Fighting Dreamer

Harapan pribadi atas blog ini:

Archive for February, 2007


Malapetaka Kucing (Revised)

Tulisan ini awalnya dibuat sebagai wujud kekesalan pribadi atas mata kuliah
Hukum Agrari di tahun 2005 lalua, maklum diawal kesempatan mengikuti kuliah
penulis tidak lulus, dan kali kedua mengambil hanya mendapat nilai C+.Tapi
kemudian, akhir-akhir ini penulis dan mungkin pembaca budiman kerap mengeluh
tentang iklim yang kian ekstrem, panas yang terik, banjir, dan bencana alam
lain akibat global warming. Nah pas kebetulan ada momen Climate Change di Bali

 

MALAPETAKA KUCING

Ini malapetaka besar bagi umat
manusia!!! Sudah pada tingkat yang tidak lagi bisa ditolerir! Terserah mau
percaya atau tidak, tapi penulis berkewajiban untuk menyampaikannya kepada
pembaca sekalian. Penulis bersumpah informasi ini bisa dipercaya, bahkan ini
hasil pengamatan langsung penulis. Yaaa, meskipun tidak dengan metode yang
mutakhir. Hei …. Tapi bukankah metode-metode yang ada hanyalah rekaan manusia,
atau cuma konstruksi yang dibuat untuk memenuhi kepuasan logika? Bencana ini
kasus special, yang sampe nga butuh metode riset canggih untuk
mengetahui betapa dahsyatnya petaka yang ditimbulkan.

Waktu itu penulis memergoki tindakan
asusila si Kuning di halaman rumah penulis di kawasan Pondok Aren. Di Kecamatan
yang sama, hanya berjarak 20 meter dari TKP pertama, penulis memergoki Si Lurik
melakukan delik yang sama pada tempus yang berbeda. Masih di
Selatan, Si Pincang beraksi di depan Mesjid Mardhatillah di kawasan Srengseng,
Lenteng Agung. Di Margonda ada si hitam penguasa Barel (Balik Rel) yang kerap
kali melampiaskan arogansinya, bak residivis yang tak kunjung
kapok-kapok. Masih banyak, ada si belang cantik di Rawasari, jangan pernah
tertipu dengan kecantikannya, karena seringkali kecantikan itu dipergunakan
dalam modus operasinya. Singkatnya, ini bukan sekedar gejala, tapi sudah
menjadi fenomena, dan perlu perhatian serius, super ekstra!!!

Pernahkan Anda saat fajar baru saja
beranjak menyambut pagi dan Anda sedang berolahraga ringan di teras rumah, saat
baru melakukan pemanasan dan menghirup udara segar yang langka di daerah
pinggiran kota, Anda terpaksa nyengir-nyengir kuda. Kemudian mata Anda bergerak
menyisir pekarangan mencari sumber aroma, dan Anda mendapatkan Si Belang Junior
sedang menggeliat, cengar-cengir penuh misteri. Jika Anda menggerakkan mata
Anda sekitar satu setengah meter saja di sekitar Si Junior Anda akan temukan
setumpuk pasta, yang bukan pasta biasa, tapi produk khas hasil metabolisme
makhluk mamalia yang kini sedang meliuk-liuk manja di kaki Anda. Ini
benar-benar petaka di pagi yang indah. Atau pernahkah Anda berangkat Shalat
Jumat, dengan was-was, merasa minder, kehilangan percaya diri, karena ada bau
khas di sepanjang perjalanan Anda? Ketika Anda mengangkat sandal yang anda
pakai, ada noda coklat keabu-abuan menempel di situ. Atau pernahkah Anda saat
akan berlatih basket rutin di lapangan mendapatkan medan itu menjadi sasaran
aksi kejahatan penguasa lokal?

Penulis yakin para pembaca pakdiman
pernah mengalami situasi yang lebih buruk lagi. Apakah kita harus berdiam diri
atas tindakan amoral mereka, TIDAK, saatnya kita MELAWAN!

