Fighting Dreamer

Harapan pribadi atas blog ini:

Archive for March, 2007


Thank You Aldi Donat!!!

As my promise untuk memasukkan sebuah entry perubahan dalam hidup, kehidupan dan ’sedikit’ perubahan mental Saya, maka postingan blog ini hadir di laman Blog kali ini….

Ini semua diawali dengan keprihatinan………….keprihatinan atas kondisi ekonomi keluarga yang memprihatinkan, ditambah keprihatinan harmoni keluarga saat itu, dan keprihatinan atas ketidakberdayaan mengoptimalkan potensi pribadi: kian menua tapi tak juga bijak, kia menua tak juga dewasa, kian menua tak juga merdeka, kian dewasa tak juga mampu meringakan beban orang tua…

Sejumlah keprihatinan itu membangkitkan kesadaran yang tak sekedar kesadaran tapi kesadaran yang berdaya, berdaya mengubah perilaku dan mental…multi-keprihatinan itu membanggkitkan elan of survival .

Nah, ide itu muncul ditengah kesibukan, tepatnya di’paksa’ menyibukkan diri untuk membantu seorang kawan kecil, dikemudian hari memiliki julukan Sang Pelukis Pelangi (to PPSDMS’ers II: you guys know who, hehheheh,rooooaming!), untuk terlibat dalam kepanitiaan Pemilihan Raya IKM UI 2006 lalu…

Ini bermula ketika IVan Ahda (psiko 03) Campaign Manajer dari salah seorang calon (klo nga salah Ai, Ka. BEM today) berbincang dengan sekretaris PEmira, Vira (HI 03) nanyain tentang dimana dia bisa ngambil, beli donu\at yang biasa Vira jual untuk DAnus FSI (lembaga dakwahnya FISIP)….. Nah pas lagi bingung gimana nyari duit tambahan, obrolan model gini ngena banget. BErbekal ketertarikan akhirnya ikut nimbrung dalam obrolan, ikut nanya ini itu, dari mulai harga beli, harga jual, tempatnya di mana, n how to get there, sampe dapet informasi kalau di UI ada banyak mahasiswa yang nyari duit tambahan dengan jualan kecil-kecilan ampe gede-gedean…nah sebelum berlanjut ni cerita, I kudu n mesti ngucapin terima kasih untuk kedua sahabat ini, jazakumaallah ahsanu jazaa…

Maka mulailah I jualan donat, dua hari setelah pembicaraan itu kalau tidak salah. Pagi-pagi pergi ke Ranco, naik T19 arah Rambutan turun persis di tikungan Ranco, tinggal nyeberang, kedai Aldi Donut sudah terlihat..ternyata harganya Rp 6000 perkotak dengan isi 10 buah donat. Isnya bervariasi, ada donut coklat, keju, mesis hijau dan merah, sisanya donat coklat dan awarna-warni…sebenarnya bisa pesan semuanya keju atau semuanya kacang dsb, tapi harganya berbeda, lebih mahal karena harga jualnya Rp 1000/piece, I tak berani untuk ngambil satu macam, ngambilnya yang standar aja, dengan begitu I bisa dapet keuntungan Rp. 4000 perkotak.

Pertama kali coba jual 2 kotak…..nah ini tantangan pertama dan terberat, jualan untuk pertama kalinya, di kampus lagi, ke temen2 kampus lagi……lidah terasa kelu untuk menawarkan kali pertama, hati terasa miris tiap kali ada yang bercanda minta gratisan, apalagi klo nanya ‘jualan buat apa Mar?SErambi(Lembaga Dakwah Kampus FHUI) ya?’, dan berat rasanya untuk bilang buat pribadi, sekedar itu saja….tapi karena harus jujur yaaa itu yang dijawab!….Hasilnya ternyata…hari itu habis terjual.

Keuntungannya memang sedikit, belum lagi ditambah dengan ongkos pulang pergi….klo dihitung hari itu cuma untung tiga ribu rupiah saja. Tapi ada perasaan lain…Hari itu seolah-olah menjadi momen pencerahan, awal sebuah langkah perubahan baik mental maupun paradigma, bahwa kemandirian adalah keniscayaan..mungkin terlambat bagi gue untuk mulai mandiri, tapi itu jauh lebih baik dari pada tidak sama sekali…Hari itu seolah-olah menemukan kepercayaan diri dalam bentuk yang kuat, karena ia disertai dengan harga diri, rasa bangga, tak perlu merasa minder dengan uang sedikit… I bisa menegakkan kepala, karena yang sedikit didapat dari keringet sendiri….dari yang kecil ini kemudian tumbuh kesadaran untuk mulai menggali potensi diri dan mengkapitalisasinya to stay survive…heheh semoga ini nga keterusan dengan mengeksploitasi potensi orang lain, na’udzubillah!

Sejak hari pertama kemudian memperbesar kapasitas, pernah saya mencoba secara bertahap memperbesar jumlah dagangan, lima hari, itupun menang momen, ada Pemira UI dan Muktamar Madani Salam, dalam lima hari di hari pertama jual lima kotak ,hari kedua dan seterusnya sampai hari kelima jual 10 kotak , alhamdulillah laku semua…sejak saat itu image pedagang donat mulai melekat dalam diri I, menguntungkan karena beberapa pelanggan kerap mengeluh klo saya lupa ngambil donat…hehehe…smoga donatnya nga punya zat addict…nga pernah nyari tau..Tapi dari segi rasa memang Aldi Donat berbeda, penampilannya mungkin tidak begitu menggugah selera, tapi rasanya yang gurih, empuk, dan tidak gatal di tenggorokan adalah perpaduan yang membuat kawan-kawan nga ragu untuk membeli…Sampai sekarang I masih jualan, meski sekarang nga sepenuhnya bergantung dari uang donat, since I am also a private teacher and won a scholarship…

Ada hikmah lain yang didapat dari berjualan, menjadi pedagang kecil….di hari kedua dan seterusnya , saya memtutuskan untuk menggunakan kereta ekonomi pulang pergi, stasiun UI ke stsn Tanjung BArat, dari Tanjung Barat masih harus berjalan +- 300 meter ke Ranco, dan itu dilakukan rutin tiap bagi ba’da shubuh….

Hikmah pertama, bahwa denyut kehidupan sudah mulai bahkan sebelum shubuh, cobalah datang ke pasar2 tradisional, di shubuh buta kereta arah jakarta dijejali oleh para pekerja, pedagang pasar, pedagang kelontong yang mengadu nasib di Jakarta…sementara selama ini I masih punya banyak waktu luang yang kerap terbuang percuma klo tidak diisi dengan mengaji dan dzikir…memahami bahwa saat kita memutuskan tidur lagi ba’da shubuh sedangkan orang-orang berjuang untuk bertahan hidup di luar sama menimbulkan rasa jijik, ditambah lagi dengan kenyataan bahwa I sudah dewasa dan tiada pantas lagi bergantung sama orang tua…its just horrible!…So now I appreciate time better, not well enough tough..

hikmah selanjutnya, pernah suatu kali saat menunggu kereta arah Depok di stasiun Tanjung Barat, ada ribuan buah jeruk yang membusuk dibiarkan di belakang stasiun..terbetik dalam pikiran..ya ampunnn kasian ya pedagang kecil, udah pendapatannya nga seberapa, trus klo nga laku nga bisa jual buahnya berhari-hari terpaksa harus dibuang…mulai saat itu saya jauh lebih menghargai para pedangan kecil, jauh lebih menahan diri untuk menawar sewajarnya bahkan klau perlu tidak usah nawar, meski harganya lebih mahal, ini masalah keberpihakan klo kata Pak Rahmat Malaka….Saya jauh lebih menghargai uang dan lebih mudah bersedekah dengan kesadaran yang terbentuk…

