Fighting Dreamer

Harapan pribadi atas blog ini:

Archive for June, 2008


Generasi Juara

Sontekan
kecil dari Torres yang unggul dalam perebutan bola atas Philip Lahm, mampu
mengecoh Jens Lehman yang datang menghadang, bola pun bergulir masuk ke sudut
kanan gawang Jerman. Gol tersebut merupakan satu-satunya gol yang tercipta
dalam pertandingan puncak final EURO 2008. Gol itu berarti gol kemenangan bagi
Spanyol yang untuk kedua kalinya sejak 44 tahun silam merengkuh Piala Henry
Delauney.

Sebelum
final dilaksanakan banyak pengamat menilai Jerman memiliki peluang lebih besar
untuk merengkuh juara. Ini didasarkan pada catatan sejarah negeri itu yang
telah tiga kali keluar sebagai juara EURO, sebaliknya Spanyol punya predikat
sebagai langganan calon juara, atau tim yang selalu digadang-gadang untuk
menjadi juara karena banyaknya talenta yang dimiliki dan mutu permainan yang
disuguhkan. Namun talenta yang berlimpah dan tehnik permainan yang tinggi sebelum
kemarin tidak pernah mendapatkan hasil baik di tingkatan Eropa apalagi dunia.

Jika
sejarah Tim nasional senior yang menjadi acuan maka memang itu faktanya. Perlu 44 tahun bagi tim nasional senior
untuk dapat merasakan juara kembali. Sejarah yang berbeda akan kita lihat jika
kita menilik prestasi tim nasional Spanyol di level junior, baik U-20, U-19,
U-17, maupun U-16, para Spaniards muda dikenal sebagai para juara. Pada
kejuaraan dunia U-20 Spanyol 3 kali masuk final dan sekali juara di tahun 1999
di Nigeria. Pada kejuaraan dunia U-17 Spanyol hanya tiga kali menjadi finalis
tanpa sekalipun juara. Di level Eropa mereka adalah Raja. EUFA European U-21
Football Championship Spanyol empat kali masuk final dengan dua kali menjadi
juara. Untuk kejuaraan U-19 mereka 7 kali menjadi juara hanya terpaut dua kali
di bawah Inggris yang menjadi tim nasional yang paling banyak merebut juara
pada kejuaraan tingkat Eropa tersebut. Pada kejuaraan UEFA U-17 yang selalu
diadakan setahun sebelum kejuaraan dunia pada umur yang sama mereka 12 kali
masuk final dan 8 kali keluar sebagai juara.

Darah-darah juara

Kecuali
Marcos Senna yang merupakan pemain naturalisasi asal Brazil, Dani Guiza dan
Kiper ketiga Andreas Palop maka para pemain Spanyol yang kini menjadi kampiun
EURO 2008 adalah para juara di kejuaraan umur usia yang masing-masing mereka
ikuti. Sebelum merasakan gelar juara di level senior mereka telah ‘terbiasa’
mencicipi gelar juara.

Sebut
saja Fernando Torres dan Andres Iniesta yang keduanya bersama-sama memenangkan
kejuaraan U-16(2001) dan U-19(2002)  Eropa. Di tahun 2004 David Silva, Sergio
Ramos, Raul Albiol dan Ruben De La Red adalah para punggawa yang berhasil meraik
juara U-19 Euro Champion. Pepe Reina menikmati status juara U-16 di tahun 2001
bersama Torres dan Iniesta. Daftar ini masih panjang dengan keberhasilan Cesc
Fabregas menjadi juara Euro U-17 dan setahun setelahnya bersama David Silva
hanya kalah dari Brazil di Final, Fabregas mencatatkan prestasi pribadi dengan
menjadi pemain terbaik dan pencetak gol terbanyak.

Para
darah juara ini dipimpin oleh juara dunia U-20 tahun 1999 di Nigeria, Saint
Cassilas. Bersama Marchena dan Xavi, Spanyol sebagaimana dalam kejuaraan Euro
2008 menjadi tim tak terkalahkan hingga merebut juara. Xavi dan Marchena punya
catatan lain dengan meraih perak di olimpiade 2000 bersama Puyol dan
Capdevilla. Adapun Cassilas selain merasakan dua kali trofi liga Champion Eropa
bersama Real Madrid, juga merupakan juara Eropa U-16.

