Fighting Dreamer

Harapan pribadi atas blog ini:

Archive for May, 2008


Pemilihan Umum antara Demokrasi Politik dan Kesejahteraan

Salus Publica Suprema Lex Esto

-Cicero

Mobil mikrolet nomor 17
jurusan Garut Kota – Wanaraja itu melaju menembus hujan lebat yang turun di
Garut. Meski hujan deras tetapi suara lantang penceramah dari Toa sebuah masjid
kampung yang dilalui terdengar oleh sang supir, kernet yang duduk di samping
sang supir, seorang teman, penulis dan dua orang penumpang lainnya.“ahhh, masing keneh ajengan ge amun tos
jadi pejabat mah ngabangsat (
biarpun kiyai kalau sudah jadi pejabat pasti
jadi bangsat),”ujar sang supir
setengah berteriak. “ lain pajabat,
penjahat I(
bukan pejabat, penjahat),”timpal
sang kernet. Penulis hanya bisa tersenyum, dalam tatapan heran teman yang
kebetulan beretnis Jawa dan sama sekali tidak mengerti bahasa Sunda.

Apa yang diungkapkan
oleh sang supir dan kernet itu pada dasarnya menunjukkan satu hal. Kepercayaan
publik pada pejabat daerah dan sangat mungkin Pemerintah Daerah bahkan mungkin
Pemerintah Pusat, apa pun latar belakang pejabat sebelumnya, teramat rendah.
Mereka lelah dengan proses demokrasi politik bernama Pemilu atau dalam hal ini
Pilkada yang selama ini tidak membawa dampak langsung bagi kehidupan ekonomi
mereka, atau tepatnya kesejahteraan mereka.

Sejatinya keberadaan
Pemilihan Umum (pemilu) termasuk di dalamnya Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada)
adalah ciri dari suatu negara demokrasi. Pemilu menurut teori demokrasi klasik
merupakan suatu “transmission belts of
power”,
rakyat merupakan sumber political authority para wakil rakyat
maupun kepala pemerintahan. Pemilu merupakan proses transformasi itu. Jargon
negara Republik, “ pemerintahan dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat”
diwujudkan dengan pemilu.

John Locke mengungkapkan
bahwa salah satu tujuan didirikannya negara adalah untuk melindungi hak-hak
individu masyarakatnya, dan puncaknya berdirinya suatu negara dimaksudkan untuk
mencapai kesejahteraan bersama. Pengalaman pemilu di Indonesia pasca reformasi,
semenjak Pemilu 1999 dan 2004. Proses transformasi kekuasaan dari rakyat kepada
wakil rakyat untuk kemudian menjalankan fungsi-fungsi negara yang bertujuan
pada upaya mensejahterakan warga negara tidak berjalan sebagaimana yang
diharapkan.

Jika berkaca pada data
kemiskinan, tidak ada peningkatan berarti sejak berakhirnya era Soeharto hingga
kepemimpinan SBY saat ini. Prosentase penduduk miskin bahkan meningkat dari 14%
di akhir era Soeharto hingga paruh akhir kepemimpinan SBY pada kisaran 16.8 %. \jika
ukurannya harga bahan makanan pokok maka terjadi peningkatan yang signifikan.
Secara perlahan tapi pasti subsidi BBM dikurangi, yang berimbas secara langsung
kepada menurunnya tingkat kesejahteraan rakyat. Pendidikan di era reformasi
bukan merupakan hak konstitusional sebagaimana semestinya. Pendidikan merupakan
beban yang mesti ditanggung dan harus memakan korban. Tidak hanya sekali kita
dikejutkan dengan perilaku ibu yang membunuh anaknya dan menghabisi hidupnya
sendiri akibat akumulasi tekanan ekonomi yang tinggi. Tukang gorengan yang
gantung diri. Siswa SD yang gantung diri. Contoh ekstrem memang karena anak
putus sekolah, gizi balita buruk, makan nasi aking adalah fenomena yang biasa
di tengah kedaulatan politik yang selama ini berlangsung.

Tingkat kesejahteraan
yang menurun, dan tekanan hidup yang meningkat diperparah dengan perilaku
korupsi dan penegakan hukum yang menyedihkan. Pemilu di satu sisi merupakan
pesta demokrasi dan sebagaimana diungkapkan di atas merupakan proses
transformasi kedaulatan rakyat. Namun, di sisi lain dia merupakan hajatan yang
banyak membutuhkan dana. Suara-suara kedaulatan rakyat tergadaikan dengan
beras-beras berkedok baksos, upeti preman, jatah 25ribuan untuk para tukang
ojek, handphone gratis, konsesi proyek, konsesi jabatan politik (jabatan lurah
dan camat). Merupakan ’biaya-biaya’ di luar biaya kampanye yang rela
dikeluarkan oleh para calon pejabat publik yang haus kekuasaan. Maka wajar jika
baik calon incumben maupun orang baru pasca terpilih akan berupaya untuk
menanggulangi kerugian yang dideritanya. Perilaku ini di tengah kebebasan
informasi dan media menjadi hal yang hampir setiap hari menemani rakyat dalam
pergulatan akrobatik hidup mereka.

