Fighting Dreamer

Harapan pribadi atas blog ini:

Archive for December, 2007


Pejalan Tangguh III

Buat temen-temen yang mengikuti seri adventure Pejalan Tangguh, Saya mohon maaf kalau edisi Pejalan Tangguh II belum rampung-rampung juga. Ini karena seri itu sedemikian emosional dan sangat berpengaruh dalam kehidupan pribadi penulis setelahnya. Nah, karena ada beberapa hal yang saya sendiri belum siap untuk menghadapinya kembali, jadi saya putuskan untuk melanjutkan ke seri selanjutnya, sambi lmengumpulkan keberanian to face what was in the past. So here is the third one. Kali ini perjalanannya sedikit religius…kok sedikit? Have a read

Umrah dan Tiga Do’a MAsa Depan

Perjalanan kali ini terjadi di tahun 1999, di tahun yang sama Saya lulus SMP di Sekolah Indonesia Cairo, dan tahun yang sama saya pulang, meninggalkan Cairo. Sebagai bagian dari perpisahan, Abi memutuskan untuk memberikan hadiah buat Saya dan Isna (adik kecilku)….Kami sekeluarga: Abi, Bunda, Isna, Umar, plus A Yana pergi Umroh.

waduh belom dapet feelingnya lagi neeeh….udah empat kali kesempatan saya melanjutkan bagian ini, dan udah banyak sayangnya empat kali itu pula gagal ke save, dua kali lupa di save, sekali tiba-tiba mati lampu dan sekali tiba2 dc….males lagi deh……..

MAdridistas Siempre

Malam Senin kemarin menjadi malam yang menyenangkan…Inter menang 2-1 dalam derby Madoninna…dan ini yang lebih menyenangkan MAdrid permalukan Barca 0-1 di Camp Nou…
I am a madridistas since 1996…but I never hates Barca…always been good and tough rival for the Castillos.
This is my Madrid team :
CAssilas (GK)(the best goal keeper in the world after Buffon thought)
SErgio Ramos ( RBW)(Before this man arrived my best choice for this position is Panucci, but this youngster is fast furious, strong in defense, great dribling skill, killer heading, and delicate crosses. If you remember last year Barca defeat in Bernabeau, Raul-Ramos connection scored the first of Madrid..Ramos as usual overlapping from the far right flank and sending a beckham like crossing to be headed by the Prince, last night performance, show what kind of defence this hansom man could perform, He made Ronaldinho out of Samba!)
Cannavarro (CB)
Hierro (Sweeper)(great leader, best sweeper, great ball winning, headings, and a splendid passer, he even could give a precise long pass to set the play or even assist from down the bottom , such an antiquity.
Carlos (LBW) (no lung man during his best performance, speedy furiously fast, deadly dribble, and the shots? you know them well, Barthez knows better)
SAvio Bortolini (LWM)(splendid dribbler, and genius player, but like Guti, bad tempered!)
Redondo (my whole time madrid player) (CM)(the best, complete midfielder I ever known, a combination of zidane vision, Keane hustle, Riquelme calm, George hagi’s shots, simply the best)
Claude Makalele (CM)(Madrid Never have had a better skipper, and ball winner since they  remove him, the best one, even France couldn’t get a  better  substitution)
Seedorf (AMR) (Three times gain Champions Cup with three different clubs, including Madrid 1998, if Iam not mistaken)
Raul (FW)(best player both out and inside  the field…a good row model…a man  with honor and  loves his family…known as the lord of the  Ring for his known celebration by kissing his ring finger…Prince of Madrid, my favourite, Bojan the BArcelonian is potentially become the next Spain Prince if He keeps on perform and develop)
DAvor Sucer (SC) (I like him,for me Nistelroy is the sharpest striker Madrid ever have since 1996, but I choose Davor merely because I like him…da?)