Eiiiit, tunggu dulu, jangan asal
sikat, tidak boleh main hakim sendiri. Kita perlu melihat
permasalahannya secara jernih. Kita harus belajar memahami motivasi apa yang
mendorong mereka melakukan hal yang keji. Jangan-jangan ada andil kita dalam
perilaku tercela mereka. Ingat kejahatan terjadi bukan hanya karena niat
tetapi karena ada kesempatan
, jangan-jangan kita yang membiarkan kesempatan
itu terjadi.Waspadalah-waspadalah!!!

Dalam kurun waktu 10 tahun terakhir,
penulis mengamati pergeseran perilaku kucing. Dalam hal ini menurut hemat
penulis dikarenakan kondisi lingkungan yang telah jauh berubah. Tahun 1993,
penulis masih melihat perilaku normal kucing. Mereka waktu itu masih
menggunakan instingnya untuk menggali tanah terlebih dahulu sebelum buang
hajat. Ini terbukti ketika suatu waktu, penulis ditinggal pergi itik
kesayangannya, dan bermaksud menguburkannya di pekarangan rumah, waktu itu
masih tinggal di kampung Jombang, Sudimara Barat, Ciledug sana. Naas, ketika
mulai menggali ternyata penulis malah menemukan fosil kotoran kucing, mungkin
karena sang itik semasa hidupnya sering berbuat dosa, alam kubur pun enggan
menerimanya, sehingga penulis harus mencari lokasi lain. Tidak hanya kali itu,
penulis sering memergoki kucing sedang mengendap-endap dan menggali tanah waktu
itu, maklum dulu penulis punya hobi lemparin batu buat ganggu kucing yang lagi
hajatan. Singkat kata dulu kucing masih mengindahkan etika dalam melangsungkan
kebutuhan biologisnya.

Kini ada pertanyaan yang mengganjal di
benak kita, setidaknya di benak penulis, mengapa mereka berubah? Apakah
globalisasi menyebabkan dekadensi moral di kalangan kucing sebagaimana terjadi
pada manusia? Etika moral tidak lagi dijunjung tinggi, kebebasan pribadi dianut
secara brutal.Tapi sekali lagi tunggu, kalaupun demikian apakah kita terlibat,
ikut andil dalam kemerosotan akhlak para kucing?

Ingat keberadaan kita di muka bumi
adalah sebagai khalifah. Allah menciptakan kita untuk mengelola alam, tetapi
justru kerusakan yang lebih banyak kita timbulkan.
Jangan-jangan kita pun ikut merusak
kucing.

Mari kita kupas dalam-dalam. Dalam
kasus si Kuning dan si Belang Junior, lokasi TKP di halaman depan rumah lama
penulis, halaman itu sudah sejak lama tertutup con-block. Si Lurik beraksi di
jalan taman depan rumah penulis yang juga tertutup con-block persegi panjang
yang bergerigi, khas perumahan.
Kasus Si hitam dan Si Belang Cantik terjadi di pinggir
jalanan beraspal. Lapangan basket, voli atau bulu tangkis yang Anda pakai
kemungkinan besar sudah tertutup beton coran, atau minimal aspal (kasian bener
latihan dilapangan aspal), yang mendingan seperti lapisan semen pun tetap sama,
menutupi permukaan tanah. Maka, patut dimaklumi ketika para kucing beraksi di
lahan-lahan tersebut. Awalnya bukan karena kehendak sukarela tetapi karena terpaksa.
Kucing-kucing dari generasi penggali mulai menemukan kesulitan mencari kloset
yang layak bagi mereka. Kemudian lahir generasi-generasi baru yang kian sulit
mencari lahan. Rentang waktu yang cukup panjang antar generasi, dan kondisi
geografis yang berubah secara ektrim lambat laun menghilangkan kebiasaan mereka
menggali sebelum buang hajat, kebiasaan itu berganti dengan kebiasaan yang
instant, tinggal cari lokasi pinggir atau pojokan, tengok kiri-kanan, keadaan
aman tinggal dorong, bahkan kini mereka banyak yang tidak peduli kondisi
lengang atau ramai, kalau tidak diganggu ya prosedur tetap berjalan.

