Fighting Dreamer

Harapan pribadi atas blog ini:

Archive for November, 2007


Isu Lingkungan dan Ideologi Islam

Kangen sama Pak Misri. Berikut tulisna menarik mengenai lingkungan, dan paradigma pembangunan prophetis yang coba diangkat oleh Kepala Regional I PPSDMS NF, Abi Kami tercinta Misri Gozan, semoga Allah memberikan banyak kemudahaan untuk beliau…amin.

Lingkungan dan Ideologi Islam

Senin, 06 Juni 2005 Misri Gozan Dosen Fakultas Teknik UI, Fellow pada LEAD Internasional, Advisory Board ISTECS cabang Eropa Ke mana akan terus bergulir isu lingkungan hidup? Di sebuah pamflet yang beredar di kota Karlsruhe, di selatan Jerman, terpampang tulisan yang artinya: ”Manusia berakal tak makan makhluk yang bermata”. Sekadar vegetarianisme? Atau sudah menyentuh sumsum ideologi? Tidak bisa tidak, isu lingkungan hidup sudah menyentuh batas-batas kurva dan bangun ideologi. Isu ini sudah mempertanyakan, benarkah cara hidup saya? Banyak manusia bertanya dengan nada ragu kepada dirinya sendiri, apakah manusia berhak ”membunuh” hewan tertentu untuk alasan kebutuhan pakaian dan pangan? Suatu pertanyaan yang seolah bernada arogan dan akan ditanggapi sinis bila dilontarkan di belahan dunia lain yang masih berjibaku menahan kematian karena kelaparan. Tuntutan para pemerhati lingkungan hidup telah beranjak jauh dari sekadar menikmati alam yang nyaman. Kini tibalah manusia pada pertanyaan yang sangat mendasar dari perjalanan isu lingkungan ini. Sampai kapankah bumi ini terus-menerus mencukupi kebutuhan manusia akan bahan-bahan alami? Sampai di manakah sebenarnya kesanggupan tanah, air dan udara dalam memikul beban-beban pencemaran? Isu pemanasan suhu permukaan bumi, perubahan klima dalam kaitannya dengan gejala-gejala alami yang tidak menyenangkan (datang dan perginya musim yang tak menentu, kegagalan panen, rusaknya ekosistem, kehilangan keanekaragaman hayati, dll). Jelas bencana ala ini tidak sepenuhnya ”man made”, namun faktor anthropogenic demikian besar di dalamnya, sehingga mengharuskan manusia yang arif untuk berpikir dan berupaya keras memperbaiki segala tindak-tanduknya di muka bumi. Kita bisa saja tidak menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Namun pasti, bahwa penyadaran akan betapa semakin kompleksnya isu lingkungan hidup melibatkan banyak disiplin ilmu, bahkan sekali lagi, menyentuh ruang-ruang pembicaraan ideologi. Karenanya, penulis yakin bahwa Islam sebagai sebuah ideologi yang bukan ciptaan manusia mampu menjawabnya. Sebagai ideologi yang disampaikan lewat wahyu dan satu-satunya yang diridhai oleh Allah Sang Maha Pencipta (QS 3: 18), tentu memiliki jawaban mendasar dan bahkan dengan kaca matanya sendiri memiliki rancangan unik untuk alam raya ini. Alam yang Ditundukkan Lingkungan adalah bagian hidup manusia yang berada di luar ”battery limit”-nya. Tak ayal lagi, semesta pembicaraan isu lingkungan mengharuskan kita, umat Islam, kembali lagi merujuk pada petunjuk hidupnya. Al-Islam. Islam adalah jalan hidup yang sempurna. Alquran yang mulia mengatakan bahwa Allah SWT adalah Pencipta Alam (Al-Khaaliq) yang sekaligus Pemelihara Alam Semesta (Rabbul ‘aalamiin) dan yang juga memiliki sifat-sifat Maha Adil dan Bijaksana (Al-Hakiim). a. Khalifatullah yang berpikir Banyak penafsiran yang berkembang terutama dengan berpijak pada ayat 30 surat al-Baqarah ini (”Inni jaailun fil ardhi khaliifah”). Penulis tidak bermaksud memperluas khasanah penafsiran ayat tersebut, karena kapabilitas kami masih jauh dari golongan para mufassir (yang ahli menafsirkan). Namun kiranya unsur ”tanggung jawab” dalam kata ”khalifah” cukup tersirat. Manusia bertanggung jawab karena dapat berbuat sesuatu dengan bebas pilih (”fa alhaamaha fujuuroha wa taqwaaha”). Manusia diilhami dengan keburukan dan sekaligus juga tabiat ketakwaan. Manusia juga dibekali dengan kemampuan berpikir yang berulang kali Allah menggugahnya (”afala ta’qiluun, afala tatafakkarun” dsb). Apa pun pilihannya, kerusakan atau perbaikan, sebagian alam ini ditundukkan untuk manusia (QS 36: 72), bahkan hal-hal yang belum pernah dibayangkan manusia sebelumnya (QS 43: 12-13). Walaupun demikian, Allah mengingatkan akan tugas kita sebagai pemakmur bumi ini (QS 11: 61) yang menegaskan arti penting kehadiran manusia di bumi beserta ”perlengkapan tugas” yang sudah disiapkan Allah SWT dalam bentuk ”paket nalar dan nurani”. b. Adanya ”hukum-hukum” yang tetap berlaku di alam ini (Sunatullah) Mahasuci Allah yang telah menciptakan alam ini tidak dengan sia-sia (QS 3: 191). Setiap gerakan awan dan turunnya hujan, lintasan elektron di orbitnya, bintang dan planet di tatarannya, pasti mengikuti pola aturan tertentu. Dengan mempelajari aturan dan pola ini, manusia bisa memperkirakan gerakannya, mengambil faedah darinya, serta menggunakannya untuk menembus langit (QS 55: 33). Allah SWT bukan hanya menunjukkan bahwa Dia Mahatahu atas segala ciptaan-Nya, namun menegaskan bahwa ada ketentuan-ketentuan ilmu yang pasti (QS 30: 30), dengan demikian mendorong manusia untuk mengoptimalkan fungsi akalnya yang berkenaan dengan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hukum-hukum ”alam” ini tetap berlaku sepanjang masa pada terpisahnya air tawar dan air asin. Dia Yang Mahalembut menjelaskan adanya kaidah astronomi dalam distribusi benda-benda langit (QS 6: 97 dan 16: 16). Seringkali, beberapa ayat, khususnya tentang geologi (QS 21: 31; 16: 15) dan peredaran waktu serta rotasi bumi (QS 25: 45-46; 22: 61), seolah menantang manusia berpikir akan ”rahasia” penciptaan alam raya ini. Permainan matematika serta ilmu fisika, kimia, biologi, dan perpaduan dasar-dasar ilmu tersebut terlihat anggun dan menakjubkan, tak bercacat dan terbentangkan sampai pada setiap unit terkecil ciptaan-Nya. Sudah berbilang para ilmuwan yang menemui pintu hidayahnya setelah jatuh hati pada kedalaman ajaran Islam (baca: wahyu) yang dibawa Muhammad SAW yang ummi (buta huruf) lebih 15 abad yang silam. Dua bangun logika ini, tanggung jawab sebagai khalifah dan keteraturan alam dengan sunatullahnya, menempatkan manusia pada satu posisi yang teramat penting. Dengan begitu, manusia, sebagai hanya salah satu spesies dari bermiliar-miliar spesies ciptaan (al-makhluq) Allah SWT (al-Khaaliq), terlalu penting untuk dibiarkan semena-mena berjalan dan beraktivitas, dengan segala pengaruh positif dan dampak negatifnya, di permukaan bumi. Terlalu naif, jika manusia terlunta-lunta merenungi nasibnya sambil membayangkan kesendiriannya di tengah jagad raya yang seolah tak berbatas ini, jika makhluk yang dibebani tanggung jawab besar ini tidak dibekali dengan petunjuk dari langit (hidayah) oleh sang Inovatornya (Allah SWT). Dua bangun logika di atas juga mengarahkan pemikiran kita, bahwa jika manusia menerapkan hukum yang diajarkan oleh Allah, yaitu ayat-ayat qouliyah (Alquran) dan kauniyah (hukum-hukum alam) dengan benar, manusia pasti akan sampai pada satu keteraturan dan keserasian dengan peredaran alam semesta ini. Harmonisasi. Sebaliknya, jika perbuatannya mengikuti segala hawa nafsunya belaka, maka kehancuranlah yang terjadi (QS 23: 71): ”Seandainya kebenaran