That is my best 11 selection, here are the bench:
Cesar (GK)(he really had his chance only for short because right when he is on his top performance, the Nigerian Under 23 World Cup 1999 Champion Goalie, Iker Cassilas ready to start his shining carrier with both Madrid and Spain Senior skuad, Andres iniesta, Xavi, Marchena was the SPanish champion team a long with Cassilas, they beat Japan 3-1 in the final)
Christian Panucci (RCB), (before beckham, madrid enjoyed the curling long passes of this hansom Italian Right back)
Miguel Torres (a decent young player from the academy, a very useful one, multi position both down the right or left winger back)
Pepe (cb) (last night show was outstanding, showing that he is worth for the price)
Sanches (cB) (Madrid Captain before Hierro, a great leader)
Guti Hernandez (AM) (vision! vision! vision! briliant…but moody)
Ivan Helguera not for centre back but during his first two years as Defensive midfielder, he played well and strong during those days, and scored couple of goals with his shots)
Zidane (AML) (couldn’t erase him from the team, the world best player ever)
Nistelrooy, simply great finisher
Robinho (the key player of MAdrid Raise)

Those players will do for me…Madrid has plenty of great players…but those are my selection.

AWal kesengsem sama Madrid di tahun 1996-an di Cairo. Waktu di Indonesia nga begitu kenal sama liga Spanyol karena waktu itu Indonesia masih demam liga Italia, taunya Milan, Inter, As Roma, Juventus…my team back there was Lazio and Smpdoria, ada Lombardo si botak kereeen.

Pas ketemu MAdrid dengan pilihan Liga yang lebih banyak untuk ditonton, punya stu kesimpulan, they are plyaing beautiful soccer, waktu itu masih dibesut sama Vicente Del Bosque…permainan ciamik diperagakan anak2 Castilla…
Sempat muak dengan Madrid ketika era Galacticos mulai didengung-dengungkan…sebelumnya pas McManaman baru masuk trus juara liga Champion mereka emang simply the best dan menyajikan permainan super attraktif yan gga bisa disamain dengan tim manapun saat ini, bahkan oeh barca, sangat indah, bahkan mereka punya kebiasaan untuk pasing tanpa terputus kalau sudah unggul lebih daru satu gol dari lawan tanpa ada kesan bermaksud meremehkan lawan…sangat indah…
Ada satu momen yang tak terlupakan, waktu itu Madrid tertinggal 3-1, permainan mulai kasar, terlebih diisukan sebelumnya timbul keretakan di kubu Madrid , puncaknya Seedorf memukul Mijatovic, dan terjadilah pertengkaran di tengah lapangan, bukan antara pemain Madrid dengan pemain lawan tapi antar pemain Madrid, permainan sepakat dihentikan…Madrid kena skors tambah kebobolan empat gol , skor akhir versi resmi jadi 7-1.

Kini Madrid masuk musim 2007-2008 akankah gelar La Liga mampu dipertahankan?

Emoga

Kick Seniorism Out of (FH) Football

Ini adalah tulisan untuk kepentingan Uajian Akhir Semester Mata Kuliah Pengantar Sosiologi, nga terlalu bagus sehhh sajiannya…

Kick
Seniorism Out of (FH) Football

Tag Line ini Penulis temui pada sebuah spanduk yang terpasang di
salah satu sudut seberang bangku penonton di lapangan serba guna
Fakultas Hukum UI (FHUI). Spanduk tersebut di pasang pada momen
kompetisi futsal yang diselenggarakan oleh Badan Semi Otonom Recht
Footbal Club (RFC). Penyisipan inisial FH murni dilakukan oleh
Penulis untuk mengangkat permasalahan yang coba untuk dipaparkan
dalam tulisan ini.

Satu minggu yang lalu penulis mencoba mengorek keterangan dari
penanggung jawab acara, yaitu Rando mahasiswa Fakultas Hukum (FH)
angkatan 2005 yang merupakan ketua RFC, tentang ration de etre
dari keberadaan spanduk tersebut. Kompetisi itu dimaksudkan sebagai
sambutan kepada mahasiswa baru 2007 yang dilibatkan sebagai peserta,
harapannya ke depan dalam tubuh RFC tercipta kekompakan yang
merupakan unsur penting dalam membentuk tim yang solid dan kuat
dengan mengeliminir senioritas dan memperkenalkan prinsip egaliter,
dan perkawanan.