Agaknya demokrasi yang
kita nikmati saat ini baru sekedar demokrasi prosedural. Demokrasi yang sekedar
mengantarkan individu-individu yang besar kemungkinan kemudian, meminjam istilah
sarkastik yang digunakan oleh sang supir bahkan Kiyai pun saat menjadi pejabat
bisa menjadi bangsat!!

Sudah saatnya dan
semestinya kita mengupayakan demokrasi yang sejati yaitu demokrasi yang
mensejahterakan. Sebagaimana apa yang diutarakan oleh Cicero, kepentingan,
kesejahteraan rakyat adalah hukum yang tertinggi.

Viva altermundialista!!

Ayat-ayat Sepatu

"Mar, ukuran sepatu loe berapa sih?" tanya Pak Rahmat Yananda suatu hari (sekitar sebulan yang lalu) entah di hari senin atau rabu,menjelang tiba saatnya untuk berpamitan selepas maghrib dan makan malam dalam pengabdian berbayar (ngajar). Belum sempat aku menjawab, Pak Rahmat menunjukkan sepatu bermerek Reebok, "Nih, coba loe pake!" Aku mencobanya…Kau tahu apa yang ku rasakan… Aku merasakan sensasi nyaman yang  luar biasa pada kedua kakiku. Sepatu Reebok itu tidak hanya begitu pas pada kedua kakiku tapi bantalannya yang tebal dan lembut memberikan sensasi nyaman yang luar biasa…entah, mungkin ini sedikit berlebihan…sudah berapa tahun aku tidak merasakan sensasi kenyamanan bersepatu seperti ini. "pas, waaah enak banget…ini sepatu Bapak? ukurannya 42 juga pak?" …"loe bawa deh Mar." "buat saya pak?" tanyaku seolah tak percaya."Terima kasih pak" aku merasa tak perlu menunggu jawaban Pak Rahmat, itu akan menjadi pencederaan bagi kebaikan beliau dan tanpa menyembunyikan perasaan senang yang tiada tara aku pulang berbekal sepatu dalam kantung plastik.

Kau tidak mungkin mengerti betapa senang dan bersyukurnya aku atas pemberian itu. Sepatunya memang tidak baru tetapi sangat baik dan bagus, terlebih pemberian itu datang di saat yang sangat tepat. Baru dua minggu sebelumnya sepatu ‘terbaru’ku menutup masa hidupnya yang singkat, 2 bulan, umur tersingkat dari sepasang sepatu yang pernah kupakai.  Berada di  bawahnya adalah sepatu  ‘nike2-an’ seharga Rp 50.000,- yang ku beli di emperan  seberang Bintaro plaza satu setengah tahun lalu, umurnya tiga minggu lebih lama sebelum semplak, itu pun setelah sempat di’operasi’ dengan super glue tiga minggu sebelumnya.    

Mungkin yang menggerakkan Pak Rahmat adalah sepatu yang kupakai hari itu. Adidas2an  dan itu milik Andi anak PPSDMS ang. 3, izin meminjamnya sudah dua minggu yang lalu, malam  hari di mana sebelumnya sepatu hitam pemberian kakak iparku wafat, di minggu kedua terakhir latihan basket menjelang kejuaraan Fakultas  Hukum se-Nasional  Pancasila Cup. Penampilannya masih baik untuk standarku, kedua ujungnya memang menampakkan tanda-tanda lepas tapi masih sangat layak untuk dipakai bahkan untuk intensitas tinggi seperti berlari, melompat,  pivot, shuttle atau power run sekalipun. Ya, agaknya Pak Rahmat ketika pulang sempat melihat sepatuku di luar.