itu mengikuti hawa nafsumu, akan rusak binasalah alam ini”. Kesalahan-kesalahan yang barangkali ”manusiawi” sekalipun, bisa saja memorak-porandakan tatanan alam (QS 30: 41). Berulang kali ayat-ayat Alquran mengingatkan manusia untuk berlaku takwa. Sikap yang, menurut ibnu Mas’ud (dalam pengantar tafsir Ibnu Katsir), dianalogikan seperti rasa takut melewati jalan berduri, berhati-hati, penuh perhitungan. Titah Allah SWT kepada manusia Muslim untuk berbuat secara bertanggung jawab dan harus dengan ”ilmu” (QS 17: 36) juga dikaitkan dengan dimensi ”masa depannya” (QS 59: 18). Dimensi masa depan ini sering ditafsirkan dengan hari di mana manusia dimintai segala pertanggung-jawabannya (yaumul akhir, yaumul ba’ts). Walaupun demikian, Rasulullah SAW sang suri tauladan, dengan sangat arif dan manis memadukan dimensi akhirat dan ”masa depan bumi” dalam satu nilai ”ketakwaan”. Beliau mengingatkan kita untuk tidak meninggalkan generasi yang ”lemah” di kemudian hari. Beliau tetap menanam pohon walaupun seandainya kita tahu esok hari akan kiamat (al hadits). Bahkan di dalam kondisi dan situasi kemanusiaan yang paling ”parah” sekalipun, yaitu peperangan, manusia mukmin diminta dengan tegas untuk tidak menghancurkan pepohonan (simbol ”bumi”), di samping tidak membunuh anak-anak dan wanita (isyarat ”masa depan”) dan rumah ibadah (perlambang kedekatan diri dan jalan menuju Tuhan). Barangkali, terminologi ”Pembangunan Berkelanjutan” (PB) atau Sustainable Development yang dikumandangkan oleh Komisi Bruntland pada tahun 1987 menemui relevansinya di dalam ideologi Islam. Direktur Jenderal WHO ini memang banyak memfokuskan diri pada kestabilan populasi. Namun, dalam perkembangannya, ide PB ini mencakup berbagai manajemen sumber daya alam. Beliau menyatakan: ”… a development that meets the need of the present without compromising the ability of future generations to meet their own needs.” Ayat-ayat di atas telah panjang lebar menerangkan keharusan kita bersikap arif dan tidak merusak alam karena semua dipertanggungjawabkan di akhirat kelak. Ide untuk membangun, dalam artian juga memanfaatkan sumber-sumber daya alami, dengan tetap mengompromikan kepentingan masa depan kiranya tidak terlalu sukar dipahami oleh manusia yang beriman. Ajaran akhlak Islami yang disarikan dari keteladanan Rasulullah SAW tidak memperbolehkan sikap serakah (tasrif, QS 7: 31), sikap menyia-nyiakan (tabdziir, QS 17: 27). Akhlak serta asas keadilan dan juga menempatkan sesuatu pada timbangannya (mizan) dikupas tuntas di dalam beberapa ayat Alquran dan juga hadits Nabi. Kisah para nabi (terutama nabi Sulaiman dan Yusuf as) selayaknya mengilhami benak para penguasa tentang bagaimana mengelola suatu wilayah. Keberhasilan serta kegagalan mengelola suatu sumber daya alam, akan sangat menentukan dalam perjalanan suatu masyarakat, bahkan dunia. Isu lingkungan hidup tidak berhenti pada kenyamanan tempat tinggal dan keindahan lingkungan belaka, namun sudah mempertanyakan makna serta hakikat hidup kita di alam semesta. Sebagai din yang lengkap mengatur kehidupan manusia dan muamalah sesama makhluk, maka Islam membingkai isu lingkungan ini dengan dasar ideologis yang kuat. Alam dipandang sebagai tempat yang perlu dimakmurkan dan dipelihara oleh khalifatullah fil ardh, yaitu manusia. Manusia memiliki kebebasan memilih perbuatan baik dan buruk. Tentu dengan konsekuensinya, di dunia maupun di akhirat nanti. Bagi Muslim paripurna, menjaga keberlangsungan sumber daya alam dengan cara yang islami adalah suatu keharusan dan bernilai ibadah.