Rangkaian kata-kata ini bagi Penulis bukan hanya sekedar bermakna
sebagaimana maksud pragmatis yang terurai dari sang penanggung jawab
acara. Lebih dari itu, ia merupakan oase, titik harapan , arus kuat,
dorongan semangat di tengah upaya panjang dan melelahkan Penulis
bersama rekan-rekan untuk mengambil peran selaku minoritas kreatif1
merubah sebuah budaya destruktif yang mengakar dalam masyarakat
Fakultas Hukum Universitas Indonesia: Seniorisme Feodalistik.

Terlebih medium yang dipakai adalah sepak bola, yang saat ini menjadi
lingua franca yang ‘maha’ bagi umat manusia. Hanya sepak
bola yang mampu mengurangi bahkan menghentikan untuk sesaat eskalasi
perang Irak di tahun 2002, di mana rakyat Irak yang semestinya
mengangkat senjata memilih duduk di warung-warung syisa untuk
menonton piala dunia Korea 2002. Bahkan baru-baru ini Sepak Bola
telah menghadirkan solidaritas dan kebanggaan rakyat Irak ketika
mereka untuk pertama kali mencatatkan diri dalam sejarah sebagai
Negara satu-satunya yang memenangi kompetisi bergengsi sepak bola
justru saat perang berkecamuk di negerinya dan bangsanya
tercabik-cabik oleh perang sektarian. Pada isu lain, sepak bola
adalah simbol perlawanan terhadap rasialisme, lihat bagaimana dunia
bereaksi atas perlakuan rasial pada pemain-pemain sepak bola berkulit
hitam, atau dari keturunan semit. Industri sepakbola juga tidak
mengenal usia dengan munculnya belia-belia maestro sepakbola seperti
Lionel Messi, Cesc Fabregas, Bojan Krkic, usia dan senioritas tidak
relevan pada sepakbola selain tingkat permainan, dan prestasi yang
dapat diraih. Singkatnya sepakbola melabrak semua batasan rasial,
bangsa, dan territorial seabgaimana salah satu adagiumnya Football
without frontier
. Oleh karena itu, ia merupakan medium
sosialisasi yang dahsyat.

Kemampuannya menyentuh masyarakat yang luas inilah yang kemudian
membuat Penulis sedemikian larut dalam keharuan. Dengan harapan pesan
anti seniorisme ini pun meluas tidak hanya sebatas pada dimensi
lapangan serba guna tetapi juga pada masyarakat FHUI, berkat
simbolisasi pada permainan futsal yang digemari oleh masyarakat FH.
Sepakbola menjadi simbol2
untuk mereduksi seniorisme dan melakukan perubahan sosial atasnya.

Keputusan penulis dan rekan-rekan untuk melakukan perubahan sosial
atas budaya senioritas berangkat dari pemahaman bahwa FHUI merupakan
lembaga yang berperan sentral selaku penghasil para yuris yang kelak
berkecimpung dalam dunia hukum nasional bahkan internasional. FHUI
merupakan tempat para calon yuris ditempa tidak hanya pada sisi
akademis tetapi juga penanaman etika dan moralitas sebagai kesatuan
integrasi pendidikan perguruan tinggi. Carut-marutnya dunia hukum
nasional dalam pandangan kami, bisa jadi justru berawal dari dapurnya
sendiri, ketika nilai-nilai yang ditanamkan adalah penindasan yang
dilanggengkan oleh relasi senior-junior, dalam semangat seniorisme,
feodalisme.

Adalah feodalisme destruktif yang menghancurkan bangsa ini. Bagaimana
mungkin sebuah bangsa mampu ‘bertahan’ dijajah selama lebih dari
350 kalau sekiranya tidak terjadi kolaborasi, perselingkuhan antara
penjajah kulit putih dengan para pribumi penindas?3
Bahkan sampai hari ini, semangat untuk menindas rakyat sendiri dan
bodohnya sifat permisif terhadap penindasan masih berlangsung dan
menjadi penyakit akut di tubuh bangsa kita.

