk bisa seperti mereka-wisudawan-untuk bisa berbagi kebahagiaan, membuat kedua orang tua bangga, menitikkan air mata kebahagiaan mereka, dan itu bagiku adalah kebahagiaan tiada tara.
Sayangnya, selalu, dalam setiap kesempatan menghadiri wisuda ada yang hilang… kurang lebih tepatnya. Momen itu sedemikian agung, sedemikian berharga untuk dilewatkan begitu saja… tanpa kesan…. tanpa ruh padanya. Bayangkan , ada ribuan wisudawan, ribuan famili yang hadir, adik-adik mahasiswa baru yang juga hadir, para guru besar, para dekan, jajaran rektorat, tokoh-tokoh terkemuka, hadir dalam acara , panggung mulia khusus untuk para pemenang…..para wisudawan.
Sesuatu yang hilang yang saya maksud adalah pesan. Bukan pesan biasa, tapi pesan wisudawan. Tidak hanya sekedar ucapan terima kasih yang pun kerapkali terkatakan tanpa ruh, tanpa darah pada kata, tanpa emosi yang tepat dalam intonasi yang menyentuh. Tidak pernah saya bermaksud untuk menantang keabsahan para wisudawan yang ditunjuk untuk menyampaikan pidato mewakili rekan-rekan lainnya, tidak. Saya yakin penunjukkan didasarkan pada kualitas, IPK tertinggi, cum laude,  lulusan tercepat, atau minimal normal dan mungkin, meski bukan yang utama…keaktifan berorganisasi. Namun, tetap saja, sebanyak kehadiran saya pada kesempatan wisuda, selalu - dalam pandangan saya - para perwakilan yang pernah ada gagal dalam menangkap kekhidmatan suasan, memainkan emosi yang ada, dan gagal menangkap peluang untuk menyampaikan pesan berharga.
Maka, sejak menyadari hal ini, saya selalu bermimpi….untuk suatu hari bisa berdiri dan menyampaikan pidato mewakili wisudawan yang ada…dan kau teman pasti mulai menyadari mengapa judul psotingan kali ini adalah pidato yang tertunda. Ya…karena dia sangat mungkin bukan sekedar tertunda…tapi tak pernah nyata…meski asa kecil berharap kelak ia tersampaikan walau bukan dengan lisan ini, terkatakan oleh lisan yang lain atau setidaknya terwakili oleh semangat yang sama….
Sekedar menekankan, ini pendapat saya pribadi…bahkan bisa jadi apa yang saya tuliskan tidak juga menemui ekspektasi yang saya sendiri angankan. Setidaknya kira-kira ini yang hendak kuperdengarkan…..

Waktunya telah tiba…berdiri persis di belakang podium tunggal di sudut kiri depan jajaran dekan dan rektor di atas panggung balairung. Tiap langkah yang terayun bagitu berat…seolah membuat jarak 12 meter menuju panggung adalah lintasan marathon panjang sepanjang usia pendidikan di kampus. fffffhhhhhhhhhhhhppppphhuuuuussssss…bunyi nafas yang dihembuskan, dan…dengan perlahan pandangan menyisir menatap para wisudawan, para orang tua , adik-adik maba dalam hening dengan tatapan penuh arti…

"Sebelum saya memulai pidato izinkan sya check suara dan kemudian menyampaikan dua permohonan….kepada rekan-rekan maba 2008 yang duduk paling ujung kiri dan kanan di masing-masing seksi (A, B, C, D) sekiranya sahabat mendapatkan suara saya terdengar dengan jelas harap angkat tangan…terima kasih".

"Permohonan pertama, saya tujukan kepada rekan-rekan wisudawan…podium ini sayangnya hanya satu karena kalau kepantasan lah yang menjadi ukuran untuk bisa berdiri di sini…maka tiap-tiap insan yang bertoga di hadapan saya …jauh lebih pantas ketimbang sosok yang saat ini berdiri di sini…Saya bukan mahasiswa dengan IPK terbaik di antara rekan-rekan, bahkan lulus pun harus dengan menggunakan ‘jatah’ waktu tambahan….saya bahkan mutlak bukanlah yang terbaik dari kategori yang lainnya…prestasi? maka di depan saya banyak pribadi yang telah mengharumkan nama UI tidak hanya pada tingkat nasional,bahkan internasional…organisasi? maka di antara rekan-rekan ada para ketua BEM, para aktivis yang jauh lebih terjaga integritasnya dari saya…dalam taburan bintang  ini saya hanyalah bintang tungggal yang paling redup kerlipnya di antara ribuan kilau bintang yang terang benderang….sayangnya panggung ini cuma satu, dan sialnya…. rekan-rekan harus menerima fakta bahwa sayalah yang ditunjuk untuk mewakili rekan-rekan sekalian hehehh ;p….untuk itu permohonan saya yang pertama, kepada rekan-rekan untuk mengikhlaskan diri dan saya meminta kebesaran hati teman-teman untuk mengizinkan saya mewakili rekan-rekan sekalian menyampaikan pidato wisudawan…sekiranya apa yang saya sampaikan nantinya tidak berkenan di hati teman-teman maka saya minta maaf, sekiranya itu pun tidak cukup bagi kawan-kawan maka saya persilahkan teman-teman untuk menuntut qishas…asal jangan menuntutnya kelak diakherat, repot urusannya, kita selesaikan di sini saja selagi kita masih hidup"

"PErmohonan yang kedua, Saya tujukan kepada seluruh hadirin dan panitia penyelenggara, untuk mengikhlaskan diri bersabar mendengarkan pidato yang bahkan belum mulai ini..karena ini panggung kami… momen untuk kami dan merupakan dosa besar bagi saya sekiranya kesempatan ini berlalu begitu saja….tanpa makna….tanpa kesan…"

"Bismillahirrahmaanirrahimmm….Assalamualaikum warahmatullahi wa barakaatuh…
alhamdulillah….alh…hamdu…lillah….nahmaduhu wa nasta’inuhu wa nastagfiruh, wa na’udzubillahi min suruuri anfusina wa min sayyiaati a’amaalina man yahdihillaahu falaa mudhillalah wa man yudhlilhu falaa hadiylah…asyhadu an laa ilaha illallah wa asyhaduanna muhammadarrasulullah…Robbi syrohli shodri wa yassirli amri wahlul uqdatan min lisaaani yafkohu qouli…yahqohu qowli. ‘amma ba’du….