Ayat-ayat sepatu? Izinkan aku mengucap segala puji bagi Dia Yang Maha Rahman, Yang Sangat Luas dan tak terhingga kebaikannya, pokoknya Dia Top banget deh…ga ada duanya!!! Untuk kesekian kalinya, Dia menunjukkan kuasa kebaikan yang tidak terduga dalam hidupku. BAri memang luar biasa…9 minggu sebelumnya aku sempat berbuat ‘kesalahan’ dengan mengutarakan keinginanku untuk memiliki sepatu olahraga kepada bundaku sudah cukup lama mengandalkan stok sepatu olahraga adik-adik di asrama
untuk menyelingi pemakaian sepatu kulit pemberian ayah untuk berkuliah
atau sekedar lari pagi..  dan aku menyesal atas  ketidakempatianku itu, dengan dua alasan: semestinya aku lebih pintar menabung tapi keadaan tidak mentoleransi uang donat dan mengajarku untuk habis sekedar biaya makan dan keperluan kuliah terlebih aku sudah terlalu dewasa untuk meminta, kedua Abi dan Ummi pun berjuang dengan tekanan hidup yang lebih dahsyat permintaan dari anak kesayangannya bisa berarti ketulusan untuk menanggung beban yang lebih berat dengan berhutang kepada teman kantor…"nga usah deh bun, nanti aku  aja yang beli, bulan ini insya Allah ada proyek pelatihan." Aku berusaha secepatnya mengangkat opsi-opsi akrobatik ekonomi yang mungkin berkecamuk dalam benak bunda. Memang di minggu itu masih ada proyek pelatihan hukum meski ternyata tidak sesukses yang diharapkan.

DIA bilang begini "Jo, klo loe nolong agama Allah, Allah(GUE) bakalan nolong loe dan menetapkan kaki-kaki loe…" di lain kesempatan DIA bilang "I akan mendatangkan pertolongan dari arah mana yang loe nga kepikiran bakalan datengnya…" Dua pusaka kehidupan ini dan banyak tips2 hidup lainnya dalam Al-Quran Alhamdulillah telah lama menjadi peringan bagiku dalam menjalani hidup ini…

Benar saja…DIA emang gila…luarrr biasa men!Top markotop dah!! kagak ada matinye….tidak lama berselang seminggu kemudian keponakanku Rayhan si Bayi Gorila datang bersama kedua orang tuanya, kakakku Indira dan kakak iparku, suaminya Mas Ilham…Dia datang dengan sepatu olahraga hitam pemberian bosnya seorang ekspatriat berkewarganegaraan Korea.   SEnangnya bukan main, meski  sepatu itu  tidak diperuntukkan  menanggung  beban  kerja yang berat (kematian prematurnya karena sempat kupaksakan untuk latihan basket), tapi cukup layak untuk kegiatan-kegiatan middle apalagi sekedar untuk kuliah, jaminan nga bakalan diusir di kelas-kelas seangker Zakat Wakafnya bu Nunung, atau Hukum Administrasi Daerahnya Pak Nursanto. Maka cerita selanjutnya berjalan sebagaimana ku utarakan di muka.

Tahun 1995, adalah tahun di mana aku mulai menyadari bahwa sepatu merupakan barang yang mahal. Bahwa selama ini sepatu-sepatu baruku selama sebelumnya seharga 1/3 gaji ayahku, terlebih ketika itu aku dan kakakku Farida baru duduk di kelas 6 dan 5, jarak pendidikan dan usia yang hanya dua tahun dalam umuran masa itu, kalau satu mendapat sepatu baru, sebaiknya yang satu harus mendapatkan yang sama, untuk menghindari goresan-goresan mendalam akibat kuku2 yang dihujamkan atau sekedar perang gaduh di rumah. Itu aku sadari saat sedang berbelanja ‘besar-besara’ ke Matahari Cipulir untuk membeli sepatu, jaket kulit. pakaian monyet, dan handuk. Itu bukan kesempatan ritual, tapi ’sakral’ karena ayah baru saja mendapat uang langsam sebagai persiapan untuk menghadapi tugas sebagai staf komunikasi di Kedutaan Besar RI di Cairo dari negara. Sepatu yang dibeli waktu itu, aku masih ingat, sepatu merek nasional "eagle" warna hitam seharga Rp 90.000,- bukan sepatu yang waktu itu aku ingini tapi karena sepatu bermerk Reebok atau Adidas, dan Nike berkisar Rp 200ribuan ke atas, sepatu Eagle ini sangat layak . Kenyataan betapa mahalnya harga sepatu menciptakan tekad untuk sejarang mungkin meminta beli sepatu baru dan berhasil. SEpatu itu tercatat dalam Hall of Fame sepatu terkuat dan terlama yang aku miliki, umurnya lebih dari 2 tahun!Padahal aku memakainya untuk banyak aktivitas luar biasa, dari mulai main benteng, galaksin, sepak bola gaprakan ala SEkolah Indonesia Cairo(SIC) atau sekedar ku bawa berlari menghindari kejaran teman-teman wanitaku yang baru ku usili dengan menaruh kapas beringus bekas mimisanku di atas meja-meja mereka…sepatu yang patriotik! dia melayani tuannya dengan baik.