Ironisnya budaya penindasan ini dibudidayakan oleh subyek dunia
pendidikan hampir di semua jenjang SD, SMP, SMA ,dan Perguruan
Tinggi, melalui perpeloncoan dan bullying. KAsus-kasus yang terjadi
belakangan ini hanya memunculkan permasalahan akut ini ke permukaan
karena sejatinya ia telah mengakar begitu dalam. Seperti misalkan
kasus pemukulan junior di SMU 34, SMU Pangudi Luhur, kasus-kasus
kekerasan di kampus IPDN, dan ini tidak menutup kemungkinan terjadi
dan berlaku di tempat-tempat lain.

Penulis setidaknya punya pengalaman mewawancarai beberapa mahasiswa
baru Universitas Indonesia, atas proses orientasi awal mahasiswa
se-Universitas Indonesia, dalam Orientasi Kehidupan Kampus yang
berada di bawah tanggung jawab Dewan Perwakilan Mahasiswa di mana
penulis merupakan anggotanya. Mahasiswa baru dari pelbagai sekolah
menengah atas tersebut memberikan pendapat mengenai proses yang
berlangsung, mengapresiasi atas minimnya inisiasi dan bullying tetapi
ada hal yang menarik ketika sebagian dari mereka mengakui bahwa pun
ketika inisiasi dan bullying berada pada intensitas yang lebih tinggi
dari yang terjadi mereka bisa menerimanya karena sudah merupakan hal
yang ‘biasa’ bahkan mereka pernah merasakan yang lebih parah
semasa bersekolah dulu.

Keseluruhan hal ini kemudian mendorong penulis secara pribadi untuk
mencoba berkontribusi memutus mata rantai penindasan, dan bergabung
bersama rekan-rekan yang sepaham lainnya untuk melakukan perubahan.

BPMB Medium Pengenalan Senioritas Destruktif

Sosialiasi adalah pendidikan pada cangkupan terluasnya, merupakan
proses di mana seseorang mendapatkan identitas personalnya dengan
mempelajari apa yang orang-orang pada lingkungan budaya di sekitarnya
lakukan dan yakini serta bagaimana mereka mengharapkan seseorang
untuk berperilaku (Musgrave, 1988).4

Para sosiolog selalu mengangkat fase awal manusia yaitu sewaktu bayi
ketika untuk pertama kali sosialisasi berlangsung. Pada fase ini
manusia belum memiliki referensi perilaku selain naluri alamiah
(basic insting) yang dimilikinya. Ia kemudian mempelajarinya
dari orang-orang terdekat pada lingkungan keluarganya melalui proses
imitasi. Sebagai tabula lasa ia kemudian menjadi apa yang
digoreskan dengan tinta padanya.

Mahasiswa baru pun demikian. Pada hakekatnya ia minim referensi
tentang kehidupan kampus. Referensi yang dimilikinya belum memiliki
validitas karena merupakan informasi yang didapat dari pelbagai
sumber yang berbeda dan yang lebih panting lagi mereka belum
merasakannya secara langsung untuk bisa mendapatkan pemahaman
sesungguhnya.

Di sisi lain, lingkungan tempat yang akan ia masuki mensyaratkan dan
memaksakannya untuk mengikuti nilai-nilai yang dianut untuk bisa
diterima dalam komunitas kampus. Membutuhkan proses sosialisasi untuk
menjadikan mereka dari ‘kalian’ menjadi ‘kita’. Pada kampus,
proses sosialisasi terinstitusionalisasikan pada lembaga pembinaan,
orientasi mahasiswa. Untuk Fakultas Hukum salah satu proses yang
terlembagakan itu adalah Bulan Penerimaan/Pembinaan Mahasiswa Baru
(BPMB).

BPMB adalah proses wajib yang harus diikuti oleh mahasiswa baru, yang
diselenggarakan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa FHUI (BEM FHUI, dahulu
senat), dan merupakan acara resmi yang mendapat persetujuan pihak
dekanat. Banyak hal psoitif yang didapat dari BPMB, ia adalah
rangkaian kegiatan untuk memperkenalkan budaya belajar kampus kepada
mahasiswa baru, nilai-nilai Tridharma perguruan tinggi, kekritisan,
dan kepedulian.