Hikmah lainnya, dengan berjualan membuat saya mampu lebih menahan diri untuk mengumbar nafsu, baik makan, nyewa komik, dan hal lain yang memboroskan uang…karena I harus mensiasati agar keuntungan yang kecil itu bisa mencukupi dan bisa langgeng..

intinya ada peningkatan spritualitas sosial ketika kemudian memutuskan mengambil langkah revolusioner itu….ini adalah Petunjuk Allah yang saya syukuri, alhamdulilah…dan hal ini mendatangkan banyak sekali kemudahan hidup setelahnya yang Allah berikan…

Ya Rabb, jadikanlah hamba termasuk orang-orang yang pandai bersyukur, sebagaimana Sulaiman A.S. termasuk orang yang bersyukur…

Suluh Untuk Merdeka*

*ini tulisan Subcomandante Tyan Malaka atas keprihatinan dilegonya Indonesia, sebuah suluh untuk menyadarkan orang-orang minim keterpanggilan seperti SAya misalnya, untuk berjuang dan meLAWAN!!!!!!

Demi Dolar Bangsaku Dijual !!!! (sebuah Catatan Keprihatinan atas pengesahan UU Penanaman Modal) Dikebat oleh seratus rantai pengharapan, tunduk pada keinginan dan amarah, diburunyalah harta yang tiada terkira dengan jalan yang tiada halal, oleh karena keinginan akan kelezatan hawa nafsu (Bhagahavad Gita, Percakapan keenam belas) Hari ini lengkap sudah nestapa bangsaku, lara menjadi paripurna sebab dihari ini disahkan sebuah regulasi yang akan memfasilitasi penjajahan baru atas bumi Nusatara yang Merdeka ini. Ya hari ini politisi-politisi Senayan ”yang terhaormat” itu tanpa ragu mengesahkan RUU Penanaman Modal menjadi Undang-undang Penanaman Modal yang akan mulai berlaku 30 hari kedepan. Tentu tidak akan menjadi permasalahan bila Investasi (terutama asing) ditempatkan secara proporsional dalam membangun perekonomian bangsa kita. Namun apa jadinya bila kita ketergantungan dengan modal asing? Kondisi ini tidak hanya membuat kita malas, tetapi secara langsung akan membuat kemandirian dan kedaulatan kita semakin teramas. Saat ini tercatat perekonomian kita didominasi oleh modal asing yang mencapai kisaran 70%. Sekelompok ”intelektual” mengatakan bahwa kita tidak akan mungkin membangun ekonomi tanpa modal asing, seorang Profesorku yang menjadi penasihat ahli perancanangn undang-undang ini bahkan meledek Ir. Soekarno yang pernah berkata ”Go To Hell with Your Aid” pada modal asing tahun 60an silam. Benarkah anggapan itu? Entahlah aku bukan seorang ekonom yang pandai mensimplifikasi realitas sosial dalam model-model ekonomi dan diagram cartesius, tapi bagiku ungkapan-ungkapan itu lebih menunjukan sebentuk inferioritas kita sebagai bangsa yang berdaulat. Tentu juga tidak akan menjadi masalah jika Investasi (lagi-lagi investasi asing) memiliki wajah yang lebih manusiawi. Kenyataannya kini Invetasi (terutama asing) kerap menjadi aktor dalam berbagai bentuk pelanggaran- pelanggaran Hak-hak ekonomi sosial dan budaya rakyat Indonesia. Negara dan Korporasi Internasional kerap berselingkuh menindas rakyat. Tak tercatat berapa kasus-kasus pelanggaran hak-hak buruh oleh industri manufaktur, pelanggaran hal-hak masyarakat adat yang tanah ulayatnya dirampas oleh korporasi kehutanan, atau perusakan lingkungan oleh korporasi-korporasi pertambangan. Freeport, Newmont, Lapindo hanyalah beberapa nama dalam deretan dafttar hitam pelaku kejahatan korporasi. Juga tidak akan menjadi masalah jika perumusan Undang-undang ini melibatkan masyarakat (dari berbagai lapisan tanpa pandang bulu) sebagai pemagang kedaulatan tertinggi bangsa ini (pasal 1 ayat (2) UUD 1945). Kenyataannya pembahasan RUU ini amat sangat tertutup bahkan cenderung kejar tayang. Yang lebih menyakitkan adalah pemerintah lebih mendengar aspirasi pihak asing, terbukti saat Lord Powell (utusan PM Inggris) datang menemui Jusuf kalla dan mendesak agar pemerintah segera mengesahkan RUU ini. Gila ! tidakah ini sebuah bukti bahwa pemerintah telah diintervensi? Setidaknya ada beberapa hal bermasalah dalam regulasi yang memfasilitasi kebuasan kapitalisme ini : 1.UU ini mengadopsi (baca: Menjiplak habis) aturan dalam World Trade Organization (WTO) terutama mengenai MFN (Most Favoured Nation) dan NT (National Treatment) Dua konsepsi yang mendasari perdagangan bebas-nya WTO ini akan berdampak besar bagi bangsa kita. Dengan MFN bangsa kita dilarang membeda-bedakan modal asing yang hendak melakukan investasi di Indonesia. Artinya pemerintah dituntut untuk memberikan perlakuan yang sama terhadap semua modal asing yang menanamkan modalnya di Indonesia. Dengan kata lain pemerintah dilarang menolak keberadaan (atau masuknya) modal asing dari negara atau korporasi yang terbukti telah melakukan kejahatan-kejahatan transnasional seperti kejahatan HAM, pelanggaran demokrasi, kejahatan lingkungan, pelanggaran terhadap hak-hak buruh dan sebagainya. Pemerintah tidak boleh menolak masuknya pisang dari Karibia yang telah terbukti diproduksi dengan merusak lingkungan misalnya. Pemerintah juga tidak boleh menolak masuknya modal asing karena alasan-alasan politik dan alasan lain yang tidak terkait langsung dengan perdagangan. Sungguh disepakatinya Undang-undang ini membuatku terperangah sebab hanya dua partai yang menyatakan nota keberatan (minderheids nota) atas UU ini yakni PKB (yang mengklaim sebagai partai lingkungan, yang belum teruji komitmennya dalam pemajuan ekologi) serta PDIP (partai yang penting oposisi sama pemerintah). Beberapa partai yang kritis terhadap politik luar negeri pemerintah tidak satupun yang menyelipkan sedikit nota atas pemberlakuan ketentuan ini. PKS yang katanya anti Israel itupun bahkan tidak bergeming saat UU ini disahkan. Padahal dengan MFN ini pemerintah akan memiliki legitimasi saat membuka hubungan dagang dengan Israel atau korporasi Israel. Ketiadaan hubungan diplomatik tidak dapat menjadi alasan. Aneh jangan-jangan sikap Anti-Israel nya PKS itu Cuma lips service? Berbicara tentang partai dan gerakan Islam. Setauku tadi pagi (saat pengesahan RUU PM ini) hanya Hizbut Tahrir Indonesia yang menggelar aksi massa menolak pengesahan UU PM. Kemana gerakan dan partai islam lainnya? Apakah mereka sibuk dengan tafsir kekuasaan? Atau Sibuk mengklaim kebenaran keyakinannya masing-masing melalui hegemoni pemikiran (mau itu yang liberal, konseravatif, revialis, moderat dll). Yang membuatku muak adalah ketika FPI sebuah ormas Islam yang katanya penegak kebajikan dan melawan kemungkaran itu justru menyerang rekan-rekan Papernas (Partai Persatuan Pembebasan Nasional) yang hendak berdemostrasi menolak RUU PM sekaligus mendeklarasikan berdirinya partai mereka. Dengan alasan Papernas adalah ”komunis” FPI tanpa malu menyerang demonstran yang mayoritas wanita. Sungguh bodoh !!! seharusnya mereka menyadari kalo yang mungkar (jahat) itu ya pemerintah dan DPR yang mau-maunya mengesahkan RUU Penanaman modal sialan ini. Kadang saya berfikir FPI mungkin mendapatkan keuntungan finansial dari aksi-aksi brutal mereka. 