Segelas Air Putih dan Pelukan untuk Hilla

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun…… telah berpulang ke rahmatullah seorang teman kami. saudara kami, sahabat kami Hilla…

Kabarnya didapat secara tidak sengaja. Sabtu sore lalu, 24 November 2007, saat membuka account friendster dan melihat buletin yang dipost oleh Wida, sahabatku, mantan teman sekelas, yang berarti juga teman sekelas Hilla, yang kini masih di Meksiko. Buletin tersebut membawa kabar yang mengejutkan. Hilla meninggal!!

It was very shocking! Saya masih butuh kepastian, dan kebetulan Risma, juga mantan teman sekelas, sedang online di YM, ternyata kabar itu benar, bahkan Risma sudah datang ta’ziyah pagi itu.

Hilla meninggal Sabtu pagi, pukul satu akibat maag kronis, dalam perjalanan menuju rumah sakit internasional Bintaro.

Ini kali kedua mendapatkan teman sekelas yang meninggal…….lebih dulu. Tanpa brmaksud mengecilkan arti kehilangan Hilla, sungguh, karena tulisan ini saya dedikasikan untuknya, kabar meninggalnya teman yang pertama membawa rasa kehilangan yang sangat..

Dia Ayu yang pertama juga teman sekelasku , tapi di sekolah yang berbeda, di CAiro sana.. yang pertama memberi kepercayaan dan Saya percaya. SAtu-satunya teman yang dalam hidupnya Saya akui paling mengerti karakter, watak, emosi dan perasaan Saya. BAgi yang mengenal siapa diri Saya bisa jadi akan punya kesimpulan yang sama, bahwa saya orang yang berbeda (untuk tidak mengatakan aneh..heheh)…dan Ayu tidak sekedar mengenal , dia memahami… Ada saat Saya terlihat sangat riang tapi memendam kesedihan…saat orang-orang hanya melihat apa yang nampak, dia menyentuh apa yang tak terlihat, memakluminya…begitupun sebaliknya…saat saya banyak terdiam, terlihat bosan tidak bersemangat, dia mengerti kapan dan bagaimana untuk menggugah atau sekedar memulai berbicara…Ayu punya kelembutan, dan keceriaan, serta yang paling penting bagi Saya, adalah kesediaannya untuk memberikan kepercayaan, kasih sayang tulus seorang teman …tanpa salah tafsir. Sahabat yang sampai saat ini tetap Saya kirimkan doa, bahkan sebuah rutinitas yang kerap dipaksakan untuk hadir ke makam dan berdoa setiap tanggal 23 Juli, hari ulang tahunnya, masih Saya lakukan, hanya tahun ini saja yang terlewatkan sejak sahabtku, Kuntum Ayu Arini meninggal, Allahummagfirlaha, wa afiha, wa fuanha..

Hilla juga membawa rasa kehilangan yang dalam… Beberapa saat setelah mampu meredakan rasa shock, Saya mencoba merenung dan menghitung momen-momen yang kami lalui bersama Hilla…jujur tak banyak, meski tak juga sedikit…tapi dari keseluruhannya menggambarkan Hilla sebagai sosok yang baik, tidak, bahkan sangat baik…pemurah….dan ada satu kesamaan dengan sahabtku Ayu, pengertian.

Saya menduga kebaikannya tidak hanya datang dari pribadinya yang memang memancarkan kebaikan, tetapi juga cermin budi yang ditanam dalam keluarganya. Saya mengenal baik keluarganya terutama tante Sentot, ibunya. Hilla tidak cuma teman sekelasku, tapi juga tetangga, keluarga besar di lingkungan Departemen Luar Negeri, di perumahan yang sama Deplu 76. Mungkin kau mengira kehidupan di tempat itu model stereotype komplek yang individualistis, sebaliknya, perumahan ini punya keguyuban yang khas.

tante Sentot juga pengurus Yayasan yang membawahi sekolah Kami, SMU Cenderawasih II, dan kebetulan saya aktif di OSIS yang kemudian menjadi SG, interaksi kami cukp sering dan kebaikan , kelembutan seorang Ibu berdarah Bali Muslim ini begitu melimpah. Hal yang sama yang saya dapatkan pada puterinya, Hilla.