Namun, ia juga menjadi alat sosialisasi bagi senioritas, manakala
metode yang digunakan dan ini sebelumnya selalu digunakan, banyak
menggunakan cara-cara bullying, kekerasan, penindasan.

Bullying adalah penggunaan agresi dengan tujuan untuk menyakiti orang
lain baik secara fisik maupun mental. Bullying dapat berupa tindakan
fisik, verbal, emosional dan juga seksual. Bullying menurut Dan
Olweus, penulis buku Bullying At School, dapat dibagi menjadi dua
bagian besar :

1. Direct bullying : intimidasi secara fisik, verbal

2. Indirect Bullying: isolasi secara sosial5

Bullying terjadi dalam relasi di mana subyek yang satu berkuasa atas
obyek yang terkena bullying. Dalam BPMB, panitia merupakan senior,
atau mahasiswa angkatan lama, yang memiliki kekuasaan terhadap
mahasiswa baru. Di sisi mahasiswa baru ada inferioritas, di mana
posisi mereka secara psikologis sulit untuk melawan para senior.

Beberapa contoh bullying yang biasa dilakukan pada BPMB (sebelum BPMB
tahun 2007 yang hamper tidak menggunakan cara ini) misalkan
intimidasi melalui teriakan-teriakan, omelan baik pada saat evaluasi
pengerjaan tugas maupun untuk menstimulasi kekompakan peserta.
Bullying juga terjadi dalam bentuk pelecehan, ketika beberapa
mahasiswa baru yang kena target mendapat panggilan alarm, manakala
senior meneriakkan kata tertentu atau panggilan tertentu pada
mahasiswa yang dimaksud maka dia harus melakukan gerakan tertentu
yang mempermalukan diri sendiri dan behaan tertawaan para senior.

Yang lebih parah sebenarnya adalah hal yang terjadi di luar BPMB
secara cultural selama berlangsungnya acara. BPMB karena ia acara
lembaga yang harus dipertanggungjawabkan masih memiliki standar
prosedur dan batasan, meskipun batasan ini masih sulit untuk
dipertanggungjawabkan. Namun, bullying yang terjadi di luar acara
begitu berdampak negatif pada mahasiswa baru.

Oknum-oknum mahasiswa lama banyak yang masih memiliki paradigma
senioritas, meskipun derajatnya sudah lebih baik. Masih banyak yang
tidak suka melihat tingkah laku mahasiswa baru yang dalam pandangan
mereka songong. Hanya misalkan karena lewat tidak memanggil
bang atau mba. Atau karena masuk ke kantin sebelum proses BPMB
berakhir dan mereka lulus.  Hal-hal ini kemudian diekspresikan dengan
cibiran, cemoohan seperti, “angkatan loe belagu-belagu ya”, “loe
tu nga ada sopan-sopannya sama senior”. Bahkan dalam permainan
olahraga adalah hal yang biasa menggunakan intimidasi kepada lawan di
bawah angkatan untuk meraih kemenangan. Atau kalaupun kalah kasus
pemukulan kerap terjadi sebagaimana tahun lalu terjadi saat oknum
2002 memukul teman-teman angkatan 2005. Pengalienasian juga terjadi,
pasca kasus tersebut beredar pemahaman di sejumlah kawan-kawan
nagkatan 2002 bahwa angkatan 2005 itu belagu, nga ‘terdidik’
dengan baik.

Ukuran sukses atau tidaknya BPMB salah satunya juga kemudian,
seberapa ‘sopan’ angkatan baru berperilaku kepada para senior.