Adalah kedurhakaan yang luar biasa jika kiranya…..pada hari ini….segala puji tidak dialamatkan kepada Allah SWT, yang atas karunia, nikmat, rahmat, dan kehendak-Nya, satu lagi momen kesuksesan dapat kita rasakan dan nikmati..maka Alhamdulillah atas DIa Yang Rahman, Rahim, yang namanya boleh disebut dalam tiap arti Yang Maha dan Kemuliaan. Atas segala nikmat-Nya, terutama atas nikmat untuk dapat menyelesaikan studi di UI tercinta ini…semoga kita termasuk orang-orang yang bersyukur.

to be continued mulu!…….

again to be continued

Rusdihardjo Bersalah!

Koran Tempo, Jumat, 8 Februari 2008 memuat berita dihalaman A6 dengan judul Bekas Kepala Kepolisian RI Didakwa Korupsi. Isi berita memuat gambaran singkat gugatan Jaksa Penuntut umum dua hari sebelum berita itu diturunkan. Rusdihardjo didakwa melakukan korupsi dengan modus penerpan tarif ganda pengurusan dokumen keimigrasian. Sejumlah uang dikorupsi melalu margin antara pagu atas yang diberlakukan dan pagu bawah yang dilaporkan kepada negara.

Koran Tempo mengutip jaksa menyebutkan Rusdihardjo menerima Rp 1,6 miliar sampai dengan Rp. 2,2 miliar dari pungutan liar tersebut.

Hal yang membuat Saya tergelitik untuk membuat tulisan pertama yang berbau hukum-meski jujur ada perasaan minder karena ‘merasa’ bukan wilayah spesifik kompetensi penulis untuk mengulas masalah pidana- tetapi Saya seorang calon yuris yang ketika terjun di masyarakat nanti tidak ditanya apa PK Saya( Program kekhususan, penulis mengambil program kekhususan Hukum Transnasional). Dengan banyaknya permasalahan hukum di dalam masyarakat, ekpektasi terhadap seorang SArjana Hukum adalah setidaknya mengetahui bagaimana permasalahan hukum itu. Kembali kepada alasan membuat tulisan terkait masalah ini. Hal yang menggugah Saya untuk menulis adalah tanggapan Pengacara yang mewakili Rusdihardjo yaitu Junimart Girsang. Dakwaan yang diajukan jaksa dinyatakannya tidak beralasan karena kliennya tidak dapat dipersalahkan dalam posisinya yang sekedar menjalankan kebijakan pejabat Duta Besar Malaysia sebelumnya. Menurut rencananya hal ini akan diajukan dalam eksepsi yang akan dibacakan pekan depan dalam persidangan selanjutnya.

Saya akan membahas kenapa ini sedemikian menggelitik tetapi perlu waktu untuk memaparkannya dengan baik disertai argumentasi hukum yang benar. SEtidaknya untuk saat ini Saya ingin mengatakan begini, bego bener sih  (maaf terlalu vulgar nanti bakalan dihapus kok tenang aja setalah reserach kecil-kecilannya selesai) yang jadi dubes setelah si pejabat kan dia, emang nga bisa ketika di amenjabat kebijakan itu dicabut. Fakta bahwa kebijakan itu tidak dicabut ketika dia memiliki kewenangan untuk mencabutnya dengan sendirinya menjadi bukti nayat dan logis kalau kemudian dikatakan Bapak Rusdihardjo terlibat dalam kasus korupsi tersebut, dan bersalah sebagai pelaku maupun turut pelaku. Ngaku-ngaku nga bersalah, inlah kalau jadi praktisi dengan prinsip membela yang bayar (wah yang ini udha kelewatan dan menjurus pada pencemaran nama baik, dan penuh praduga karena minim informasi terkait alat bukti yang diajukan terlebih ketiak belum ada argumentasi hukum yang secara telak membuktikan bahwa Rusdihardjo bersalah, ini jelas melanggar prinsip presumption of guilty, praduga bersalah, eh tidak bersalah, bahwa seseorang baru dinayatakan bersalah ketika hukum menyatakannya demikian)….Nah sebagai gambaran dalam penyusunan argumentasi nanti saya akan coba mengurai pasal yang dikenakan, untuk membuktikan perbuatan pelaku dan posisinya sebagai pelaku butuh tinjauan Hukum Administrasi Negara, tapi come on nga perlu rumit untuk ngejelasin dia itu bisa ngubah kebijakan tapi karena dapet duit ya dijalaninlah kebijakan yang korup…(bersambung, semoga penyakit malasku tidak membuat tulisan ini baru sebulan kemudian rampung, terlebih masih ada unsur fitnah di sini, untuk sementara mohon maaf sebesar-besarnya saya ucapkan kepada Bapak Junimart Girsang, I hope u are not one of us though: big family of FHUI)

:)

Peace

Sebuah Pertobatan dan Pemahaman Akidah yang Lebih Baik

Bismillahirrahmaanirrahiim,

PErnah dalam suatu waktu Saya menghadiri perayaan Natal bersama teman-teman, meskipun Saya datang telat yangmemang di sengaja untuk menghindari mengikuti ibadat ritual tetapi tetap saja itu salah secara akidah, dan itu fatal.