Satu, satu saja kelemahan Hilla yang saya dapatkan. Dia begitu lemah terhadap cinta…terlalu setia ntuk cinta, penuh dedikasi untuk cinta……terlalu mudah berkorban untuk cinta, rela diam untuk cinta, rela tertindas untuk cinta, rela menahan dan menyembunyikan tangis untuk cinta……menderita karena cinta…

Akhhhhhh……ingin rasanya hadir di setia momen kesdihannya, sakit hatinya karena cinta, untuk sekedar menampar dan menyadarkannya, atau menasehatinya selayaknya seorang saudara muslim yang takkan rela melihat orang yang dikenalnya terjerumus dalam perangkap terdahsyat pasukan iblis. Tapi saya tak kuasa karena kebodohan , dan keengganan Saya…

Hilla punya satu lagi sifat yang menyebalkan….dia tidak suka mengeluh atas sakitnya, seingat saya kerap kali jawaban tidak apa-apa muncul tiap kali saya mengkahawatirkan kesehatannya…entah, mungkin perlakuannya berbeda pada orang yang benar-benar dipercyainya…atau lebih dekat dengannya…tapi sungguh…akumulasi ikatan yang ada antara kami ,membuat Saya kerap memperlakukannya seperti seorang saudara….adik.

Dari sekian banyak penderitaannya hanya segelas air dan sebuah pelukan yang bisa saya berikan sampai ajal menjemputnya….ya segelas air, dan sungguh karena terpaksa , sebuah pelukan…

Momen itu terjadi di waktu yang lampau…entah Saya ragu apakah ini terjadi sewaktu SAya masih kelas tiga SMA, tetapi ingatan Saya lebih kuat untuk menghitungnya semasa kuliah di antara semseter 3 sampai 5, sebalum akhirnya keluarga kami pindah rumah ke Bojong.

Saat itu Saya sedang di rumah, dan tiba-tiba Hilla datang bertamu… Ia menunggu di teras rumah , saat Abi memanggil dan memberitahukan kedatangannya…Saat saya keluar untuk menyambutnya, tiba-tiba HIlla sesenggukan menahan tangis, dan berucap bahwa ia butuh teman untuk berbicara…ini pembicaraan pribadi, jadi Saya biarkan kami berbicara di teras rumah, pada dua kursi plastik yang memang tersedia….Air putih…kerap berhasil mengurangi sedikit rasa kesedihan, setidaknya itu pernah saya rasakan, maka dengan penuh empati saya ambilakn segelas air putih, dan memaksanya untuk minum terlebih dahulu sebelulm bercerita, dan berhasil…setelah minum dia mampu menguasai dirinya…untuk kemudian bercerita………tentang keluh kesahnya, tentang penderitaannya, penderitaan buah hatinya yang sedang sakit….tentang rasa sakit hatinya, maagnya…..pada puncaknya ia tak kuasa untuk menahan tangisnya , tergetar…..ini pengalaman pertama kalinya dalam hidup saya mendapatkan seorang perempuan bercerita dan menangis sedemikian rupa, maka kebingungan yang teramat sangat begitu melanda, tapi kemudian hati yang tergetar karena iba mendorong tubuh ini untuk mendekapnya, membiarkan tangis sang adik ini  memuncak hingga menemukan frekuensi redanya, sambil mengingatkan lembut untuk tetap tabah, bersabar dan tegar…..

Saat Hilla sudah menemukan kembali kekuatannya , pelukan itu berakhir, ada doa penyesalan agar DIA mengampuni dosa pelukan tadi, karena Hilla bukan muhrimku, sebesar apapun cinta dan kasih sayang untuk menganggapanya sebagai adik. DIA Maha Bijaksana, dan pengampun, semoga dosa itu diampuni-Nya….

Penyesalan terbesar Saya bukan karena pelukan itu, tapi karena hnaya pelukan dan air putih itu saja yang bisa saya berikan, dan sekedar pengertian, atas kesedihan dan penderitaannya yang panjang, maaf Hilla…

SAtu hal yang saya syukuri, pasca momen itu saya mendapatkan kabar bahwa hidupnya kemblai bahagia, kesehariannya juga penuh limpahan kasih sayang, kesan itu terlihat saat tante Sentot menunjukkan foto wisudanya dari sekolah kademi sekretaris Budi Luhur, dengan bangga tante bercerita, bahwa Hilla adalah lulusan terbaik…dan saya tidak meragukan itu, ada rasa bangga, dan sekali lagi baahgia…karena ternyat hidupnya dilalui dengan kebahagiaan…Itu juga tercermin dpad aputeranya yang sehat…ya Putera terlihat sehat, dan kalau kau mengenal Hilaa, dalam sekejap saat memandang Putera akan mudah bagimu untuk memastikan bahwa dia memang puteranya, karena kemiripan, dan aura kasih sayang dan kebaikan bundanya…..teriring doa agar Putera kelak menjadi anak yang saleh, dengan gaya bicara sebagaimana selayaknya berbicara dengan anak berusia empat tahun , Saya menasehatinya untuk rajin-rajin belajar mengaji, dan kelak senantiasa mendoakan bundanya yang terlebih dahulu meninggalkannya, meski cinta dan kasih sayangnya, akan terus melekat dalam dirinya…..