Bullying menjadi berbahaya karena ia menjadikan korbannya memiliki
kecenderungan untuk melakukan hal yang sama. Korban punya
kecenderungan untuk menggunakan kekerasan. Ini dapat dijelaskan dalam
BPMB baik dari sisi panitia, maupun peserta. Panitia umumnya adalah
mahasiswa yang dulunya ketika SMA mengalami bullying dalam derajat
‘dahulu’ yang lebih keras dari siswa-siswa saat ini. Maka adalah
wajar, ketika di kampus mereka berpotensi melakukan hal yang sama,
meskipun mulai ada control dari kesadaran mereka sendiri tentang
relevansi penggunaannya. Mereka pun menganggapnya sebagai hal yang
biasa. Prosesi yang memang harus dilakukan. Kekecewaam terbesar
penulis terjadi baru-baru ini , ketika empat hari yang lalu terjadi
tragedi. Di FH ada ‘tradisi’ pom-pom boys, di mana
sejumlah mahasiswa baru laki-laki didaulat menjadi cheerleaders pada
setiap acara penutupan olimpiade, Kemarin selain mereka diharuskan
memakai pakaian yang merendahkan amrtabat mereka, menurut laporan
rekan-rekan terjadi pelemparan kepada mereka saat manggung dengan
batu, air kuah bakso dan serpihan-serpihan kayu. Saat dikonfrontir
kepada penanggung jawab tertinggi acara yaitu ketua BEM FH, yang
didapat adalah kesan bahwa hal itu adalah tradisi yang biasa.6

Ini membuktikan bahwa senioritas, seniorisme tersosialisasikan dengan
begitu baik. Ia kemudian sedikit banyak terinternasilasi dalam
pribadi-pribadi anak Fakultas Hukum. Pengalaman pribadi penulis, dulu
di tahun 2003 saat penulis menjadi mahasiswa baru merasakan sisterm
orientasi yang lebih ‘kejam’ dari yang dialami oleh mahasiswa
baru sekarang, meskipun masih tidak lebih ‘kejam’ lagi
dibandingkan dengan mahasiswa dua sampai sepuluh tahun di atas
penulis. Dalam kesempatan Orientasi Pengenalan Kampus (OPK) penulis
tergabung dalam kelompok ‘teroris’ yang dipisahkan dari
teman-teman ‘cupu’ yang hanya mengalami terror psikologis dalam
auditorium. Kami tidak hanya mengalami terror psikologis , tetapi
juga terror fisik tidak dalam bentuk pemukulan tetapi kegiatan fisik
dalam intensitas tinggi, push up jalan jongkok, jalan lompat, tiarap
di saluran air yang kering. Selain itu kami juga mendapat
teriakan-teriakan, yel-yel yang melecehkan. Semua dibuat untuk satu
tujuan membuat kami ‘solid’. Di puncak acara diskenariokan
perebutan bendera yang dijaga oleh kaum ‘cupu’ oleh kami,
‘teroris’. Sebelumnya kami dikondisikan kalau kami gagal maka
akan didera hukuman berat. Sebaliknya yang di dalam pun diberi
ancaman kalau gagal mempertahankan akan diberi hukuman. Ketika
akhirnya kami berhasil merebut bendera 7
para senior mensetting agar kami sendiri lah yang menentukan hukuman
bagi teman-teman ‘cupu’ kami.

Penulis punya memori psikologis yang kemudian menjadikan penulis
tidak berdaya untuk sekedar memotong acara dengan metode serupa saat
menjabat sebagai ketua Badan Perwakilan Mahasiswa di Fakultas.
Ditambah lagi , panitia acara adalah rekan-rekan teroris. Yang mampu
dilakukan penulis adalah mereduksi tingkat bullying.

Perubahan
Sosial

Perubahan
sosial adalah upaya terorganisir dari sejumlah besar orang untuk
mengahsilkan perubahan sosia  (Jenkins, 1984).8
Ini bisa dilakukan dengan mengintrodusir perilaku kollektive baru
untuk menggantikan yang lama.

Pada
saat tumbuh kesadaran untuk merubah budaya ini, Penulis bersyukur
mendapatkan rekan-rekan yang sevisi untuk mengusung perubahan. Ketua
BEM FHUI di tahun yang sama penulis menjabat, Herdy Parlaungan Lubis,
dan Wakilnya, Handa S. Abidin, rekan-rekan Serambi, Kelompok Habibi
(ketua BPM saat ini) dan secara umum angkatan 2003 adalah pihak-pihak
yang baik secara aktif maupun passif mengusung perubahan ini.

