It IS In The Blood
Kalau kau kebetulan bertanya padaku di semester satu, "Mar, klo lulus loe mau kerja di mana? Lawfirm?"…"jawabannya pasti, lawfirm, NO WAY"…"Aku ke Deplu"…Bahkan kalau sekiranya pertanyaan itu Kau ajukan saat ini, maka jawabannya SDA!
Alasan kenapa saya memilih fakultas Hukum UI, adalah impian untuk bisa mengabdi kepada negara di Departemen Luar Negeri. Alasan logis karena banyak hal. Pertama, they need lulusan fakultas Hukum terutama yang menguasai hukum internasional. Kedua, FHUI merupakan yang terbaik untuk hukum internasional, mungkin UNPAD dengan Prof Muchtarnya juga lumayan, tetapi dengan beragam fasilitas yang ada, FHUI simply the best, belum environmentnya, jajaran highly qualified pengajar, and briliant class mates, center of excellences! KEtiga, waktu itu pilihan paling memungkinkan dengan kemungkinan berhasil masuk lebih baik adalah FH, ketimbang Hubungan Internasional, Saya punya firasat kuat. Alhamdulillah Allah memudahkan.
Bukan sebuah kebetulan, saya rasa kenapa pilihan impian itu ada…barangkali sudah hampir seumur hidup Saya diarahkan untuk masuk ke DEPLU. Ayah, aktor utama…yang sering membeirkan semangat, berbagai alasan dari yang paling pragmatis, sampai idealis kenapa mengabdi di DEPLU adalah pilihan yang sempurna.
DAri sisi Ayah, ada alasan yang sangat personal sifatnya untuk menjadikan salah satu dari anaknya untuk bisa masuk Deplu. Ada tiga anak yang dipersiapkannya untuk masuk Deplu, Huesin kakak pertama ku, Yusuf kakak ketiga, dan Aku, yang keenam dari tujuh!
PErjalanan hidup membawa kedua yang pertama menempuh jalan yang berbeda. Kakakku Husein be kini bekerja di perusahaan pengimpor pakaian, sedangkan Yusuf sudah setahun di Departemen Perindustrian kini sedang tugas belajar S2 di Ekonomi Industri Pasca-sarfjana FE UI. Kini harapan pria yang lahir di tahun 1947 itu tinggal tersisa pada puteranya yang sudah menempuh 10 semester kehidupan akademisnya di FHUI.
Semasa aktif bekerja beliau menerima tiga penghargaan sebagai pegawai terbaik oleh tiga Menteri Luar Negeri Yang berbeda dalam kurun masa pengabdian 1973-2000. Dedikasi yang ditunjukkannya berbanding terbalik dengan kenaikan karirnya. Lebih karena ‘pendidikan’, nasib menentukan karirnya harus mentok, meski keputusannya untuk pensiun dini lebih karena alasan ideologis-politis, tapi masalah ‘pendidikan’ ini menjadi sesuatu yang disayangkannya seumur hidup. Tekadnyalah untuk kemudian mengobati hal itu dengan menaruh harapan pada putera-puteranya. Saya akan merasa teramat bangga untuk dapat mengobati perasaan itu!
Di tahun 1970-an, Opa Soeharto ngambek dan menganggap kampus adalah dapur perlawanan bagi rencana jangka panjang pengakaran kekuasaannya maka dibekukanlah seluruh perguruan tinggi. Saat itu , Abi sudah masuk tahun terakhir di fakultas Ekonomi Sosial dan Politik UNAS, dan sedang merampungkan skripsinya, di saat yang bersamaan beliau juga sudah lebih dahulu bekerja di Deparemen Luar Negeri di bagian Kepegawaian, juga mengajar Matematika di salah satu SMA di bilangan Jakarta. Tiga tahun kemudian ada pengumuman ujian negara bagi para mahasiswa yang dahulu terbengkalai akibat kebijakan itu. Sayangnya Abi sudah pindah domisili, surat pemebritahuannya tidak pernah sampai kepada Beliau. Ujian itu bahkan baur diketahuinya ketika secara ironis beliau dalam statusnya sebagai pegawai Deplu mengadakan ujian bagi calon pegawai Deplu, beberapa rekan seangkatannyalah yang memberitahukan beliau keberadaan ujian tersebut. Ibu Fauziah, Pak Husein Bahfein (atau Bahrein entah lupa…) dan beberapa lainnya kini telah pensiun dengan puncak karir sebagai diplomat minimal minister counselor alih-alih staf pembantu non-diplomat kedutaan bagian komunikasi seperti bapak.
Ironi kehidupan kembali harus diterima dengan penuh kesabaran oleh Bapak. Di tahun 1985 ada pengumuman ujian kesempatan terakhir bagi seluruh mahasiswa yang belum mengikuti ujian, sayangnya saat itu bapak sedang bertugas di KKBRI Riyadh, sebagai orang yang diutus pertama kali untuk menyiapkan instalasi komunikasi bagi KBRI Riyadh yang dibuka setengah tahun kemudian. Alhasil, status kepegawaiannya sekedar lulusan SMA, dan mustahil untuk mendapat status diplomat.
Nasib itu tidak lantas membuat dedikasinya dalam mengabdi negara surut. Saya adalah saksi mata, bagaimana totalitas seorang abdi negara dalam mengemban tugas kenegaraan, tak peduli betapa rendahnya status beliau. Kesadarannya atas peran kecil tapi signifikan membuat beliau dikenal sebagai sosok pekerja yang handal, bertanggungjawab, jujur, dan berani. Ayahku yang mengajarkan keberanian. Adalah Ayahku yang mengajarakan keberanian! Ayahku yang mengajarkan pentingnya memiliki nurani, dan kemauan untuk memperjuangkan kebenaran!
Deplu juga punya arti penting bagi keluarga besar kami….atas arahan Bapak, banyak keluarga yang kemudian memutuskan untuk ikut bekerja di Deplu…sampai saat ini 2 orang pamanku masih aktif di Deplu, Ibuku masih tiga tahun lagi menatap masa pensiunnya, Uwaku sudah lebih dulu pensiun, satu pamanku, dan tiga kerabat lainnya adalah localstaf di sejumlah perwakilan RI. Deplu mengangkat derajat keluarga besar kami, itu mungkin kata yang dapat menyimpulkan seberapa besar arti Deplu bagi keluarga besar kami.
Maka adalah wajar, ketika Mang Budi juga berharap banyak atas kelulusanku dan berdoa semoga Saya bisa masuk Deplu, saat kemarin kluarga besar mengadakan acara syukuran atas penugasan beliau ke Yordania.
Pengalaman menikmati hidup sebagai ‘anak’ KBRI juga banyak mempengaruhi impian itu. Adalah kenikmatan yang Allah berikan dan sampai saat ini sangat saya syukuri ketika diberi kesempatan untuk mengunjungi Negeri-negeri -Nya, bertemu dengan makhluk-makhlukNYA dari bangsa lain. Membuktikan FirmanNYA bahwa manusia diciptakan berbeda-beda untuk saling mengenal, saling memahami dan menyadari tugas pengabdian hanya untuk-Nya. Menikmati kesucian, Haramain, dan MEsir yang eksotis, sungguh kesempatan yang langka.
Impian itu tidak pernah menjadi impianku seorang, tapi impian seorang ayah, dan impian keluarga besar. Semoga Allah memberi kekuatan berupa kerja keras, kesabaran, ketabahan, hingga di akhir SAng Pemilik Ketetapan terketuk hati-NYa untuk menetapkan bahwa Umar Badarsyah ibnu Wihardja dapat menggapai cita-citanya. Amin