KEputusan menghadiri acara tersbut murni sebagai bentuk penghargaan, penghormatan atas sahabat-sahabat Saya. Namun, sekali lagi itu adalah keliru. Bukan, bukan maksud Saya keliru untuk menghormati dan menghargai sahabat-sahabat Nasrani-ku bukan, dan jika engkau, pembaca budiman, termasuk sahabat yang Saya maksud, maka izinkan Saya dengan sepenuh dan setulus hati untuk mengatakan bahwa Saya mencintai rekan-rekan dan tetap menghargai dan menghormati teman-teman sekalian.

Tulisan di bawah ini mungkin akan membantu teman-teman untuk memahami alasannya. Izinkan Saya sebelumnya menggambarkan bahwa apa yang telah saya lakukan melanggar prinsip akidah (untuk sederhananya bisa saya katakan sebagai prinsip dasar konse Islam tentang tuhan) Islam. Bahwa mengembankan sikap toleransi dan menghargai pemeluk umat lain tidak berarti membenarkan saya untuk mengorbankan akidah saya. Orang sibuk berbicara multikulturalisme dengan menghancurkan eksklusivitas beragama, menganggap semua agama adalah sama. Maka pertanyaan Saya, untuk apa beragama? Untuk apa Saya meyakini dan memilih agama Islam sebagai agama yang benar ketika Saya pada saat yang bersamaan juga menyatakan bahwa kristen, yahudi dan agama lainnya juga benar?

Akan lebih benar jika Saya meyakini bahwa Islam itu agama yang benar dan menghormati keputusan teman-teman untuk meyakini agamanya sebagai agama yang benar karena toh Islam memiliki konsep yang paling konkret atas ini, dan sejarah Islam menunjukkan betapa kehidupan beragama di bawah kekuasaan Islam adalah yang paling toleran dan paling sedikit mengalirkan darah, sebagaimana para ahli sejarah mengakuinya tidak hanya di zaman SAlahuddin, peradaban Arabesque (akulturasi budaya Eropa-Islam di semenanjung Balkan di zaman Turki usmani Fatimiyah), bahkan sejak zaman Rasulullah SAW.

Sebagaimana itu akan lebih benar bagi para sahabat untuk meyakini agamanya sebagai agama yang paling benar menurut teman-teman tetapi tetap bersaudara dengan Saya dalam kehidupan sehari-hari.

BISAKAH SUATU FATWA DICABUT?

ditulis oleh Adian Husaini, dikutip dari http://www.insistnet.com/content/view/159/1/

Setelah sekian lama mencari, akhirnya, di Perpustakaan Dewan Da’wah Islamiyah Indonesia, saya menemukan tulisan Prof. Hamka yang berjudul ”Bisakah Suatu Fatwa Dicabut?” Tulisan ini pernah dimuat di rubrik “Dari Hati ke Hati” Majalah Panji Masyarakat No 324 tahun 1981. Di tengah hiruk pikuk dan carut-marutnya wacana kerukunan umat beragama dan meruyaknya pemikiran dan aliran sesat dalam berbagai wujudnya yang menggiurkan, ada baiknya kita menyimak tulisan Hamka tersebut.

Melalui tulisan inilah, Hamka mencetuskan perasaannya yang terdalam tentang makna kerukunan umat beragama yang cenderung disalahartikan. Untuk itulah, beliau tetap mempertahankan fatwa Haramnya Merayakan Natal Bersama dan lebih memilih mundur sebagai ketua umum MUI, daripada harus mencabut fatwa tersebut. Marilah kita ikuti tulisan Hamka berikut ini:

Motto: Biarkanlah saya menyebut apa yang terasa;

Kemudian tuan bebas memberi saya nama dengan apa yang tuan sukai;

            Saya adalah pemberi maaf, dan perangai saya adalah mudah, tidak sulit.

            Cuma rasa hati sanubari itu tidaklah dapat saya menjualnya;

            Katakanlah kepadaku, demi Tuhan.

            Adakah rasa hati sanubari itu bisa dijual?

            Sudah agak lama dibicarakan di kalangan masyarakat tentang apa yang dinamai Natal Bersama. Pemerintah Republik Indonesia di bawah pimpinan Presiden Suharto sejak mulai berdirinya Majelis Ulama Indonesia, selalu menganjurkan agar di Indonesia terdapat Kerukunan Hidup Beragama. Dan kepada Presiden Suharto sendiri pada tanggal 21 September 1975 penulis ”dari hati ke hati” ini, yang baru 20 hari menjadi Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia teah menerangkan di hadapan kurang lebih 30 orang Utusan Ulama yang hadir, bahwa Islam mempunyai konsepsi yang terang dan jelas di dalam surat Al-Mumtahinah ayat 7 dan 8, bahwa tidak dilarang oleh Al-Qur’an orang Islam itu hidup rukun dan damai dengan pemeluk agama lain. Orang Islam disuruh berlaku adil dan hidup rukun dengan mereka asal saja mereka itu tidak memerangi kita dan mendesak kita untuk keluar dari tanah air kita sendiri.

Artinya sejak MUI berdiri dia telah menerima anjuran pemerintah tentang kerukunan hidup beragama. Dan ini telah berjalan baik. Tetapi belum ada patokan dan batas-batas tentang mana yang akan kita rukunkan dan mana yang akan kita damaikan.