Upaya
perubahan sosial ini kami lakukan secara struktural karena saat itu
kami memegang kuasa structural. Beberapa factor sangat mendukung hal
itu, seperti ketiadaan traktat dasar lembaga kemahasiswaan di FH yang
memunculkan peluang untuk memasukkan semangat anti bullying dalam
konstitusi baru; Dekan, Prof.Hikmahanto Juwana yang reformis dan
sangat anti pada model pembinaan yang mengandung bullying.9

Melalui
Pedoman Dasar Ikatan Keluaga Mahasiswa yang semestinya dihasilkan
melalui proses Musyawarah Mahasiswa, kami berhasil memasukkan
karakteristik Mahasiswa FHUI sebagai pedoman filosofis proses
pembinaan di FHUI yang anti bullying.  Tidak berhenti pada itu saja,
kami pun harus memastikan Pedoman ini berlaku secara efektif,
terlebih ketika keberlakuannya secara sosiologis mengalami
pertentangan akibat porses kelahirannya melalui Tap BPM yang dianggap
tidak legitimatif oleh seluruh ketua BO. Meski pada dasarnya
penolakan mereka lebih kepada pengatruran penertiban BO kembali di
bawah pengawasan BPM, yang sebelumnya pada masa hilangnya Pedoman
Dasar mereka menikmati kebiasaan yang berlaku tanpa pengawasan.Upaya
itu dengan kaderisasi menempatkan rekan-rekan sevisi pada pos-pos
strategis dan memastikan orang-orang yang setidaknya berpikiran
reformis untuk mengemban amanah selanjutnya.

Proses
ini setidaknya berhasil dalam mengeleminir bullying pada BPMB 2007.
Tetapi sebagaimana natura dari proses perubahan. Raksi atas sesuatu
yang dianggap salah kerapkali berlebihan. Bandul perubahan masih
bergoyang menyimpang belum sampai pada tahap yang ideal. Di satu sisi
Kami berhasil mengeliminir bullying. Di sisi lain, Kami pun menyadari
beberapa muatan yang ingin dicapai dlaam BPMB seperti kesolidan
angkatan mengalami penurunan manakala berhadapan dengan kecenderungan
mahasiswa saat ini yang semakin individualistis. Selain itu proteksi
mahasiswa baru atas mahasiswa lama yang berlebihan juga mempersempit
keduanya untuk bisa saling mengenal. Penulis nyaris tidak mengenal
lebih dari sepuluh orang angkatan 2007, hal yang tidak terjadi
sebelum-sebelumnya. Namun demikian satu hal yang Kami pahami bersama,
kesolidan dan proses pengenalan tidak berarti harus menggunakan
bullying sebagai instrumennya!

1
Toynbe menggunakan istilah ini merujuk pada segelintir orang yang
selalu hadir dalam setiap pembabakan sejarah peradaban manusia yang
mencoba menginisiasi perubahan dan mengubah nasib bangsanya.

2
Simbol dalam terminologi sosiologi adalah sesuatu yang dapat
mewujudkan atau mengekspresikan arti, makna tertentu. SEbagaimana
misalkan sebuah kain dengan kombinasi warna bisa sedemikian berarti
dalam sebagai ungkapan kebangsaan, kebanggaan, patriotisme suatu
Negara.

3
Kesimpulan penulis ini diperkuat saat mendapatkan kuliah diawal-awal
semester , dan ketika mengikuti mata kuliah HATAH, bagaiman
pengaturan I.S. 163 yang membagi penduduk atas tiga golongan
kemudian mendorong sebagian pribumi untuk membulekan dirinya tidak
hanya untuk melepaskan diri dari status yang terjajah tetapi juga
terkadang untuk berperilaku sebagaimana sang penindas.

4
Michael S. Bassis, Richard J. Gelles dan Ann Levine. Sociology An
Introduction. New York: McGraw-Hill, 1998, hal. 92, diterjemahkan
secara serampang dri kutipan asli sebagai berikut:


Socialization is education in the broadest sense: The [rocess
whereby one acquires sense of personal identity and learns what
people in the surrounding culture believe and how they expect one to
behave (Musgrave, 1988)”

6
Informasi ini tidak bisa dikatakan valid, karena penulis tidak
mendengarnya langsung dari orang yang bersangkutan, tetapi cerita
dari ‘rekan-rekan’ sevisi. Meskipun secara umum beliau adalah
pribadi yang juga reformis, tetapi statemen itu membuktikan bahwa
bullying begitu mempengaruhi persepsi seseorang, penulis pun
mengakui hal ini terlebih ketika penulis menjadi Ketua BPM di
periode lalu tidak mampu berkuasa apa-apa untuk mengerem model acara
seperti ini, bahkan pada beberapa kesempatan mendukung metode ini.

