Film Ayat-ayat Cinta
Saya belum menonton film ini…well saya ralat…sudah sebenarnya tapi hanya ‘kuat’ 19 menit saja…bukan karena filmnya ngehang…atau karena baterei laptop kawan saya tiba-tiba mati…wah ketawan nih nonton downloadan…hidup HAKI ..eh….
Lebih karena kecewa…..
Saya tidak tahu respon publik atas film ini seperti apa…
Hanya saja saya menduga…bagi kawan-kawan yang pernah merasakan atmosfir masisir dengan latar geografis mesir, budaya masyarakat Cairo dan budaya masisir sendiri pasti kecewa…beberapa hal teknis lain juga mengecewakan…saya tidak berbicara tentang kulitas gambar…untuk hal ini bisa dikategorikan sangat baik…MAri kita ulas sama2
FIlm ini terlalu cepat untuk dibuat….dia minim referensi, kurang matang…sudah saatnya dunia perfilman kita berbasis riset terutama ketika berupaya mengangkat tema yang ‘berat’. Kekayaan novel ayat-ayat cinta tidak hanya teredusir dari alur pembabakan yang terpangkas, hal ini masih wajar kalau kita mencari pembanding semacam Harry Potter dan Lord of the RIng tetapi juga nilai-nilai yang ingin diangkat juga terkikis.
Sebelum membahas nilai-nilai itu beberapa commen teknis yang ingin saya utarakan:
1. SEtting tempat…bisa jadi India adalah pilihan rasional secara finansial untuk memproduksi film ini, dan sekiranya Saya tidak pernah ke mesir pasti akan fine2 saja. Tapi Mesir bukan India, masyarakat Mesir bukan masyarakat India…meski banyak kemiripan tetapi berbeda…Kabar baiknya konsumen nga semuanya pernah ke Mesir. Struktur apartemen…di MEsir jarang ada flat yang bersekat seperti di sini…umumnya mereka memiliki 2 ruang tengah dan kamar tanpa ada sekat kalaupun ada tidak tertutup sempurna. Flat yang ditempati fahri dan kawan-kawan pada film lebih mirip kontrakan di Indonesia. Suasana daerah yang dipakai juga kurang sesuai meski perbedaannya hanya sedikit, tempatnya kurang padat penduduk, bentuk flatnya masih lebih renggang antar satu bangunan dengan lainnya. Cairo kota padat penduduk…Saya memang belum pernah ke wilayah tempat fahri dalam settingan cerita, tapi kalau perbadingan lainnya seperti daerah Sayyida Jenab, kemudian daerah sekitar masjid Amru bin ash, trus hay asyir…settingnya masih kurang menghadirkan suasana mesir.
2. Pemeran fahri lumayan baik…bahkan aksen ‘arab Mesirnya cukup terasa tinggal body languagenya yang kurang…di Mesir (seluruh jazirah Arab bahkan hanya berbeda derajat gerakannya saja) anggukan, gelengan kepala, dan tangan kerap kali ikut ‘bicara’, tapi Maria paraaaaaaah boro-boro body languagenya…ngomong arabnya aja masih kalah sama balita mesir…(yaaa iyaaa lah)
3. Aisha…berhubung sya hanya nonton selama 19 menit nga terlalu tahu aktingnya gimana…kalau adegan di metro adalah standarnya, maka paraaaaaahhhhh…SEingat Saya Aisha tidak meninggi suaranya, di film bahkan berteriak! Kelembutan Aisha teredusir dalam film kalau begitu…Ini yang saya katakan produser kurang riset…ORang Arab, Mesir adalah orang-orang yang ekstrem…….kau bisa menemukan orang-orang yang sangat keras kepala sekaligus orang-orang yang sangat lembut…percekcokan antara dua karakter yang berseberangan secara ekstrem inilah yang ada dalam novel dan gagal dihadirkan dalam film. SAya tidak menonton adegan itu sampai habis… untuk melihat perubahannya karena saya tidak ingin kecewa terlalu jauh. Dalam benak saya yang terjadi selanjutnya seperti ini….oh sebelumnya tokoh fahri ketika mengucap sholli ‘alannabiy kurang terasa tastenya…penkanna aksennya kurang dan intonasinya tidak sebagaimana kami mengucap sholli ‘alannabiy, dan reaksi pendengar juga kurang, sumpah orang-orang Mesir yang sedang dalam puncak kemarahannya untuk sesaat bisa berubah 180 derajat hanya untuk sekedar menjawab shalawat, untuk kemudian memulai kembali argumentasi keras kepala khas mereka. Idealnya saat argumentasi mereka ditaklukkan dan mereka melihat kebenaran, mereka berubah menjaid sangat lembut dan penuh hormat…yang sekali lagi saya tidak tahu bagaimana kejadiannya dalam film. Oh ya tambah lagi Maria adalah keturunan Turki Palestine, Saya tidak tahu watak orang
Turki tetapi Palestine, di Dunia Arab merkea punya pandangan terhadap
masing-masing ciri khas orang di negara Arba tetangganya, ORang-Orang
Mesir di kenal sebagai diplomat ulung (secara negatif bahkan dianggap pelanggar janji licin, ada singkatan terkenal untuk memperolok orang MEsir: IBM= Insya Allah, Bukroh, Ma’lisy…contohnya kalau kita pergi ke bengkel untuk memperbaiki mobil dan berharap selesai segara maka di hari pertama mereka akan mengatakan Insya Allah dua hari lagi selesai, nah di hari yang dijanjikan kita datang dia akan bilang bukroh=besok, dan diakhir cerita dia akan bilang ma’lisy=maaf! Tentunya ini hanya stigma tidak menggambarkan orang Mesir secara keseluruhan), Orang-orang Palestine dikenal
sebagai orang arab paling cerdas dan baik hati, orang-orang Yaman
dikenal sebagai pedagang handal, orang-orang Saudi dikenal sebagai penjamu yang baik dst..dst…Maria adalah simbol kelembutan khas orang berdarah Palestine, sangat merusak citra jika ditamplkan dengan sosok yang mudah meninggi suaranya.