      Maka timbullah soal Natal, lebih jelas lagi tentang ”Natal Bersama”.

      Apa arti bersama?

      Bolehkah orang Islam bersama orang Kristen merayakan Hari Natal? Demi kerukunan hidup beragama? Dan tentu ada orang yang ingin bertanya: Bolehkah orang Kristen-demi kerukunan hidup beragama merayakan pula hari Raya ’Idul Fitri dan Idul ’Adha dengan ummat Islam?

Kalau direnungi lebih dalam, hari Natal bagi orang Kristen ialah memperingati dan memuliakan kelahiran Yesus Kristus yang menurut kepercayaan Kristen Yesus itu adalah Tuhan dan anak Tuhan. Dia adalah SATU dari TIGA TUHAN atau TRINITAS. Bila orang Islam turut sama-sama merayakannya, bukanlah berarti meyakini pula bahwa Yesus itu adalah Tuhan, atau satu dalam yang bertiga, atau tiga oknum dalam satu.

Ketika orang merayakan Natal, dilakukanlah beberapa upacara (rituil) yang di dalam bahasa Islam disebut ibadat. Membakar lilin, memakan roti yang dianggap bahwa ketika itu roti tersebut adalah daging Yesus, dan meminum air yang dianggap sebagai darah Yesus.

Ketika terjadi Munas MUI di Cipayung 1979 utusan MUI dari Ujung Pandang membawa berita bahwa kaum Kristen di sana menjelaskan kepada pengikut-pengikutnya bahwa Peringatan Natal adalah ibadat bagi mereka. Sudah lama hal ini diperbincangkan dalam kalangan kaum Muslimin. Tidak ada orang yang menyadari kehidupan beragama yang tidak meragukan halalnya orang Islam turut bersama orang Kristen menghadiri hari Natal, meskipun tidak ada pula orang Islam yang menolak anjuran kerukunan hidup beragama, dan orang Kristen pun belum pernah pergi bersama ber-Hari Raya ’Idul Fitri dan ’Idul Adha ke tanah lapang atau mesjid. Dengan demikian bukanlah berarti bahwa mereka (orang Kristen) tidak hidup rukun dengan orang Islam.

Sebab itu dapatlah kita fahami bahwa Menteri-menteri Agama sejak Indonesia Merdeka menyuruhkan saja pegawai-pegawai Tinggi yang beragama Kristen menghadiri secara resmi hari-hari peribadatan Kristen, Natalnya, Paskahnya dan lain-lain, pegawai tinggi Katolik untuk menghadiri hari Ibadat Katolik, dan pegawai tinggi Protestant untuk menghadiri hari ibadat Protestant, dan demikian pula dengan pegawai tinggi dari kalangan yang beragama Budha. Dan dengan demikian sekali-kali tidak berkurang rukunnya kita hidup beragama.

Sejak Juli 1975 MUI berdiri dianjurkan kerukunan hidup beragama. Pihak Islam menerima anjuran itu dengan baik. Tetapi terus terang kita katakan bahwa bagaimana batas-batas kerukunan itu, belum lagi kita perkatakan secara konkrit!

Maka terjadilah di Jawa Timur, adanya larangan dari Kanwil P dan K menyiarkan satu karangan yang menerangkan ’aqidah orang Islam, bahwa Allah itu tidak beranak dan tidak diperanakkan. Arti ayat Lam yalid walam yuulad ini dilarang beredar, dengan alasan bahwa karangan ini berisi satu ayat yang bertentangan dengan kerukunan hidup beragama.

Sekarang keluar FATWA dari ulama-ulama, bukan dari Majelis Ulama saja, melainkan disetujui juga oleh wakil-wakil dari Muhammadiyah, Nahdlatul Ulama, dan perkumpulan-perkumpulan Islam lainnya, bahkan juga dari Majelis Da’wah Islam (yang berafiliasi dengan Golkar) dalam pertemuan itu timbul kesatuan pendapat bahwa orang Islam yang turut dalam perayaan Natal itu adalah mencampuradukkan ibadat, menyetujui aqidah Kristen, menyatakan Nabi Isa Almasih ’alaihissalam sebagai Tuhan.

Dan di dalam logika tentunya sudah dapat dipahami, bahwa hadir di sana ialah menyatakan persetujuan pada ’amalan iu, apatah lagi jika turut pula membakar lilin, sebagai yang mereka bakar, atau makan roti yang menurut `aqidah Kristen jadi daging Yesus, dan air yang diminum menjadi darah Yesus! Maka orang Islam yang menghadirinya itu oleh ayat: (Barangsiapa menyatakan persetujuan dengan mereka, termasuklah dia dalam golongan mereka) (Al-Maidah: 51).

Apakah konklusi hukum dari yang demikian itu, kalau bukan haram?

Maka bertindaklah ”Komisi fatwa, dari Majelis Ulama Indonesia, salah seorang ketua Al Fadhil H.Syukuri Gazali merumuskan pendapat itu dan dapatlah kesimpulan bahwa turut merayakan Hari Hatal adalah Haram!”

Masih lunak. Karena kalau diperhatikan isi ayat Al-Maidah 51 itu, bukan lagi haram, bahkan kafir.

Oleh karena saat ini benar-benar mengenai aqidah, tidaklah soal ini didiamkan. Tanggung jawab sebagai ulama menyebabkan para ulama merasa berdosa kalau hal ini didiamkan saja. Yth Menteri Agama mengetahui hal ini. Beliau meminta supaya hasil fatwa dikirim kepada beliau untuk menjadi pegangan. Tetapi karena memandang fatwa ini adalah menyinggung tanggung jawab Majelis Ulama seluruhnya, keputusan tersebut dikirim kepada cabang-cabang tingkat I (Propinsi) seluruh Indonesia.