2.UU Penanaman modal menganut konsepsi National Treatment dalam WTO Konsepsi kedua ini adalah sebuah konsepsi yang menuntut pemerintah untuk memperlakukan produk-produk (barang dan jasa) dari modal asing yang berinvestasi di Indonesia dengan perlakuan yang sama dengan produk-produk (barang dan jasa) dari dalam negeri itu sendiri. Dengan kata lain peraturan ini melarang pemerintah untuk melakukan kuota impor beras dari vietnam dan Uni Eropa untuk melindungi petani lokal, melarang pemerintah untuk memproteksi industri tekstil dalam negeri agar dapat bertahan dari serbuan tekstil cina dsb. Bahkan pemerintahpun dilarang melakukan perlakuan yang berbeda terhadap sebuah modal asing meski korporasi tersebut (atu negara tempat berdirinya korporasi tersebut) terbukti melakukan pelanggaran- pelanggaran HAM, demokrasi lingkungan dsb. 3.UU Penanaman modal yang baru tidak mensyaraktkan berdirinya modal asing dengan status hukum berupa Badan Hukum Indonesia. Sebelum ini modal asing yang berinvestasi di Indonesia harus ber badan hukum Indonesia , umumnya berupa PT (perseroan terbatas) sehingga mengharuskan modal asing bekerja sama dengan modal dalam negeri (joint venture atau joint enterprise), artinya proprsi saham yang dimiliki modal asing dibatasi dengan kepemilikan modal dalam negeri dengan tujuan agar Modal Dalan Negeri lebih berkemabang (meski dalam praktek hal ini tidak terjadi). Dengan UU baru ini maka sebuah korporasi internasional dapat langsung menanamkan modal di Indonesia tanpa harus ber Badan Hukum Indonesia, tanpa pembatasan jumlah saham yang dikuasai asing (bisa 100% asing) dan keseimbangan dengan modal dalam negeri. 4.Dalam UU ini Negative List Investment dikeluarkan dalam bentuk Peraturan Presiden. List yangn memuat sektor2 yang tertutup bagi investasi asing ini sebelumnya diatur melalui SK BKPM (badan Koordinasi Penanaman Modal), memang ada sedikit kemajuan yakni saat ini dengan peraturan yang lebih tinggi : Perpres. Tetapi apa yang bisa diharapkan jika mentalitas pemimpin kita masih mentalitas pemimpin terjajah. Bisa jadi dia (baca : SBY) tidak mencantumkan pendidikan dan kesehatan dalam Negative List , sebab bisa jadi Negative List diatur oleh lobi asing melalui pertemuan2 macam infrastructure summit, WTO Forum dll!! kalo pemimpin kita sekelas Chavez atau Morales -yang menggratiskan pendidikan dan kesehatan dan masa bodo dengan US- mungkin kita bisa sedikit lebih tenang … 5.UU ini memberikan kemudahan bagi modal asing untuk melakukan repatriasi modalnya ke luar Indonesia. Hal ini tentu akan berdampak buruk bagi buruh-buruh kita. RUU PM memberikan peluang industri manufaktur memindahkan modalnya ke luar negeri kapan pun. Industri tersebut diantaranya pabrik garmen, sepatu, mainan anak, tekstil dan industri lain yang bersifat padat karya dengan jumlah buruh perempuan hingga 90%. Akibatnya jaminan atas pekerjaan bagi buruh perempuan akan semakin melemah. 6. Yang paling parah adalah fasilitas perolehan tanah bagi modal asing yang luar biasa gila dan keterlaluan. Bayangkan Modal asing yang bisa tanpa status Badan Hukum Indonesia itu dapat memperoleh Hak Guna Usaha dan Hak Guna Bangunan di atas tanah bangsa Indoneia selama masing-masing 90 tahun dan 80 tahun !!! dan itu bisa diperpanjang. Seorang kawan bahkan berkata kenapa gak sekalian 350 tahun aja biar sama kayak waktu kita dijajah VOC dan Belanda dulu ? Padahal UU pokok Agaria yang konsisten dengan Sosialisme Indonesia hanya membatas HGU dan HGB selama 35 tahun dengan perpanjangan sebanyak 25 tahun saja…….Bayangka n berapa banyak sengketa-sengketa agraria yang akan muncul. Berapa ribu petani yang harus bersaing dengan modal asing untuk mendapatkan tanah!!! Apalagi selama ini track record pemerintah (selaku pemegang kuasa publik atas tanah) selalu lebih berpihak kepada kuasa modal ketimbang pada rakyat semdiri. Masalah tanah ini juga akan menjadi sumber konflik antara modal asing dengan masyarakat hukum adat yang kerap kali dimarginalkan oleh modal asing yang berkonspirai dengan kuasa negara dan moncong bedil tentara busuk. Tidak baik berharap muncul konflik sosial tetapi aku berharap kondisi ini dapat memicu radiklisasi petani dan masyarakat adat untuk secara aktif memperjuangkan hak-hak dasar mereka pada negara. Bila perlu gunakan cara-cara yang dilakukan oleh Zapatista yang berhasil mewacanakan Indegenous People Rights serta menjadi pelopor demokratisasi di Mexico. Semua ini hanyalah beberapa contoh aturan2 bermasalah dalam UU penanaman modal. Entah apa yang akan terjadi kedepan….semoga ada sekelompok orang yang dapat jeli dan kritis melihat permasalahan ini. Kemudian orang-orang itu berhimpun dalam sebuah kekuatan, menyadarkan massa rakyat kemudian menyulit api…..dan BUM!!!! Sebuah transformasi sosial terjadi… Sebagian orang beranggapan bahwa dengan mengesahakan UU PM ini maka akan membantu dipulihkannya iklim investasi di Indonesia. Tetapi apakah dengan pengesahan UU PM ini serta merta iklim investasi akan berubah? Menurutku seharusnya yang dialkukan untuk mengembalikan iklim investasi adalah dengan melakukan law enforcement terutapa terhadap tindak pidana di bidang perekonomian such as korupsi. Pemerintah juga seharusnya memprioritaskan penyehatan birokrasi karena selama ini salah satu faktor investor ogah mananamkan modalnya adalah tingginya cost investasi di Indoensia salah satunya karena Korupnya Birokrasi dan Prosedur Birokrasi yang rumit dan berbelit2 (akibat tidak adanya moordinasi dan integrasi). Menolak UU PM bukan berarti menolak asing ! juga tidak mengajak anda menjadi seorang Xenophobia! Sebagai bangsa yang berdaulat dan merdeka hendaknya kita proporsional menempatkan modal asing, tidak serta merta meniscayakan tidak ada pembangunan tanpa modal asing !! Rekan2 mari terus pantau dan kritisi UU PM ini pengesahan undang-undang ini bukanlah akhir perjuangan. Masih ada upaya hukum yang dapat dilakukan (Judicial Review), kalaupun itu tak bisa dilakukan bukankah kita bisa mendorong sebuah pembangkangan sipil ? Lawan rezim UU Investasi yang tidak pro rakyat!!! Ketahuilah bahwa sejatinya demokrasi adalah demokrasi politik yang dibarengi dengan demokrasi dan kedaulatan ekonomi !!! Salam dan Tabik Yustisia Rahman Penggiat CONFRONT (Community For Freedom And Social Transformation) “Dunia ini cukup untuk memenuhi semua kebutuhan manusia tetapi tidak untuk keserakahannya” (Mohandas Karmachand “Mahatma” Gandhi

Impian Juara, Tegar Berdikari

Awal mula impian itu sederhana…beberapa hari lalu saya berkepentingan untuk datang ke Pusgiwa untuk memimpin sidang Forum Mahasiswa IKM UI, entah kenapa kawan2 memilih Saya untuk melengkapi Presidium Forma yang harus ditinggalkan saudara Fahri Mipa yang telah habis masa tugasnya di BPM MIPA, sekedar infromasi FORMA beranggotakan ketua2 lembaga dilingkungan IKM UI atau perwakilannya, dan presidium dipilih untuk bertugas selama setahun.