Ada ikatan emosional yang lebih antara masalah sepatu, aku dan bundaku…semenjak sadar betapa sepatu sedemikian mahal, tidak hanya di Indonesia tetapi juga di Mesir, aku selalu beli sepatu-sepatu aspal  (aseli tapi palsu) itupun aku beli di Bulak Dakrur (daerah pasar) yang terkenal murah-murah dan aku berlangganan dengan satu toko, jadi untuk mendapat kortingan harga adalah masalah sepele terlebih Abu Abdullah penjaga toko penggemar berat Al-Ahli (tim sepak bola ibu kota) aku tinggal mengibulinya dengan memuji kehebatan pemain-pemain Ahli, semisal Husam dan Ibrahim Hassan serta Walid Salahuddin, padahal sejatinya aku dulu pendukung Zamalek (tim satu kota). Suatu hari bundaku sempat memuncak kekesalannya kepada seorang kakakku yang ditinggal di Indonesia, keluargaku banyak mengeluarkan uang untuk keperluannya dan tiga yang lainnya (hanya aku Teh Ida dan adikku Fatimah yang ikut ke Cairo). Paling banyak untuk keperluan kuliahnya. Ibuku sampe berujar sambil menitikkan airmatanya ," dia itu ga tau klo  mamah ngirit-ngirit di sini untuk ngirimin uang, untuk beliin sepatu kamu aja dientar-entar, padahal mama nahan malu sama ibu2 KBRI  ngeliat kamu make sepatu udah sampe begitu…","hahaha…nga papa kok mah, perasaan tmen umar asik-asik  aja..sepatunya juga masih bisa dipake kok!"

Hidup ini penuh dengan ironi dan ketidakadilan….tahukah Anda klo icon Nike semisal Michael Jordan atau Tiger Woods bisa di bayar jutaan dollar sementara buruh pabrik Nike dibayar di bawah UMR dan dipaksa bekerja lebih dari 12 jam di ruangan pengap tak berpendingin ruangan???Apparel lain seperti Adidas dan Reebok pun membayar para pesepakbola ternama , pemain basket, atau tenis dengan angka2 fantastis. HAKI yang membuat harga-harga sepatu melangit, dan ketamakan banal yang dilanggengkan oleh kapitalisme yang membuat harga sepatu bisa mahal. Kenapa sepatu-sepatu aspal bisa seharga 1/5 sd 1/10 dari yang asli? tinggal bermodal tambahan maksimal 20 ribu rupiah untuk memperkuat jahitan pada sepatu kau akan mendapat jasa yang hampir setimpal dengan yang asli.

Hanya saja…dengan pemberian Reebok kali ini aku menyadari satu hal yang tidak bisa  diberikan oleh sepatu-sepatu aspal: sensasi kenyamanan yang diberikan…..dan tahukah kau apa yang kulakukan setelah mendapatkan pemberian ini?
menangis, menitikkan air mata, karena rasa syukur…aku bisa merasakan kenyamanan bersepatu yang itu sudah hampir pasti tidak dirasakan oleh banyak orang di luar sana…anak-anak ajarku semacam Nurika, Fani, Aldi, Fahmi dan kawan-kawan besar kemungkinan merasa puas dengan sepatu-sepatu mereka, sekedar berpikir untuk memiliki sepatu bermerk Nike, Reebok atau Adidaspun pasti tidak terlintas dalam benak mereka, bagi mereka dan aku sepatu hanya bersifat fungsional untuk menutupi kaki dan layak untuk bersekolah atau kuliah, tak ada prestise.

Ini nikmat kesekian juta kalinya yang DIA berikan…tanyakan padaku apakah dengan ini aku menjadi orang yang bersyukur?

"Maka nikmat Tuhan mana lagikah yang hendak kamu dustakan???"

Allahummaj’alni min al syaakiriin..allahumma amin!

Tanah for Sale

Pengumuman…pengumuman…

Di jual…
Tanah dengan luas 1500  meter2 berikut bangunan rumah 7  x 4 meter
Bersertifikat
lokasi: Cirende, Cisaat-Sukabumi
lokasi cocok untuk Yayasan Pendidikan atau Peristirahatan keluarga besar (villa)
Kawasan berkembang
rencananya akan dilalui proyek jln tol Sukabumi
harga mulai 270 jt
berminat??
Hubungi
Wihardja (pemilik) 0251 552602
Umar (putra pemilik ) 021 98029882