Untuk HIlla tma yang lembut dan penuh kasih sayang …

Allahummagfirlaha, wa afiha, wa afuanha.

Tentang Nasionalisme

Berikut ada sebuah tulisan menarik dari Bang IndraJ. Piliang yang dimuat dalam koran tempo. Sebuah tulisan yang cukup tepat jika dibaca selama momen Pemira di IKM UI.

Nasionalisme Gosong Kaum Muda Papa

Indra J. Piliang

Sahabat Saya, Yuddy Chrisnandi , menulis artikel membuncah dengan judul ”Rekonstruksi Nasionalisme Kaum Muda” (Koran Tempo , 16 November 2007) Saya terperangah dengan serangan Yuddy. ”…kaum muda …. ditengarai mengalami krisis nasionalisme. Terjadi pergeseran orientasi nilai kaum muda. Kaum muda sudah kurang menghayati nilai-nilai kepahlawanan.” ukuran yang dipakai adalah peringata 10 November. Begitu pula perulangan pesan tentang harkat dan martabat bangsa iondonesia ketika berhadapandengan bangsa lain.

Bagi, Saya, nasionalisme seperti itu sudah gosong. Ia hangus oleh ulah kaum tua sendiriyang disatu sisi bicarra tentang nasionalisme, tapi di sisi lain melakukan kprupsi dan menindas hak-hak asasi manusia Indonesia. Nasionalisme sudah kehilangan harkat dan martabat, ketika hutan-hutan hancur, pedagang kaku lima digebuki, lalu anak-anak miskin penuh luka berjealjejal di jalanan memunguti sampah.Sejak awal 1970-an, nasionalisme menjadi ada dan tiada ketika semakin banyak penguasan kaum kapitalis atas hajat hidup orang banuakl di Indonesia.

Berharap kaum muda untuk mengingat Hari Pahlawan,sama saja dengan bermimpi bahwa anak-anak muda kini mampu menggerakkan revolusi. Tidak ada pahlawan tanpa revolusi. Yang sekarang menonjol adalah jalan pintas untuk mendapatkan apapun , kalau perlu dengan menundukkan diri dan nyali, sembari memanjangkan ujung lidah. Berfoya-foya dengan kekuasaan menjadi pemandangan paling telanjang atas situasi hari ini. Dan itu dilakukan oleh para tetia dan kolaboratornya di kalangan anak-anak muda juga. Hidup jelas tidak harus dijalani dengan cara susah payah.

Maka, hanya menunjuk anak-anak muda sebagai sumber kekisruhan krisis nasionalisme, sama saja dnen mengatakan ada biah tanpa pohon. Buah yang busuk justru berasal dari pohon yang berulat. Terkikisnya nasionalisme kaum muda adalah limbah dari kekeringnya nasionalisme kaum tua.  Pragmatisme dan oportunisme kaum tua justru menjadi belatung yang merusak sendi-sendi idealisme kaum muda. Dalam zaman yang serba uan ini, anak-anak muda hanya hadir sebagai akibat, tapi bukan penyebab.

Dalam diskusi yang digelar oleh Konferensi Wali Gereja Indonesia, di hadapan 37 uskup, saya ditanya soal bagaimana anak0anak muda sekarang. Saia menjawab, ”Kami masih sanggup memperbaiki negeri ini.” Yang saya sampaikan adalah perubahan satu generasi, bukan menempel-nempelkan anak-anak usia muda dalam generasi yang sudah rusak. Untuk memperbaiki negeri ini, dibutuhkan waktu 20 tahun lagi. Kalau diukur dari 1998, perubahan baru akan datang pada 2018.