Sejakartanya sidang dijadwalkan pukul 1600, tapi dasar mahasiswa, Indonesia lagi, datangnya pada ngaret. Sekedar meluruskan fakta: saya juga baru datang pukul 1617 ;p. Baru dua orang lainnya yang sudah hadir, itupun karena kedua mbak itu (Nisaa dan Laela) adalah penghuni pusgiwa selaku anggota DPM UI, tuan rumah laaah.

Sambil menunggu ngintip ruang sebelah, tepatnya menjajah, karena kerap kali I datang seenaknya menyapa sana-sini, ganggu sana sini…pas kebetulan ada poster tergeletak…posternya berjudul Lomba Lari 10 KM UI, hadiah yang ditawarkan lima juta untuk pemenang pertama, tapi ada ketidakjelasan, apakah uang sejumlah itu untuk masing-masing kategori atau jumlah toatl bagi seluruh juara satu…I dunno…..

Nah , pengumuman ini memunculkan impian dan harapan untuk mendapat uang sejumlah itu…karena I butuh…. Baru beberapa hari lalu ada seorang teman yang bercerita bahwa semenjak tahun 2006 beliau sudah lepas dari tanggungan orang tua. Beragam cara, halal tentunya, beliau capai, ngajar misalnya, atau nulis buku, jadi editor (wah ketawan deh siapa).

Sejak kecil sifat dasar Saya tidak mau kalah, kerap kali sifat ini menyelamatkan diri dari keterpurukan berkepanjangan, kalau teman-teman membaca ‘hard work always pay’ disitu tertera diakhir semester Saya nangkring di nomor dua dikelas. Prestasi ini salah satunya dipicu oleh ketidakmauan untuk dikalahkan, apalagi sama cewe, no way! seperti harga dirimu diinjak2. Waktu itu dikelas yang ranking 1, dan 2 cewek keselip satu cowok di ranking tiga no urut selanjutnya cewek semua. I? ranking terakhir lah dengan lima angka merah yang salah satunya nilai empat…gerammmmmm…..

Kondisinya sama, meski sifat tak mau mengalah itu lebih resesif ketimbang sifat malas gue saat ini (hal ini terjadi semenjak I masuk kluliah), tapi tetap saja, harga diri gue terusik….udah kenyataan ipk beliau saat ini lebih baik, berpeluang jadi mapres, sama2 sibuk, satu program kekhususan, gue ngerasa nga beda jauh2 amat, n sejujurnya i can do better seandainya nga malas aja…dan yang paling mengganggu jelas…Dia CEWEK!!!!

Sekedar kembali meluruskan, Saya tidak punya pandangan buruk terhadap perempuan, kebalikannya bahkan Saya menghormati perempuan, my mom kan perempuan, tiga saudara kandungku perempuan, my two steps sister are girls, dan banyak perempuan yang berjasa dalam kehidupan gue(guru, teman, sahabat de el el)…tapi saya juga laki-laki yang punya ego, nga mau kalah sama perempuan. :P

Sebenarnya kondisi saya saat ini Alhamdulillah tidak lagi sepenuhnya bergantung pada orang tua, tapi setelah berhitung tetap saja beban orang tua masih agak berat kalau tiap minggu I masih minta subsidi….

Untuk uang kuliah dan buku alhamdulillah berkat beassiwa Sarjana gratis tv tujuh, orang tua tak lagi perlu bersusah payah…ini kebesaran dan kemudahan yang Allah berikan karena sejujurnya orang tua sudah angkat tangan untuk membiayai kuliah, fakta yang terlontar oleh bunda tercinta beberapa minggu setelah beasiswa itu ditayangkan. Hanya saja beasiswa itu agak merepotkan sistem pencairannya dan terbatas hanya untuk uang kuliah in form iuran de el el, plus uang buku saja. Sedang biaya hidup untuk makan, fotocopy, ngeprint tugas de el el cukup berat.

But I stay survive cause I am a fighter(apa sih)…beruntung sudah lama saya mulai berdikari, berdiri di atas kaki sendiri plus dipapah kiri kanan sama orang tua hehehheh….ya saya jual donut dan ngajar less privat, dikesempatan lain akan saya post cerita mengenai ini. Dengan kedua kegiatan ini I bisa survive, ditambah I diizinkan untuk masih menumpang gratis di asrama ppsdms (maaf ya Pak Musholli saya baru bisa nyumbang doa..hiks). Tapi tetap tiap minggu masih ada subsidi dari orang tua…..

Setelah mendengar cerita beliau, yang jujur keinginan berdikari beliau menurut saya lebih karena dorongan kesadaran pribadi untuk dewasa sepenuhnya ketimbang orang tua beliau tidak lagi sanggup mendukung secara ekonomi, dunno juga sih but penilaian pribadi saya demikian. Nah ,fakta inilah yang menantang, menusuk, menyerang, membakar nurani Saya sekaligus wajib rasanya untuk angkat topi ke orang ini.

I have to change…Sebenarnya dengan ikhtiar yang I lakukan sekiranya dimanage dengan baik, subsidi dari bunda tak perlu ada dan ini berarti mengurangi beban keluarga secara signifikan, terhitung Adik kandung saya masih duduk di SMA, dan adik ku yang lain terancam untuk putus sekolah.

Nah berbekal kondisi ini, poster tersebut menawarkan impian. I have to win… Saya pejalan yang tangguh, dan kerap kali petualangan jalan panjang diselingi dengan berlari. I can do it, i believe i can…lima juta rupiah, cukup untuk merajut mimpi2 selanjutnya….

Tak sekedar bermimpi, I mulai ikhtiar, besok pagi insya allah adalah tes lari kedua setelah hari minggu kemarin menempuh jarak yang diperlombakan dengan catatan 57.42 menit…hampir satu jam, jauh nian ternyata…tapi dengan begitu terukur bahwa jantung I sehat, sangat sehat malah, alhamdulillah. Jarak yang ditempuh itu tidak membuat I k.o pingsan atau muntah2, bahkan nga butuk lebih dari 10 menit untuk recover dari napas yang ngos-ngosan…. I will perbaiki catatan waktunya….dengan demikian impian itu insya Allah bukan sekedar mimpi…tapi jalan untuk berdikari seutuhnya…

Ya Robb hamba berikhtiar sudilah kehendak-Mu mengabulkan harapan dan doa hamba…

Me

fighting dreamer

The Contract*

Ini sebenarnya tulisan lama tapi karena Saya menilainya termasuk tulisan yang cukup baik so I post it here, untuk diabadikan, have a read

Segala puji bagi Allah yang maha pemberi nikmat dan pemberi kebahagiaan. Awal semester gasal selalu memberikan nuansa baru, wajah-wajah baru, yang artinya darah-darah baru para ‘pejuang keadilan’ itupun kalau nantinya kita mutusin untuk jadi pejuang.