Di sinilah timbul kesalahpahaman diantara Pimpinan Majelis Ulama dengan Yth Menteri Agama. Mengapa fatwa itu telah tersiar luas, padahal mestinya disampaikan kepada Menteri Agama saja.

Surat-surat kabar harian Jakarta banyak minta agar merekapun diberi peluang turut menyiarkan Keputusan itu seluas-luasnya, karena ini adalah kepentingan ummat seumumnya. MUI belum memberikan. Tetapi ada surat kabar mendapat naskah keputusan itu, lalu menyiarkannya. Tetapi besoknya setelah keputusan itu termuat, datanglah berita dari kami, yaitu saya sendri dan Dirjen Bimas Islam dan Urusan Haji (H. Burhani Cokrohandoko) dalam kedudukannya sebagai sekretaris Majelis Ulama menarik kembali fatwa itu dari peredaran, sekali lagi dari peredaran.

Di sinilah terjadi suatu reaksi yang hebat. Bertubi-tubi datang pertanyaan kepada diri saya sendiri, sebagai Ketua Umum dari Majelis Ulama Indonesia, mengapa fatwa itu dicabut? Apakah saya begitu lemah, kehilangan harga pribadi, ataukah saya tidak setuju dengan keputusan itu? Apakah bagi saya halal merayakan Hari Natal atau hari-hari besar agama-agama lain, jika dirayakan bersama oleh umat Islam?

Di sini saya menjelaskan pendapat saya, bahwa fatwa Majelis Ulama itu tidaklah hilang kebenaran dan kesah-annya, meskipun dia dicabut dari peredaran.

Dan saya sendiri pribadi telah pernah menulis di dalam Majalah yang saya pimpin ”Panji Masyarakat” menyatakan haram bagi orang Islam turut merayakan Hari Natal bersama orang Kristen, lama sebelum fatwa yang dicabut dari peredaran itu. Dan di penutup seruan itu saya ajak Kaum Muslimin supaya bersikap tenang menghadapi soal, demi menjaga kerukunan hidup beragama dan menjaga kemurnian aqidah!

Tiga harian memuat seruan saya itu, yaitu Berita Buana, Suara Karya dan Kompas. Kepada ketiganya saya ucapkan terimakasih.

Dengan sabar dan tenang mari kita tilik soal ini. Di dalam membentuk suatu negara, kita selalu menuju yang lebih baik. Bertambah kita melangkah akan kelihatan di mana kekurangan yang harus kita perbaiki. Kita musti melihat soal dari keseluruhan. Dalam mendirikan negara ini kita telah membuat dua gagasan yang baik dan diantara keduanya ada perkaitan.

1. Kerukunan Hidup Beragama

Semua menyetujui gagasan ini. Pihak Islam menyetujui karena Islam sendiri mempunyai konsep yang konkrit dalam hal ini. Tetapi bagaimana pelaksanaannya? Apakah demi kerukunan orang Islam harus menghadiri Hari-hari besar agama lain dan turut beribadat, yaitu ibadat, tapi ibadat yang dikarang-karang sendiri. Orang disuruh rukun, tapi imannya jadi goncang, sebab perbuatannya itu bertentangan dengan ajaran agamanya sendiri. Orang yang lemah imannya takut akan menyebut apa yang terasa dihatinya. Misalnya yang terjadi di Surabaya itu, buku yang menulis ”Allah tidak beranak dan tidak diperanakkan”. Buku itu dilarang beredar! Sebab merusak kerukunan hidup beragama.

Bagaimana kalau orang Kristen mengatakan Tuhan Yesus? Bolehkah orang Islam menolak dan membantah itu? Itupun tentu dilarang juga, sebab merusak kerukunan hidup beragama! Bahkan kaum Islam tadi dapat pula dituduh tidak berpartisipasi dalam pembangunan!

2. Majelis Ulama Indonesia.

Majelis Ulama Indonesia sudah 6 tahun berdiri. Menjadi hiasan bibir di seluruh Indonesia tentang pentingnya kerjasama Umara dan ulama. Dikatakanlah bahwa tanggung jawab ulama untuk kebahagiaan tanah air sama dengan tanggung jawab umara. Ulama adalah ahli-ahli agama dan umara pemegang-pemegang kekuasaan pemerintah.

Sekarang timbul fatwa ulama itu tentang boleh atau tidaknya Natal bersama yang di dalamnya haris ikut orang-orang Islam. Karena ingat akan tugasnya, disamping melihat kepada pemerintah, diminta atau tidak diminta, maka samalah pendapat semua ulama itu bahwa turut bersama dalam perayaan hari Natal itu adalah haram hukumnya atau Kaum Muslimin.

Maka keluarlah keterangan mencabut beredarnya fatwa itu.

Saya menyatakan pendirian yang tegas: ”Melarang peredaran fatwa itu adalah hak bagi pemerintah. Sebab dia berkuasa! Namun kekuatan fatwa tidaklah luntur, lantaran larangan beredar. Setiap orang Islam yang memegang agamanya dengan konsekwen, asal dia tahu, dia wajib menuruti fatwa itu. Bertemulah di sini hal yang belum kita fikirkan selama ini, yaitu perlainan penilaian ulama dengan umara, dalam hal yang mengenai aqidah. Umara merasa punya kekuasaan menyuruh cabut peredaran itu.

Ulama merasa dia bertanggung jawab sebagai ahli-ahli agama meneruskan isi fatwanya.