Bagaimana melakukan perubahan itu? Tentu dengan menyebarkan sebanyak mungkin anak muda di berbagai sektor. , baik politik, ekonomi , birokrasi, dunia usaha, tentara, polisi, maupun jaksa. Anak-anak muda seoerti itulah yang mengubah Jerman, 20 tahun setelah gerakan mahasiswa 1968 (dikenal sebagai 68erBewegung). Jerman tidak langsung berubah sepuluh tahun setelah itu, tapi perlahan membaik kemudian. Sistem poltik dan pemerintah yang terlanjur dikangkangi rezim otoriter hanya bisa dihegemoni setelah semakin banyak orang masuk di dalamnya.

Sekarang, \bagaimana Anda bisa melakukan perubahan kalau satu orang direktorat jenderal di stu departemen begitu alergi dengan anak-anak muda? Begitu juga dengan internal masing-masing partai politik, ketika lebih banyak orang tua yang menempatkan keluarganya menjadi bagian dari pelanjut tradisi keluarga atas nama jasa pendirian partai poltik itu. Akibatnyam, anak-anak mudalah yang ingin berkiprah mendapatkan diri sebagai kelompok yang miskin papa, kalai tidak diberikan imbalan atau perlindungan dari keluarga-keluarga yang menguasai partai politik itu.

Maka sebuah manifesto tidaklah cukup, kalai tidak disertai dengan inventarisasi nama-nama anak muda yang nanti menggerakkan manifesto itu. Dan anak-anak muda itu jelas tidak ada di jakarta, satu pun, dari kelompok mana pun, entah merasa independen entah dependen dengan kelompok lain. Anak-anak muda yang menggerakkan manifesto itu barangkali bertempat tinggal di daerah-daerah terpencil, atau sedan menekuni pekerjaan sebagai pencuci piring di warung-warung makan di sebuah kta kecil negara lain, atau menjadi kelasi sebuah kapal angkutan barang.

Nasionalisme abad ini tidak bisa ditarik mundur ke bentangan abad lalu. Nasionalisme juga bukan lagi produk zaman ini. Ia hanya mewakili kepurbaan. Makna kepahlawanan juga makin digugat ketika cacat historis kian tersingkap, sebagaimana tuduhan atas Tuanku Imam Bonjol. Tantangan-tantangan keindonesiaan tidak terletak pada masa lalu, tetapi menghunjam dari masa depan, denga kcepatan kinetik.

Tapi tantangan itu selalu datang dari satu sumber, yakni ilmu pengetahuan, dengan teknologi sebagai variasi. Maka ketika anak-anak muda lebih banyak berbicara tentang kekuasaan ketimbang mendiskusikan ilmu pengetahuanadalah bagian dari proses destruksi dari idealisme anak-anak muda sendiri. Sebab, bicara tentang kekuasaan hari ini tidak berbeda jauh dengan kontes menyanyi dan menari, yakni bergantung pada perolehan SMS yang Anda terima. Kekuasaan hari ini adalah kekuasaan yang menjauh dari ilmu pengetahuan sehingga menjadi sangat anti-intelektual.

Dengan ilmu pengetahuan, nasionalisme jelas akan terkapar jatuh. Doktrin sejarah Indonesia yang mengatakan bahwa pembebasan atas kolonialisme datang dari nasionalisme adalah omong kosong. Tidak ada itu bambu runcing menang melawan meriam. Perlawanan atas nasionalisme pertama dan utama sekali datand dari penguasaan atas ilmu pengerahuanlah yang ,meruntuhkan kolonialisme, sebagaimana juga meruntuhkan kehendak hegemonis Orde Baru.

Kaum intelegensia tentu mendapatkan tempat, baik didikan barat maupun bukan. Dari sini sebetulnya diskusi tentang nasionalisme baru dan Indonesia baru harus dimulai, yakni seberapa rakus bangsa ini terhadap ilmu pengetahuan, bukan seberapa megah sebuah gedung harus dibangun. Lagi-lagi persoalan menjadi klasik: seberapa besar sebuah perpustakan dibuat di daerah-daerah ketimbang tempat hiburan, sarana belanja, atau gedung parlemennya. Kekuasaan yang terkejamsekalipun akan mudah dihadapi apabila semua warga negara memiliki ilmu pengetahuan yang cukup dan memadai. Ketakutan terbesar Saya bukanlah kepada anak-anak muda yang miskin harta, tapi lebih kepada anak-anak muda yang papa ilmu pengetahuan. Saya kira Yuddy setuju.