Bagi saya pribadi momentum ini selalu mengingatkanpada sosok lampau, yang dua tahun lalu(sekarang empat tahun lalu hiks belum lululs juga) mengenakan jaket kuning, begitu bersemangat ikut prosesi kampus. Nuansa itu juga memunculkan romansa sebuah euphoria kegembiraan atas sebuah keberhasilan, masuk FHUI. Rasa syukur yang sedemikian mendalam, menggerakkan hati untuk senantiasa menyebut nama Dia yang Nama-Nya boleh disebut’yang memiliki nama-nama yang mulia, yang menunjukkan sifat-sifat dan kegungan-Nya. Ya dengan penuh khidmat rasa syukur ini terjelma dalam rangkaian kata dan doa.

Kalau ada orang yang mengatakan masuk UI adalah factor keberuntungan , maka saya-lah penentang utama anggapan itu. Bagaimana tidak, untuk lulus saya harus berjuang dengan rajin belajar, giat berlatih dan minum susu setiap hari. Tidak cukup, jelas! Karena ketika manusia berusaha maka diujung usahanya ada kuasa Sang Pemilik Takdir Yang Maha Menetapkan, maka bersimpuh lah saya dalam rutinitas insidental di keheningan malam, menangis berharap kemudahan dan ketetapan-Nya, tak lupa juga amalan-amalan nafilah, ribuan doa tak bosan-bosannya menanjaki langit mengetuk ‘arasy, berharap sudilah Si-Empunya langit dan bumi menerima dan mengabulkan doa-doa itu. Saya yakin banyak di antara teman-teman pun demikian. Tidak pernah saya rasakan begitu giatnya beribadah selain ketika menghadapi ujian masuk UI, meminjam istilah bang Uloh serajin-rajinnya tahajud anak UI pas lagi ujian SPMB.

Malu! Ya semalu-malunya itulah yang kita lakukan. Kita mengingat Allah hanya saat kita sedang mendapat musibah, menghadapi masalah, dalam kesempitan, atau bagi orang-orang yang sudah setingkat lebih baik imannya, maka ditambah saat berbahagia berucap syukur, sekedar sujud syukur dan sebagainya. Frekuensi kita mengingat Allah tidak akan pernah sebanding dengan nikmat yang Allah berikan kepada kita, itu kalau kita suka mengingat Allah. Memangnya berapa kali kita mengingat Sang Pemilik jiwa-jiwa yang berdosa ini? Emangnya pas berangkat kuliah kita nyebut nama-Nya? pas makan kita mensyukuri nikmat-Nya? pas bercanda kita mengingat haknya, atau bahkan pas bernapas kita menyadari eksistensi-Nya?

Teman-teman, izinkan saya untuk membawa memori kita jauh, jauuuuuuuuuuuh ke belakang. Tinggalkan memori saat kita berteriak (mungkin), bertakbir, bertahmid, berseloroh, bercanda, berbunga-bunga atau mungkin dengan sedikit menyombong saat kita mengekspresikan kegembiraan atas kleberhasilan kita masuk UI. Tinggalkan pula memori saat kita pun meluapkan kegembiraan saat tahu kita lulus dari SMU atau yang sederajat dengannya, tinggalkan karena saya akan membawa teman-teman jauh…..jauuuuuh ke dalam memori yang boleh dikatakan hilang…. Memori itu bahkan jauh dari ketika pertama kali ayah memberikan sepeda, atau ibu mengantar ke sekolah, pertama kali kita berjalan, pertama kali kita mengucap kata ‘mama’. Oooh TIDAK! memori itu lebih jauh dari ketika pertama kali mendengar lantunan azan, dan iqamat di kedua telinga kita, oleh ayah, paman, atau siapapun yang kebetulan mengantar ibu saat bersalin. Atau kalau tidak punya kesempatan itu, setidaknya pertama kali kita merasakan pukulan dokter atau suster ‘iseng’ memancing tangis pertama kita, kalau masih nga berkesempatan melewati peristiwa tragis itu setidaknya waktu pertama kali teriak begitu nongol deh. MASIH jauuuuuuuuh lagi teman-teman akan saya bawa. Lebih jauh saat kita berlomba dengan ‘saudara-saudara’ seangkatan kita berenang membuahi bagian dari diri kita yang lain. Kita kembalikan ingatan kita yang sudah hilang dari memori ragawi, mungkin tak pernah lekat baik di otak besar, otak kecil, kanan, kiri, depan atau otak udang kita. Tidak, sekali lagi tidak teman, ingatan itu diabadikan dalam Kalam-Nya : "dan (ingatlah) ketika Tuhan-mu mengeluarkan keturunan anak-anak Adam dari sulbi mereka, dan Allah mengambil kesaksian terhadap jiwa mereka (seraya berkata), “Bukankah Aku ini Tuhan-mu?”, Mereka menjawab, “Betul(Engkau Tuhan kami), kami menjadi saksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya kami (bani Adam) adalah orang-orang yang lengah terhadap ini” (Keesaan Tuhan). Al’araaf : 172.

Kita sama-sama anak hukum, dan sama cerdasnya setidaknya kita sama-sama membuktikan kita mampu masuk UI. TEntunya kita sama sepahamnya, bagaimana hakekat ayat ini adalah kontrak bagi kita di kehidupan fana. Ibaratnya kontrak sederhana maka ada para pihak , ada hal tertentu, dan ada hak dan kewajiban yang terlahir karenanya. Kelak tidak akan ada alasan bagi kita ketika dimintakan pertanggungjawaban kemudian berdalih, bahwa tiadalah kita mendapat keterangan tentang keesaan Rab. Bahkan adagium hukum , bahwa ketidaktahuan hukum bukan menjadi alasan pemaaf  dalam asas publisitas, maka apa pantas kita berdalih dari suatu perkara yang kita ‘bersaksi’ atasnya.

Sepantasnya, Tuhan dilibatkan dalam keseharian kita. Pengakuan terhadap eksistensi dan keesaan-nya melahirkan kewajiban mengikuti perintah, dan menjauhi larangan-Nya. Melahirkan kewajiban ber-Islam secara kafah tidak melulu berkutat pada ibadah , tetapi menjalankannya dalam satuan Islam yang komprehensi (syumuliah). Jangan pernah dan jangan sekali pun kita berkata, “Jangan bawa-bawa nama Tuhan dalam perkara ini , dalam perkara itu, dalam perkara anu, di sini, di situ , sekarang.”

Apa jadinya seandainya Tuhan balik bertanya, pergilah, dan cari bumi tempatmu berpijak yang bukan bumi-Ku, langit tempat mu bernaung yang bukan langit-Ku, makanlah makanan yang bukan Aku yang mengaturnya, atau hiduplah di kehidupan yang bukan milik Ku lah kehidupan itu. Apakah pantas kita bersikap demikian, memisahkan secara picik apa yang kita sebut dengan wilayah ibadah sebagai wilayah pribadi dengan dunia ‘yang kita miliki’ yang ternyata bukan milik kita?

Teman-teman, kita telah berjanji, bersaksi atas keesaan-Nya, maka beruntunglah mereka yang memenuhi janji nya saat berpulang dan kembali. Celakalah kita, saat perjumpaan yang kedua kita mendapati janji itu tidak ditepati.

Akhirnya,sebagai manusia, apalagi yang ‘tercerahkan’ dengan kesadaran hukum, sudah seyoyanya kita berusaha menepati janji itu. Maka, ketaatan dan ketaqwaan terhadapnya adalah suatu kewajiban asasi dalam setiap nafas kita. Seberapa besar kita berusaha dan bagimana kita berusaha menjalankannya?