7
Secara kebetulan , saya lah yang berhasil merbut,meegang bendera
setelah menerobos barikade teman-teman.

8
Kembali dterjemahkan secara kasar dari kutipan:

“a
Social Movement is the (more or less) organized effort of alarge
number of people to produce some social change (Jenkins, 1984)”

9
Saat BPMB 2006, beliau sempat mengancam membubarkan acara di tengah
jalan akibat banyaknya aduan, terutama informasi keliru tentang
pemalakan yang itu dilakukan oleh preman non mahasiswa. Beliau juga
menyayangkan pembiaran metode bullying yang masih penulis tolerir.

TeN ThOusand in diSparitY

Menurutmu apa arti uang sepuluh ribu? Bayangkan jika pertanyaan ini ditanyakan kepadamu, teman, siapapun kamu, apapun kamu, status sosialmu…kira-kira apa yang menjadi jawabanmu…dan kira-kira terbayang kah apa yang akan menjadi jawaban orang lain?
Hmmm…sepuluh ribu…dalam kamus hidup gue bisa berarti, jatah dua kali makan dengan menu telur mau di ceplok kek, di dadar kek, di balado ,atau disemur yang penting telor, nasi setengah, orek tempe, atau tahu, atau kentang balado, sama sayur kangkung, atau bayam atau sop…minumnya yaaa air putih…Sepuluh ribu rupiah juga bisa berarti modal sekotak Aldi Donut dengan sisa tiga ribu rupiah buat ongkos pulang pergi stasiun UI , Tanjung Barat, tapi rugi cuma dapet cape klo modal gue cuma sepuluh ribu, secara satu kotak isi sepuluh satunya gue jual seribu rupiah, itu belom klo ada anak-anak yang sok-sok jadi debitur, tunda bayar…sepuluh ribu juga berati paket hemat internet untuk 4 s/d 5 jam atau bahkan seperempat harian klo laig beruntung, so I can spend my time to download things…playing CM, FM, searching for players…and writing, posting blogs..ah yaa downloading naruto…
Sepuluh ribu juga berarti ongkos pulang pergi dari rumah di Tajurhalang ke Depok, dengan perincian 2 x 1500 buat tiket kereta, 2 x 3000 buat angkot ke rumah n ke stasiun pp, dan seribu rupiah buat beli koran tempo klo agak siangan.
Apa arti sepuluh ribu buatmu?
Klau kau berikan pertanyaan ini kepada ibuku…maka sepuluh ribu berarti, modal buat ngebulin dapur satu hari buat lauk pauk minus nasi, dengan 5 anggota keluarga yang masih di rumah…ya cukup sepuluh ribu…
Coba kau tanyakan ibu-ibu rumah tangga lain, dari kalangan menengah bawah, apa arti sepuluh ribu buat mereka, mungkin berarti lauk pauk, bagi 6 s/d 10 orang anggota keluarga, dengan menu dalam derajat gizi yang lebih rendah….
kalau kau tanyakan kepada pekerja bangunan, maka sepuluh ribu adalah jatah mereka makan satu kali, plus ngopi dan dua batang rokok kretek diji samsoe….
Sepuluh ribu buat kawan-kawan bikers berarti dua liter bensin premium, cukup untuk jarak pulang pergi lebak bulus-UI…
apalah artinya sepuluh ribu buat bang ical, yang dinobatin sebagai orang terkaya di Indonesia…apa ya artinya sepuluh ribu buat korban lumpur lapindo….
Ternyata sepuluh ribu punya nilai yang berbeda bagi orang lain…tapi sudahkah kita menghargai perbedaan itu?