Dan ulama pun sangat sadar bahwa dia tidak mempunyai kuasa buat menantang pencabutan peredaran itu. Sebagai warga negara dia akan patuh kepada kekuasaan pemerintah. Tetapi kekuasaan pemerintah pun belumlah mempunyai hak memaksa orang pergi menghadiri upacara agama lain yang harus dikerjakan bersama. Karena ini adalah kerukunan yang dipaksakan.

Penulis teringat ketika Majelis Ulama Indonesia mulai didirikan (Juli 1975) seorang muballigh muda H. Hasyim Adnan bertanya: ”Apa sanksinya kalau pemerintah nanti tidak mau menjalankan suatu keputusan dari Majelis Ulama?”

Saya jawab: ”Tidak ada sanksi yang dapat kita pergunakan. Kita sebagai ulama hanya berkewajiban melakukan amar ma’ruf nahi munkar. Kewajiban kita di hadapan Allah hanya menyampaikan dengan jujur apa yang kita yakini. Ulama menerima waris dari Nabi-nabi. Sebab itu kita warisi juga dari Nabi-nabi itu penderitaan dan penghinaan. Sanksi orang yang menolak kebenaran yang kita ketengahkan bukanlah dari kita. Kita ini hanya manusia yang lemah. Yang memegang sanksi adalah Allah Ta’ala sendiri.”

Namun demikian sebagai kita uraikan di atas tadi, kita adalah menuju yang lebih sempurna. Kita masih belum terlambat buat menyelidiki, apakah kedudukan umara dan ulama itu masih diikat oleh rasa ukhuwah Islamiyah? Tegak dalam hak dan kewajiban masing-masing? Atau Ulama hanya lebai-lebai yang dipanggil datang, disuruh pergi, ditegah berhenti? Dan kalau rapat akan ditutup dia bisa dipanggil: ”Kiyahi! Baca do’a”.

Begitu juga boleh! Mari kita cari ulama-ulama yang semacam itu: ”mudah-mudahan masih ada!”

Di permulaan karangan ini saya salinkan sebuah syair Arab yang maksudnya begini: ”Biarkanlah saya menyebut apa yang terasa di hati. Setelah yang terasa itu saya sebut, tuan bebas memberikan beberapa penilaian.”

Cuma satu yang saya tidak bisa, yaitu membenam saja suara hati nurani, diam saja dalam 1000 bahasa, sehingga pendirian yang sejati tidak dapat disebut. Ini bisa jadi penyakit! Inilah barangkali yang disebut ungkapan ”Makan hati berulam jantung.” Hati sendiri yang dimakan, jantung sendiri dijadikan ulam.

Rasa hati sanubari itu tidak dapat dijual dan tidak dapat dibeli. Apa yang terasa di hati, itulah yang dikeluarkan, dengan tidak mengurangi rasa hormat kepada barangsiapa yang patut dihormati. (HAMKA).

Demikianlah cetusan hati Buya Hamka, yang diungkapkannya lebih dari seperempat abad lalu. Tak lama setelah mundur sebagai Ketua Umum MUI, Buya Hamka pun menghadap Allah SWT. Mudah-mudahan kita dapat mengambil hikmah dari tulisan dan sikap beliau. Amin.

Allahumma inni dzollamtu nafsi faghfirli

Yaaa Rabb terimalah pertaubatan ku

Asyhadu allaa ilaaha illallah wa asyhadu anna muhammadarrasulullah

Bis Kuning dan Alternatif Metode Advokasi

Dalam satu setengah bulan terakhir menjabat di kepengurusan DPM UI bersyukur setidaknya ada sesuatu yang bisa dihasilkan. Awalnya dari upaya DPM mengambil inisiatif membuka ruang aspirasi teman-teman mahasiswa mengenai pelayanan bis kuning. Alhamdulillah banyak masukan dari teman-teman baik melalui call center (021 99838943) maupun via email ketua saat itu (nga mau tulis namanya males banget hehehehhe). Kemudian suatu hari terbetik ide untuk mensarikannya secara tertulis dan memberikannya kepada pihak rektorat, terutama dalam hal ini direktur fasilitas dan umum yaitu Pak Doni. Tambahan lagi surat tersebut sengaja kami lampirkan kepada semua pihak yang menurut kami terkait, terutama Rektor dan Ketua MWA. Dalam benak kami dengan dilampirkannya surat ini, maka permasalahan akan diketahui oleh mereka dan memberikan tekanan psikologis yang besar untuk segera ditindaklanjuti…dan ternyata….berhasil.
Pihak Rektorat segera merespon dengan baik. Sedikit di luar harapan kami siihh, tadinya kami berharap surat itu ng terlalu digubris untuk kemudian melakukan manuver-manuver liar huahahhah (niatan agak jelek waktu itu). Namun, selama semangat perbaikan itu ada maka tujuan perbaikan pelayanan itulah yang paling utama bagi kami.
Pihak rektorat segera melakukan sidak dan ternyata yang meraka dapatkan benar bahwa sistem pengawasan dan kedisiplinan supir bis kuning kurang (lha emangnya pengawasnya ngapain aja), mereka juga mengungkapkan beberapa permaslaahan terutama jumlah armada , dan beberapa permasalahan lain, solusi dan upaya-upaya perbaikan yang sudah dilakukan terutama perbaikan armada bus kuning, dan penambahan bus yang dioperasikan.
Dari respon yang terkesan begitu bersemangat kami mendapatkan kesimpulan tentang cara efektif mengadvokasi kepentingan mahasiswa, melalui surat yang juga ditembuskan tersebut. Terlepas dari jiwa besar bagian fasilitas dan umum dan kesediaan mereka mendengarkan keluhan, tekanan surat itu memegang peranan penting karena masalah ini juga disupervisi langsung oleh Rektor, bahkan Ketua MWA juga menawarkan bantuan, armada pengawas (waduh pak Pur kenapa nga sekalian armada blue birdnya juga dihibahkan) pelaksanaan sistem pengoperasian baru. Kedua hal ini benar-benar kami saksikan karena ketika kami menyambangi dan berbicara mengenai bis kuning di kantor rektorat Pak Doni mendapatkan telepon dari keduanya.
Namun, kita lihat nanti implementasinya, meski waktu itu kami tidak lagi menjabat setidaknya kami masih bisa melakukan pengawasan selaku mahasiswa begitupun dengan rekan-rekan lainnya, Kita bisa sama-sama melaporkan hasil pengawasan kepada DPM yang baru untuk segera menindaklanjuti penyimpangan yang ada.
Berikut adalah surat yang kami layangkan kepada Direktur Fasilitas dan Umum Rektorat UI