3. Pakaian akhwat Indonesia di Mesir….Saya nga tau apa perwakilan masisir akan mengajukan somasi. Mahasiswa Indonesia di Mesir tidak berhijab ‘ala sebagian orang-orang mesir dengan jilbab gantung…mereka berjilbab lebar, rapi seperti akhwat2 kita di kampus. Itu tahun 1995 sd 1999 dan saya yakin sampai saat ini masih. MOdel jilbab gaul mungkin dulu dipake sama sebagian kecil akhwat2 dari filipina. Indonesia dan Malaysia jilbab lebar dan rapi, Thailand Patani bahkan sebagaian bercadar. PErgaulan masyarakat masisir pun terjaga….percampuran laki-laki perempuan jarang terjadi….pada banyak forum resmi selalu ada tempat terpisah…SAya masih inget waktu jadi perwakilan SEkolah Indonesia Cairo pada Muktamar PPMI Mesir di NAsr City…duduknya di pisah. Umumnya para akhwat jalan berkelompok, paling sedikit berdua ke mana pun mereka pergi.
Dalam 19 menit itu ada adegan ketika fahri berbicara dengan akhwat…jaraknya terlalu dekat…Masisir tidak seperti itu…klo anak2 SIC sih iyaaa kita kan sekuler liberalistik terbiasa dengan model pergaulan ala anak2 KBRI. ……..
Oh kabar bagusnya kata produser film yang beredar di dunia maya itu versi Raw masih mentah belum diedit sound dan macem-macemnya…semoga filmnya lebih baik…kalau benar demikian mungkin saya berniat untuk memecahkan rekor seumur hidup belum pernah ke bioskop….let see…berarti 24 tahun masih perawan, belum pernah nonton ke bioskop…sekali waktu hampir-hampir pas HArry Potter 2 Tayang udah niat bener2 ampe dateng ke BIntaro Plasa bareng Isna adikku…eh kita udah ketinggalan jadwal…ya suy balik deh…Is it worthed to watch? Need comment from whose already watch the well edited movie.
Untuk pertanyaan di atas ternyata sudah terjawab. It is not worthed! Hehheheh…aku dapat pembanding dari Ust. Syarwat LC di Era muslim, coba kawan2 cek di sini http://www.eramuslim.com/ustadz/fqk/8301223809-film-ayat-ayat-cinta-lebih-berbahaya-film-maksiat.htm
lagian ust. Syarwat ternyata juga mantan Masisir dan pendapatnya ternyata mutasawiyaaani ma’a ullii…hehehe…Di Mesir ada juga mitos, kalau kau sudah minum dari sungai Nil kau besar kemungkinan akan kembali…ini sekedar menggambarkan betapa orang-orang yang pernah ke sana akan memendam rindu dendam yang teramat sangat atas Mars di Bumi ini (El-Qohirah). Kalau aku punya dan mungkin mahasiswa Indonesia di Mesir punya jurus jitu untuk membuat orang Mesir terpesona dengan kita…ini sangat mujarab, di banyak kesempatanjual beli kau sangat mungkin dapat diskon khusus, sama halnya kalau kau menebak tim sepakbola kesukaan supir taksi yang sedang membawamu…katakan seperti ini…’indi kalimatin: Anduunesia ruuhi wa masri ‘albi (Saya punya dua kalimat : Indonesia ruhku dan Mesir hatiku…) gahahahahha…karena ia diucapkan dalam bahasa Arab, kesan yang ditangkap sangat luar biasa…selamat mencoba!
Owh orang Mesir juga suka menobongkan diri bangsa mereka. Ini dikarenakan mereka menyadari sebagai bangsa yang tertua , dan termasuk paling dulu mengenal tulisan. Kemudian letak geografis mereka yang teramat strategis di jantung peradaban dunia…kesombongan itu mereka ungkapkan dalam kalimat : MAsri ummu ddunya (Mesir Ibu dari dunia)…eh dan dasar anak2 mahasiswa Indonesia Mesir mereka nambahinkelakar begini, wa ‘arafta abuha? Abuha Anduneesia.. (dan kamu tau bapaknya? Bapaknya Indonesia!) gahahhaha….yang ini pasti ngebuat orang Mesir mesem…dan sejujurnya kalau merenung sejenak saja, sang pengucap pasti sadar, reputasi bangsanya saat ini kurang bisa dibanggakan!…..
I Love Indonesia
Salam