 
Mitos,
dan tangan dingin Aragones

Para darah juara ini diramu dan diracik oleh tangan
dingin kakek-kakek bernama Luis Aragones. Mantan bomber Atletico Madrid yang
kini berusia 70 tahun itu berupaya memanfaatkan mental juara para Spaniard muda
yang sebagian besar dari mereka telah lama saling mengenal dan bekerja sama
untuk menjajal peruntungan di tengah kesialan dan kutukan yang melanda timnas
Spanyol di level senior.

Bisa jadi keputusan untuk tidak memanggil dua punggawa
Real Madrid Raul Gonzales dan Guti Hernandez didasarkan alasan untuk memutus
mata rantai kesialan yang menimpa tim Spanyol. Meski keduanya juga memiliki
sejarah mengesankan di level junior tapi kegagalan yang panjang di level senior
membuktikan keduanya tak mampu mendobrak jeratan kutukan seputar El Matador.
Raul dan Guti adalah ikon era di mana perselisihan internal antara Castillas,
Catalan dan pemain-pemain Basque masih tinggi. Aragones berkepentingan untuk
memutus rantai itu. Berbekal para pemain yang telah lama saling mengenal, ia
mencoba membuka babak baru.

Tidak hanya itu Aragones meletakkan beban untuk memimpin
generasi baru Spanyol kepada Iker Cassilas alih-alih kepada Carles Puyol yang
lebih senior dan selalu menjadi wakil kapten di masa Raul yang memimpin.
Pilihan untuk menaruh beban pada Kiper terbaik Piala Dunia 1999 Nigeria
sekaligus sang jawara tidaklah salah. Simak penampilan matang Cassilas pada
kejuaraan ini. Ia tidak segan-segan berteriak menyemangati atau bahkan memaki
rekan-rekannya yang lebih senior sekalipun. Kemampuannya yang mumpuni dengan
hanya kebobolan 2 gol itupun hanya di babak penyisihan. 

Baja-baja yang terbaik tidak akan menjadi pedang yang
tajam tanpa penanganan yang baik. Aragones adalah pandai besi yang mumpuni dalam
meramu permainan dan memotivasi para pemainnya. Tidak hanya itu, kesiapan
mental dan kemampuan para awak La Furia Roja telah lebih dulu dipersiapkannya
dengan melakukan serangkaian pertandingan persahabatan melawan tim-tim juara,
hasilnya Perancis dan Italia digebuk dengan skor yang sama 1-0.

Semua bahan untuk juara kini telah digenggaman. Aragones
punya belati dan perisai ampuh untuk mengoyak serta menangkal kesialan dan
pelbagai mitos yang menyelubungi prestasi timnas senior Spanyol. Tim jawara
muda Spanyol tampil konsisten bahkan impresif sejak pertama kali menginjak
rumput Euro. Russia ditaklukkan 4-1, Swedia 2-1, dan Yunani juara tahun
sebelumnya dipaksa pulang tanpa hasil dengan skor 2-0.

Di perempat final Spanyol harus menghadapi mitos pertama.
Tidak pernah lolos dari perempat final dalam kurun waktu 24 tahun terakhir,
baik di kejuaraan Euro maupun Dunia. Tantangan yang dihadapi semakin besar
tatkala lawan yang harus dihadapi adalah tak lain sang juara dunia Itali.
Permainan tetap tidak berubah dengan skor 0-0 meski dua kali perpanjangan waktu
telah dilakukan. Mitos selanjutnya, Penalti! Pada kejuaraan dunia 2002 di Korea
Selatan mereka terhenti di perempat final melalui drama adu penalty melawan
tuan rumah, padahal mereka baru saja lolos melalui drama yang sama di
perdelapan final melawan Irlandia. Cassilas adalah saksi sejarah dan pelaku
dalam dua drama adu penalti tersebut. Situasi ini merupakan ujian mental
pertama dan bahkan mungkin yang paling menentukan dalam perjalanan tim Spanyol
menjadi juara. Cassilas sukses memblok dua algojo Italia, Danielle De Rossi dan
Di Natalie menjadi pecundang. Spanyol lolos setelah gerbong terakhir dan
termuda dari La Furia Roja, Cesc Fabregas sukses menyarangkan gol, skor 4-2
untuk Spanyol.