Depok, 11 Desember 2007

Nomor :
99/DPM-UI/XII/2007

Perihal :
Permohonan Penyikapan Permasalahan Bus Kuning

Kepada Yth.

Dr. Donanta Dhaneswara, MSi

Direktur Umum dan Fasilitas

Universitas Indonesia

Di tempat

Assalamualaikum Wr, Wb

Kami mendoakan semoga Bapak senantiasa dalam
lindungan Allah SWT, dan diberikan kesehatan serta kekuatan sehingga dapat
menjalankan amanah dengan optimal.

Melalui jaring aspirasi yang kami lakukan terhadap
mahasiswa UI, supir bus kuning dan karyawan UI mengenai permasalahan bus
kuning, kami, Dewan Perwakilan Mahasiswa UI merangkum pelbagai masukan sebagai
berikut:

  1. Bus
    Kuning yang ada tidak seluruhnya beroperasi. Padahal dengan jumlah
    mahasiswa yang tiap tahunnya mengalami peningkatan, daya tampung armada
    yang dioperasikan tidak lagi mencukupi. Di lapangan, terutama di pagi dan
    sore hari bus kuning selalu overload,
    hingga banyak mahasiswa yang menggantung di pintu-pintu bus. Hal ini
    berpotensi mengakibatkan kecelakaan, jatuh dari bus.
  2. Jadwal
    dan tingkat kedisiplinan menjadi masalah klasik bus kuning. Dari hasil
    wawancara kami dengan beberapa supir dan mahasiswa didapatkan beberapa
    hal: Pertama, jadwal pemberangkatan bus kuning tidak jelas. Kedua, tidak
    ada pengawasan operasional keberangkatan bus kuning yang tegas. Ketiga,
    terdapat beberapa supir bus kuning yang tidak disiplin dalam menjalankan
    tugasnya. Akibatnya para pengguna bus kuning kerap bingung untuk
    menentukan kapan harus datang ke halte. Bahkan tidak jarang mereka harus
    menunggu antara 10 menit hingga 1 jam.
  3. Waktu
    antara pukul 12.00 hingga 14.00 serta selepas maghrib seringkali menjadi periode
    terpanjang masa menunggu bus kuning. Padahal, sebagian besar kuliah di
    siang hari memiliki jadwal masuk
    antara 12.30 hingga 13.30. Ini menyebabkan banyak mahasiswa yang
    bergantung pada bus kuning kerap dirugikan karena sering terlambat datang
    ke lokasi perkuliahan. Adapun waktu selepas maghrib merupakan jadwal
    pulang baik dari perkuliahan maupun selepas melakukan kegiatan. Banyak
    mahasiswa terutama mahasiswi yang mengeluhkan durasi pemberangkatan dan
    durasi tunggu bus kuning yang jarang dan lama. Ini juga berimbas pada
    faktor keamanan dan perlindungan bagi mereka.
  4. Tidak
    hanya lama ditunggu, kedatangan bus kuning dengan jalur yang sama juga
    kerap kali berdempetan. Ditambah dengan ketidakpastian jadwal, ini
    berpotensi mengurangi optimalisasi daya tampung bus kuning, juga
    memperpanjang durasi tunggu bagi mahasiswa yang terlambat mengejar
    pemberangkatan yang pertama. Durasi berhentinya bus kuning di tiap halte
    juga tidak terstandarisasi. Banyak mahasiswa yang sering tertinggal,
    berlari-lari dan terlambat mencapai lokasi perkuliahan.
  5. Mahasiswa
    Fasilkom menyampaikan aspirasi khusus, dengan meminta ketersediaan bus
    kuning yang melalui fakultas mereka. Mereka tidak meminta bus kuning untuk
    harus setiap waktu melewati Fasilkom, paling tidak pada pagi hari dan jam
    sibuk ada bus yang melewati jalur ke Fasilkom. Terlebih saat ini banyak
    mahasiswa dari Fasilkom yang tinggal di asrama UI.
    Selain itu juga ada aspirasi mengenai
    ketersediaan bus kuning melalui Perpustakaan Pusat UI. Dengan mempermudah
    akses menuju perpustakaan diharapkan terjadi peningkatan jumlah
    pengunjung.
  6. Bus
    kuning juga diharapkan untuk melewati Pusgiwa UI. Hal ini bertujuan untuk
    memberikan dorongan dan kelancaran kepada mahasiswa untuk beraktifitas.
    Khusus untuk waktu-waktu sore selepas maghrib, keberadaan bus kuning
    sangat penting demi memastikan keselamatan mahasiswa dari gangguan
    keamanan yang tidak diinginkan.