Untuk itu izinkan saya mengutip ajaran Imam Al-ghazali bagaimana beliau mengkategorikan bentuk-bentuk ketaatan manusia kepada Allah SWT, yang pertama karena takut akan siksa neraka-Nya, yang kedua karena berharap surga-Nya, dan yang ketiga adalah karena cinta kepada-Nya. Mungkin kita belum mampu membalas cinta-Nya, tapi apa kita tiada pernah tergiur akan surganya, siapa pula mau masuk neraka-Nya yang teramat pedih dan tak terbayangkan siksaan-Nya. Duhai, Abu Nawas pun berseru Ya Allah Ilah ku , tidaklah aku pantas untuk surgamu, tapi tidak kuat pula aku atas neraka –Mu.

Akhukum Fillah, Umar Badarsyah

Pejalan Tangguh I

Segala puji bagi Allah yang Maha Berkehendak, Maha Menciptakan, yang atas kehendak-Nya hamba diberikan sepasang kaki yang sempurna dan kuat …..

Saya khawatir kalau judul pejalan tangguh itu tidak sesuai dengan kaedah Bahasa Indonesia, berhubung nilai mata pelajaran Saya tidak terlalu istimewa untuk pelajaran ini. Sepanjang ingatan Saya , Nilai Ebtanas Murni SMP untuk Bahasa Indonesia yang Saya capai hanya 6,69. Angka yang terbalik Saya dapat untuk Bahasa Inggris. Saya minta teman-teman memaklumi, yang Saya maksud dengan judul tersebut adalah keinginan untuk menggambarkan sosok pribadi yang doyan jalan, jalan kaki. Apa awalan Pe- bisa menjadi ‘orang yang suka’, entah Saya butuh masukan dari kawan-kawan yang lebih ahli. Oh iya jangan gusar kalau saya sering mengganti penggunaan kata ganti subyek dengan Saya kadang Aku, kadang I atau malah GUe, kesanlh yang ingin saya tonjolkan, sebisa mungkin suasana akrab yang melibatkan emosi pembaca Saya coba tawarkan…butuh banyak kritikan juga neh dari teman-teman.

Berjalan kaki itu menyenangkan, menyehatkan, I burn a lot of calories and fat when I am walking…Owh mungkin ini salah satu alasan kenapa berat badan Saya tak pernah naik. Damn, kalau kau tahu seberapa banyak Saya makan , you’ll be wondering where do they go… heheh semoga ini nga bikin iri ‘ibu-ibu’ yang mudah gendut gara-gara nyemil…My tips: WALK!!

Dengan banyak berjalan Saya memberikan banyak waktu bagi pikiran untuk berkontemplasi, memaknai beberapa kejadian yang dialami hari itu, atau kemarin, atau mencoba memprediksi, melukis dalam khayal apa yang mungkin terjadi…tapi sejujurnya porsi yang lebih besar adalah untuk menciptakan drama-drama dalam panggung benak khayali, read my other posts, you’ll find that I am a person who love to talk to my self, freak….

Dengan berjalan juga Kita bisa menggapai mutiara hikmah kehidupan, melihat realita zaman kalabendu yang penuh ketidakadilan….Kau tahu di BIntaro sana rumah-rumah mewah tak sampai berjarak 100 meter dari rumah-rumah gubuk yang berlantai tanah, Kau tahu betapa kerasnya kehidupan yang dilalui oleh anak-anak jalanan, para pengemis, pengamen, gembel…kau tahu seberapa picik orang terbaik sekalipun mampu bertindak…Kau bisa merasakan kebaikan hati dari orang yang paling kau anggap hina…dan bisa merasakan kelicikan orang yang statusnya terlihat jauh lebih baik…Arungi kehidupan , tangkap ribuan makna dengan berjalan!

Dengan berjalan juga Kau dapat menemukan pengalaman menarik, lucu, menantang, atau membuat petualangan kecil.

Berikut adalah momen-momen perjalanan yang berkesan yang pernah Saya alami. Awalnya mau Saya urut berdasarkan usia, tapi agaknya kesan akan lebih saya utamakan dalam urutan jejak rekam petualangan, berjalan kaki. Semoga tidak kepanjangan….

Psr Rebo - Rempoa, Menjemput Cinta Berpulang Duka (Lucu)

Huahhahahhah, ini perjalanan yang paling berkesan…Banyak orang yang tidak percaya kalau jalan dari Pasar Rebo sampai Rempoa pernah Saya lalui dalam semalam, tepatnya 3 jam setengah mungkin. Menyusuri jalan tol, kemudian TB Simatupang, Lebak Bulus, Rempoa(Situ Gintung)…

Berawal dari keinginan untuk mengambil titipan barang, dari seorang teman yang sedemikian penting bagiku, begitu berarti, waktu itu, jauh sebelum I mendapatkan kesadaran akan arti cinta Dia Yang Maha Cemburu. Alhamdulilah, Hadaanallah. Barang itu harus Saya ambil di Bogor, Kampus IPB tepatnya.

Nah dasar ABG SMA, modal nekat demi cinta, cuiiih, Astagfirullah. Punya uang nga seberapa, tapi sudah diperkirakan cukup untuk pulang pergi. Berangkatlah dengan tekad membara. Sesampainya disana ternyata agak mengecewakan karena barang itu tertinggal di Jakarta..wuek…kaciaan deh loh…

Tak bisa berlama-lama bertamu karena orang yang saya temui perempuan (kakak dari si penitip barang)  dan itu perumahan para dosen, Saya pun tak ingin pulang terlampau larut, di luar mendung terlihat menyeramkan. Hal yang pasti biasa bagi penduduk sana.

Pulang mulai berhitung dengan ongkos, perkiraan meleset jauh karena ternyata untuk sampai tujuan perlu naik empat kali kendaraan umum, dengan ongkos yang besar, sedang uang yang tersisa hanya cukup untuk naik 2,5 kendaraan nah lo ngitungnya gimana?

Starteginya? jalan…..Huauahhahaha..Lewilluyang cukup asri untuk ditelusuri, naasnya hujan besar menemani perjalanan. Bemodal tas gembol, dan jaket yang dikenakan menerabas hujan besar sepanjang jalan. SEdih? Ndak justru terasa menyenangkan….ini petualangan, akan menjadi sejarah hebat sekiranya berhasil sampai pulang, dan yaa ini momen yang layak diabadikan.

Ini tips bagi teman-teman yang kerap menghadapi kesulitan: ambil angle yang berbeda, ubah paradigmamu, cari angle yang positif, dan jadikan ia pendorong tekadmu, seperti I saat itu, kondisi yang miris, dengan sedikit perenungan, menjadikannya sebagai tantangan dan petualangan, maka semangat pun kembali dan mengalirkan energi berlimpah pada kedua kaki.

Hari mulai larut malam, dalam perjalanan, karena memang Saya memulai perjalanan ba’da maghrib, setelah sholat. Momen berkesan pertama yang muncul adalah saat di depan Saya bertemu dengan pedagang somay gerobak dorong, juga mencoba melawan ‘badai’, tapi lebih beruntung karena cukup terlindungi dengan atap gerobak dan payung yang dipasangkan di atasnya. Melihat agaknya cukup untuk dua, terbetik ide untuk membantu sekedar mendorong sambil numpang meneduh. Nah mulailah kusapa abang Somay, yang ternyata orang sunda…ya iya laah loe kan lagi di Bogor cing….

waah agak lupa apa yang saya bicarakan tapi seputar kehidupannya, seperti kapan mulai berdagang , berangkat jam berapa, pulang jam berapa, sudah berkeluargakah?, berapa pendapatan perhari? cukupkah untuk biaya hidup? dan lain-lain…..