Di Semifinal mereka telah lebih dulu ditunggu oleh Rusia
yang telah mengalahkan Belanda yang tampil impresif di penyisihan grup. Rusia
yang akan mereka hadapi adalah tim yang berbeda. Kali ini yang akan dihadapi
bukan beruang tidur, tapi beruang yang telah menunjukkan taring dan cakarnya
yang salah satunya mencuat pada diri Andre Arshavin. Tidak hanya itu, para
banteng merah dihadapi dengan persoalan lain: mitos warna kuning!

Pada beberapa kesempatan melaju ke perempat final Spanyol
gagal melangkah ke fase berikutnya, dan itu terjadi ketika mereka mengenakan
kostum away berwarna kuning. Kekhawatiran untuk ditaklukkan pun semakin nyata
saat 45 menit pertandingan berjalan tidak sesuai harapan, dan skor masih
kacamata. Di sini peran Aragones dalam memainkan bidak caturnya sedemikian
penting. Dua pergantian untuk dua gol pelengkap kemenangan. Setelah Xavi
berhasil memasukkan gol pertama bagi Spanyol, Aragones memasukkan Fabregas.
Pemain Arsenal ini kemudian memberikan dua assist kepada rekannya David Silva
dan pemain pengganti Dani Guiza, skor 3-0 dan untuk kedua kalinya dalam 24
tahun setelah kalah di final oleh Perancisnya Michel Platini, Spanyol masuk
final.

Tantangan di final tidak sembarangan, lawan yang mereka
hadapi adalah tim yang paling banyak memenangi kejuaraan Euro (3 kali), Jerman!
Tidak hanya itu , Jerman dikenal sebagai tim spesialis turnamen dan bermental
juara.Statistik pertandingan juga menunjukkan grafik produktivitas Jerman
sebelum masuk ke final meningkat, 2 kali lipat dari Spanyol yang hanya mencetak
3 gol pasca babak penyisihan, selain itu Jerman bermain dengan sangat efisien.
Meski menjalani pertandingan semifinal tidak dengan baik, para pengamat dan
dunia masih yakin Jerman lebih berpeluang untuk merebut juara. Masalah sejarah
mental juara ini menjadi tantangan psikologis yang harus di hadapi oleh para
matador muda.

Peluit kick off telah dibunyikan, Jerman mengambil
inisiatif penyerangan, dan beberapa kali tusukan Jerman dari sisi kanan
pertahanan Spanyol melalui Philip Lahm, Podolski dan Schweinsteger membahayakan
Spanyol. Namun secara perlahan tapi pasti Spanyol memainkan umpan-umpan pendek
cepat dan kreatif untuk mengambil alih permainan. Setelah dua kali mengancam
gawang Jens Lehman, sebuah umpan terobosan Xavi mengundang adu lari dan duel
fisik Fernando Torres dan Philip Lahm, keputusan Jens Lehman untuk maju
menghadang menjadi keputusan pahit yang akan menandai akhir karirnya di timnas
Jerman karena sontekan pelan Fernando Torres yang unggul dalam kecepatan dan
tenaga menjadikan skor 1-0 bagi Spanyol, skor yang tidak berubah hingga peluit
akhir pertandingan dibunyikan. Spanyol akhirnya juara!

Keberhasilan Spanyol mengoyak seluruh mitos dan
kesialan yang menimpa selama 44 tahun akan menjadi modal besar mereka ke depan.
Kini para jawara muda telah merasakan rasanya menjadi juara sesungguhnya,
sekaligus menandai era generasi juara, gerbong yang dipimpin lokomotif Saint
Cassilas dan dikawal oleh Cesc Fabregas, daftar gerbong ini masih panjang,
setelah mereka masih ada Raul Garcia, Nunez, Diego Capel, Antonio Baragan, Fran
Merida dan Bojan Krkic kita tunggu saja. Bravo La Furia Roja!!!

 

*Penulis adalah pencinta sepak bola dan pengamat timnas Senior dan
Junior Spanyol sejak 1996