Selain itu kami juga mendapatkan masukan dari
mahasiswa dan supir bus kuning bahwa:

  1. Tingkat
    apresiasi mahasiswa terhadap supir bus kuning minim, banyak mahasiwa yang
    untuk sekedar mengucapkan terima kasih saja enggan.
  2. Banyak
    mahasiswa yang membandel dengan berdiri di pintu bus. Ini tidak hanya
    menyebabkan arus keluar masuk penumpang terganggu tetapi juga berpotensi
    menyebabkan kecelakaan.
  3. Mahasiswa
    sering enggan untuk mengoptimalkan daya tampung bus kuning dengan merapat
    ke tengah bus atas alasan ketidaknyamanan. Hal ini mengakibatkan banyak
    mahasiswa lainnya yang terzolimi karena harus menunggu lebih lama lagi
    untuk naik bus selanjutnya.

Atas masukan-masukan tersebut, kami, DPM UI,
memohon pihak Rektorat untuk segera :

1. Melakukan
revitalisasi penjadwalan operasi bus kuning. Meliputi jadwal pemberangkatan bus
kuning yang jelas, standarisasi jarak dan durasi pemberangkatan antar bus
kuning, standarisasi durasi berhenti bus kuning di tiap halte, standarisasi
kecepatan tempuh yang disesuaikan dengan faktor jarak dan keamanan jalan.

2. Melakukan
pengawasan yang tegas terhadap operasional bus kuning demi memastikan sistem
operasional berjalan dengan baik.

3. Menambah
jumlah bus kuning yang beroperasi.

4. Memprioritaskan
solusi atas permasalahan bus kuning.

Demikian surat permohonan penyikapan masalah bus
kuning ini kami sampaikan. Atas perhatian dan kerja sama Bapak, kami ucapkan
terima kasih. Wassalam.


Hormat Kami,

DEWAN PERWAKILAN MAHASISWA

UNIVERSITAS INDONESIA
PERIODE 2007

KETUA UMUM

ttd

PIPIN SOPIAN

Tembusan :

  1. Rektor
    UI
  2. Wakil
    Rektor II
  3. Direktur
    Kemahasiswaan
  4. Ketua MWA
    UI
  5. MWA UM
  6. Ketua
    BEM UI
  7. Ketua
    Lembaga Eksekutif seluruh Fakultas
  8. Ketua
    Lembaga Legislatif seluruh Fakultas
  9. Arsip

Schuster’s Madrid

Ola Madrididstas!

I just wanna give comments about Madrid of Bend Schuster’s era. There are some keys why Madrid become a better side in this season campaign an all thanks to Schuster’s decission. Although the last two weaks showed that Madrid is weakening! beaten 2-1 by Mallorca, and won two other games unsurely. But they played effectively as Nistelrooy stated.

Still, Madrid is not just solid now. They play decent games, and more3 artistic then the Era of Capello’s. They are stronger now! But Capello put some basic of the rise of Madrid, at least some of his decisions gave Schuster ideas, two I guest, they are:

1. Putting Sergio Ramos on the right wing. Ramos is string as central defender, but it waste his furious attacking capability, and Capello didn’t care how late he was to realize this, so when Salgado was out for injuries Ramos was plotted on the attacking-defending right side.

2. Letting Robinho dancing. Capello is not the kind of coach would letting his player dance a lot. Passes, determination, team play, and solid defence are on the books. Too much dancing? Peter Pan leaves Roma and Madrid for the cause. But last season, in the last several games, Raobinho had more chances and room to show what games he could play. The rise of Beckham dan Robinho was key poin of Madrid victory.

Schuster also make some good decissions, thanks to new players especially Sneijder and Pepe, He then find out what Madrid could be as it is now. Here are some of Schuster’s touches:

1. Baptista, last chance best chance! Schuster’s decission to give Baptista couple chances proven effective and positive for both Madrid and Baptista himself. He plays solid games in the middle showing his strong determination, reclaming his name ‘Beast’ to the world. The combination of Diarra, Sneijder and Batista creating solid Madrid, they helped the defensive squad far better then before. Baptista giving what Guti couldn’t perform : tackling and defens. With Sneijder’s visions Madrid don’t need to worry where assists and distributions would come.

2. Sneijder signing is priceful one. Sneijder as I mentioned before has visions and solid in defense, good tacklings. But his not just giving Madrid solid plays but also great passes. Do Madrid miss Beckham? him personally may be yes, but they don’t misses any crosses, set pieces or free kick takers, because this little dutchman give almost everything mentioned. But sneijder is like two sided knife for Madrid, He still has phsicological problems. The last three games showed how Sneijder still couldn’t handle the pressures. When Sneijder failed to perform, Madrid won’t perform! But Mr.schuster wont bother with the issue since he still has a great player to be played: Guti!

3. Baptista’s placement on the left flank gives Madrid Samba line with Marcelinho often overlappings and Robinho’s furious dancings. Madrid have both strong offensive line from both flanks. Samba lefty’s and Sergio Ramos explosive overlaps from the right side, plus Sneijder. But the left side still have something to improve. Marcelinho is slightly poor in defense. But las four games he shows that he is improving now.

4. Pepe Cannavaro on the heart of defense. Simply strong. Not to add an always superb performer under the goal: King Cassilas!

5. Tripple R, razing and rattling contenders, Robinho, Ruudtje and Raul have good chemisties between them. Raul often play as a wall giving wall passes, inviting one two passes and always showing his a game maker like vision. Never need to always make goals. Raul always play well, he is hungry also this season.

Hope the best for MAdrid.