Lupa juga jawabnya, tapi saya masih ingat kesan yang timbul….SALUT…yaaa seingat saya pendapatan beliau terhitung kecil dengan perbandingan orang yang mesti ditanggungnya, walau jumlah orangnya juga tak seberapa…tapi penghasilannya sehari lebih sedikit dari jatah bensin temen2 kuliah Saya …. bahkan tidak sampai dua kali lipat jatah makan 3 kali saya…tapi orang-orang seperti ini tetap berjuang untuk hidup, mereka tetap survive….Sebenarnya sedikit bersyukur ketika krisis 1997 Saya masih di Cairo dengan kelebihan nikmat yang Allah berikan untuk keluarga saat itu…setelah dipikir, apakah keluarga gue bisa survive sekiranya ada di dalam negeri? Orang-orang kecil ini bisa survive….dan jumlah mereka banyak…Jadi ingat ungkapan beberapa sarjana yang bilang kalau orang indonesia itu paling jago berakrobat dalam hidup, saat berkali-kali BBM naik, masih saja ada yang selamat….himpitan ekonomi yang secara sistemik semakin menghimpit memaksa jutaan penduduk berakrobat…kini kondisinya hampir mencapai batas nalar …. tak jauh dari Jakarta, di Banten masyarakat mengkonsumsi nasi aking atau eceng gondok untuk survive…Nah untuk kembali ke cerita ,singkat cerita nurani tersentuh, orang kecil yang berjuang untuk betahan hidup ini tidak kehilangan kemanusiaannya di tengah himpitan ekonomi yang sedemikian dahsayat, Saya tak yakin lebih banyak orang menengah atas mampu bertahan dengan tekanan hidup, banyak yang depresi, stress kena penyakit gara2 kondisi ekonomi….tapi orang ini masih mengizinkan saya orang asing, basah kuyup, untuk numpang berteduh dan jadi teman jalannya….nga ke bayang klo gue mlih hitch hiking…mana ada mobil pribadi mau berhenti,dan merelakan jok mobilnya lepek, nanti apek lagi…. (tapi itu bukan ukuran untuk menentukan kadar kemanusiaan orang kan cah? dasar….).

Cukup jauh berjalan bersama Si abang Somay sampai tiba saatnya bersimpang jalan. Berdasarkan strategi I harus jalan terus lebih jauh…tapi beberapa minibus yang lewat dengan tulisan Bogor- Lebak bulus, membuka jalan lain….a way to home…mom here I come…Setelah mengucapkan salam perpisahan dan doa serta sahlawat (yang dua ini dalam hati) untuk abang Somay, I bergegas menepi untuk menunggu bus selanjutnya yang lewat…tangan merogoh kantong…yang tersisa Rp 3.500 (tiga ribu lima ratus rupaiah saja)…waaah cukup tak yaaah…..

Sebuah bus melaju dan berhenti 3 meter di muka …bergegas saya naik…wah nyaman rasanya setelah berkilometer jalan bisa duduk nyaman….. tapi tidak lama, karena mulai gelisah setelah naynya k epenumpang tetangga berapa ongkos yang dibuthkan , ternyata…Rp.6000 (enam ribu rupiah)…waduh ..start panicking…..pas knek menggemerincingkan tangan ke muka sisa uang seluruhnya Saya serahkan sambil bergumam , minta turun di jarak seharga uang yang dibayarkan…sang knek melirik sedikit bingung…sebenarnya I merasa klo dibujuk dan diceritakan kondisi sebenarnya sedikit saja, SAya bisa menghemat jarak jalan berkilo-kilometer, secara dari pasar rebo ke lebak bulus masih kudu lewatin condet, Tanjung Barat, Ragunan , Cipete…dan mulai memikirkan strategi pulang dari lebak Bulus ke rumah. Tapi entah kenapa dengan bodohnya mengalah pada nurani yang mengatakan bung kau tak boleh zalim…uangmu hanya segitu maka jarak yang pantaslah yang kau dapatkan…..sob…sob…Heit lagipula kalau pilihan ini tidak diambil, cerita ini akan berakhir lebih cepat, dan kesannya tidak lebih dalam…remember always catch a better angle….

Naaah berhenti deh di Pasar Rebo…Sebenarnya waktu awal naik tidak tahu jalur yang dilalui bus itu, tapi berhubung sudah berkali-kali lewat Pasar Rebo ketika malam pukul 1120 lewat daerah itu secara spontan berteriak minta bus untuk berhenti untuk kemudian turun….

Untuk berkata jujur, waktu itu berpikir Pasar Rebo Lebak Bulus itu dekat tidak terlalu jauh…tapi ternyata perasaan itu timbul karena biasanya naik ke tempat itu dengan kendaraan, naik tol pula….sumpah ternyata jauuuuuuuuuh banget cing!

Nah berbekal perhitungan yang jauh keliru tentang jarak yang akan ditempuh, dan mereverse ingatan pada momen2 dimana jarak tak pernah menyurutkan semangat untuk terus berjalan, berlari, dan tetap tegar meniti tiap langkah…terus melangkah, satu dua tiga ayunan yang berarti satu dua langkah semakin mendekati tujuan…maka I tetap melangkah….

Ada beberapa kebiasaan yang tidak pernah lepas dari petualangan berjalan kaki, yang paling utama dan tidak mungkin ditinggalkan adalah menjaga ‘komunikasi’ dengan diri sendiri, selain sebagai media kontemplasi, muhasabah diri, ini juga metode paling ampuh untuk tetap menjaga motivasi, memanipulasi perasaan letih untuk tetap tangguh berjalan….Nah yang kedua adalah dengan bernyanyi dan hampir semua lagu adalah gubahan group musik KLA dalam kurun satu dekade pertama pengabdian mereka dalam dunia musik Indonesia, tembang -tembang hit seperti Yogyakarta, Terpuruk, SEmoga, Tak Bisa ke Lain Hati, Anak Dara, dan lagu-lagu lainnya adalah teman perjalanan yang kerap mengundang pelbagai kenangan di masa lampau, dan itu menyenangkan meski menghanyutkan….Untuk mengimbanginya beberapa hafalan Al-Quran menjadi menu utama, karena nyanyian kerap mengundang jerat-jerat setan atas hati yang mudah terlena…dan memang demikian….saat mencapai titik yang mencemaskan, seperti rasa rindu yang berlebihan misalnya…maka ingat Tuhan adalah metode terbaik untuk menyembuhkannya…Tak ada cinta di atas Laa Ilaa ha Illallaaah…..

Rangkaian tasbih, tahmid, takbir dan tahlil biasa terucap terutama ketika mempercepat langkah hingga berlari…. SElain bernilai ibadah dan mensucikan jiwa ini juga pengusir rasa takut akan gelapnya malam, gelapnya kehidupan…dulu I penakut banget, punya rasa takut berlebihan dengan makhluk halus, tapi sejak intens mengaji rasa takut justru lebih besar terhadap setan berbentuk manusia karena lebih nyata merusaknya…

Alhamdulillah tidak pernah merasa diganggu oleh makhluk halus selama dalam petualangan jalan kaki….nah baru pada petualangan ini I diganggu…….hi..hi…hiiiiii….

Untuk mempersingkat saya akan langsung ke poin ini, karena ini adalah momen paling berkesan setelah bertemu dengan bapak somay, dan banyak momen perenungan atas kondisi dunia saat ini, kotor, penuh ketidakadilan, bahkan langit seolah dan memang tak sebiru dulu..

Poin ini juga untuk menghilangkan ingatan betapa penatnya berjalan dalam gelap dan dingin yang menusuk….. Nah ‘kejadian’ ini terjadi ketika perjalanan mendekati 1/8 sisa perjalanan secara keseluruhan (Psr. Rebo -Rempoa) kira-kira di daerah Pondok Pinang, klo tidak salah, antara Garda Oto dan sebuah hotel, I lupa namanya, pokoknya di daerah deket rumah Sahid (baru bertemu satu tahun setelah petualangan ini terjadi sebagai teman satu angkatan di FHUI, ganteng dan kalem manis hihihih)…..SAya memilih sisi jalan sebelah kanan dari tol ini karena I harus memilih berjalan melawan arah arus mobil, hingga bisa mengantisipasi datangnya mobil dari depan dan terhindar dari resiko tabrakan, waktu itu sudah mendekati pagi hari sekitar pukul 2 malam (eits pagi deng)…mobil pun mulai sepi, lampu jalan banyak yang mati….gelap ….menyeramkan, hanya berbekal lampu sorot mobil yang jarang lewatlah Saya mendapat cahaya yang cukup untuk sedikit merasa tenang, tiap kali mobil lewat sudah dibelakang, rasa takut kembali mencengkeram…tiba-tiba…….mendekati sebuah halte tak terawat, gelaaap, gelaap sekali dan sepenglihatan ku  nga ada orang….sunyi tak bersuara, bahkan jangkrik pun tak terdengar….. tasbih, tahmid, takbir dan tahlil dipercepat mengimbangi adrenalin yang mempercepat detakan jantung….sebuah mobil melaju dari kejauhan dengan kecepatan sedang….belum cukup cahayanya menerangi halte, tapi langkah sudah tinggal satu meter lagi dari halte…tiba-tiba saat cahaya mulai menerangi halte….jantung seolah-olah mau meledak….ada kepala berukuran sangat besar, sinar kuning sorot lampu menunjukkan warnanya merah kekuningan seperti api yang menyalaa..Saya tak pernah bertemu kuntilanak atau genderuwo, tapi dua makhluk itu yang langsung terbetik dalam pikiran. Dalam hitungan detik jurus kaki seribu langusng beraksi, ngibriiiiit terus berlari kedepan (which ini pilihan terbaik yang berarti semakin mendekati jarak pulaaang)….Nah lari semakin dipercepat, bahkan bisa dikatakan sebagai lari jenis tunggang langgang, ketika dari kepala itu keluar suara menakutkan……"hooooi cowok jangan lariii gueee kejar loeee…." (suara bencong)…mana yang lebih kau takuti …bertemu makhluk halus jenis gandaruwo , n kuntilanak atau ketangkep bencong yang sedang bertugas? Saya lebh takut yangg keduaaaaa jadi ngbriiit sejadi-jadinya….huahahahahaha…..coba sedikit kita replay, jadi yang awalnya lari karena takut ketemu dedemit n keluarganya yang funky2 n sering masuk layar lebar , jadi semakin cepat ketika menyadari yang ditemui adalah makhluk yang jauh lebih berbahaya dari makhluk halusss….setan masih mudah diusir dengan doa-doa, tapi klo ketangkep bencong…wah bisa hilang keperjakaan..kikikkikiki……setelah lima ratus meter jauhnya dari lokasi kejadian sempat berhenti untuk mengatur nafas, untuk kemudian tertawa sejadi-jadinya mensyukuri dan menginsyafi diri ini selamat dari pengalaman yang mungkiiin jauh lebih buruuuuk, paling buruuuk, teramat sangaaat burruuuuuuuuk…hiiiiiiiiiii….mengerikan…..bahkan sampai saat menceritakan kisah ini ..bulu kuduk masih merinding, godek..gedek-gedek….

haaaa perjalanan akhirnya mendekati akhir, ketika lebak bulus sudah terlihat di depan mataa…tadinya mau ngambil jalan tembusan lewat pondok pinang ke gang sawo rempoa, tapi setalah berpikir daerah itu sarang preman akhirnya memilih jalur ciputat Raya ke arah Universitas Muhammadiyah hingga Gintung….Sebenarnya rumah saudara ada dekat Gintung di rempoa sana…tapi karena besok atau pagi itu hari sekolah I harus pulang…akhirnya ketika masih di jalan Rempoa depan gang rumah saudara, I memutuskan untuk teruss berjalan…tapi sudah tidak kuat, apalagi hawa subuh yang jauh lebih dingin sudah turun, kening sduah sampai berembun….kaki sudah bergetar hebat…..apalagi kalau menekukkan lutut sedikit saja…..Terlintas untuk mencari tumpangan jadi menepi ke pinggir jalan untuk mencari tumpangan, Alhamdulillah tak sampai 10 menit menunggu ada mobil pick up terbuka yang lewat dan sudi untuk ditumpangi….ini juga teramat berkesan bayangkan setelah berjalan sedikit jaaauuh (bodoh jaaauuuuuh banget norak jangan sok deh loe) pertolongan Allah datang, karena ketika sang supir bertanya (dia bersama seorang rekannya duduk di depan) ke mana tujuan sya, SAya jawab Bintaro…kebetulan, mereka pun ingin ke Bintaro tepatnya lewat setelah untuk kedua kalinya kebetulan mereka memiliki tujuan ke arah jurang mangu…yang berart lewat Ramayana dan pintu depan komplek Deplu 76….huaaa tak terkira betapa senangnyaaa….begitu melompat turuuun…..rasa senang tak terkira menjadi gelora semangat yang menghilangkan segala kepenatan….dengan kecepatan lari yang m\hampir melebih ketika ngibriiiit I berlari dari depan ke rumah jaraknya kira2 200 meter laah dari atas ke bawah belok ke jalan melati ke rumah no 10 di blok b tersebut (gmana sekarang yaaah rumah itu, sudah hampir satu tahun tak berkunjung ke rumah yang dua tahun lalu sudah dijual)….sampai lah di rumah, tiga puluh menit kemudian azan subuh berkumandang, saat belum lengkap rakaat kedua dari Isyaaku yang ‘kepagian’, penghuni rumah sedang terjaga ketika I mengetuk pintu, bundaa yang membuka pintuuuu….langsung ku sambarr dan kucium pipi bundaaa…kemudian sambil bersemangat bercerita riang tentang pengalaman semalam…eh sepagian tadi, Abi , kakakku Yusuf dan Adikku Isna datang mendengarkan…diakhir cerita mama bilang dengan nada heraaannn campur geli "yaa ammpunnn kenapa nga naek taksi trus bayar di sini?" gonjreng—-gonjrengggg huaaaaaaaa……..opsi ini tak terlintas sedikit pun dalam bayangan…….kan jadi nga perlu jalan ’segitu’ capeknya…..pertanyaan itu justru mengundang reaksi tertawa sekeras-kerasnya menertawai ‘kebodohan’ untuk memilih berpetualang, tapi setelah berpikir sejenak, keseluruhan petualangan tadi sangaat menyenangkan, lagi pula tak terbayang berapa harga yang harus dibayar oleh Abi untuk ongkos taksi dari lewiluyang ke rumahhh…tak….tak ….sejak dulu hati ini tak pernaaah merasa tenang kalau harus bahkan sedikit membebani keluarga…bahkan dulu waktu di Mesir sekalipun I lebih memilih untuk memakai sepatu sampai butut ketimbang merengek minta beli sepatu baru…tidak! beban orang tua terlalu besar dengan banyak anak…biarlah ini menjadi amalan untuk alokasi lainnnya…

Untuk Abi dan Ummi…anak kesayanganmu ini (setelah Isna) tak pernah tega melihat kegetiran hidup yang harus dialami!

NExt on Pejalan Tangguh II: PErjalanan Terburam dalam Hidup!