Tampaknya kita terlalu egois dalam
memandang keberadaan alam untuk dinikmati. Paradigma pembangunan yang kita
anut, terlalu manusia sentris dan itupun bersifat eksploitatif, dan tidak
berkeadilan. Benarkah demikian?

Dalam konstruksi Negara terutama
penganut mekanisme pasar, keberhasilan pembangunan diukur dengan pertumbuhan
ekonomi, di mana kapasitas produksi dan kemampuan konsumsi menjadi komponen
utama keberhasilan pembangunan.
Ini tergambarkan secara jelas dalam siklus ekonomi yang
kita kenal, ada Rumah Tangga Produsen dengan kegiatan produksinya, dan Rumah
Tangga Konsumsi dengan kegiatan konsumennya. Keberadaan konsumen memastikan
pasokan buruh bagi RTP, karena mereka butuh upah untuk membiayai kegiatan
konsumsinya. Keberadaan RTP memberikan kelanggengan pasokan barang konsumsi
bagi RTK, yang juga berarti mendatangkan keuntungan bagi RTP itu sendiri.
Siklus ini berarti satu hal yang mencolok yaitu eksploitasi sumber daya alam,
lho kok gitu? Jelas, untuk melanggengkan siklus tersebut produksi harus tetap
berjalan dan bahan baku produksi didapat dari alam. Untuk meningkatkan
kapasitas produksi maka penyerapan bahan baku dari alam ditingkatkan bahkan
pada tingkat yang ekstrem, dan ini mendorong pertumbuhan ekonomi, tanpa
mempedulikan ekses kerusakan alam yang pasti terjadi, toh kerusakan alam tidak
pernah jadi variable yang menentukan dalam kemajuan ekonomi. Kepentingan
meningkatkan kapasitas produksi didorong oleh tingkat konsumsi yang tinggi,
Rostow sudah lebih dulu mencirikan manusia modern dengan tingkat konsumsi yang
massif , dan kini terbukti, parahnya perilaku tersebut berpengaruh besar pada
kerusakan alam. Belum lagi kapitalisme yang menjadi ruh sistem ini. Demi meraup
keuntungan sebesar-besarnya kapasitas produksi semakin ditingkatkan dalam pola
yang massif, yang sekali lagi berperan besar dalam kerusakan alam.

Ambil contoh Revolusi hijau , yang
berangkat dari upaya pemenuhan pangan umat manusia. Ketika pelbagai penelitian
menghasilkan bibit-bibit unggul bahan pangan bagi manusia, terutama padi, maka
ekstensifikasi tanah, perluasan lahan sawah, marak dilakukan. Ekstensifikasi
ini kemudian menjadi semakin ekstrem ketika kepentingan kapitalisasi masuk ke dalamnya.
Sederhananya seperti ini. Ekstensifikasi pertanian membutuhkan lahan , dan
lahan ini didapat dengan meneabng hutan. Kepentingan untuk meningkatkan
keuntungan besar-besaran berbanding lurus dengan pembukaan lahan secara besar-besaran pula. Yang berarti
fren, kerusakan hutan besar-besaran! Itu baru dari pertanian aja!

Apa korelasinya dengan permasalahan
kucing? Nga nyambung tau?…..

Kata siapa? Nyambung banget fren,
justru karena paradigma pembangunan ekonomi yang eksploitatif inilah yang
menjadi dasar kebijakan Penyediaan Tanah untuk Pembangunan di Indonesia. Lihat
saja semua hak-hak yang tersedia bagi keperluan tersebut merupakan artikulasi
dari kepentingan manusia untuk memenuhi kebutuhannya yang menyangkut :

  1. Wisma, yaitu
         tempat tinggal atau bangunan
  2. Karya, kepentingan
         usaha manusia untuk perkebunan, pertanian dan lain-lain.
  3. Marga, yaitu sarana perhubungan
  4. Suka, tempat rekreasi.
  5. Penyempurnaan untuk keperluan seperti sarana olahraga,
         rohani, pendidikan., kesenian, lembaga-lembaga ilmu pengetahuan dan
         kediaman selepas hidup alias kuburan.

Hukum Tanah Nasional menjamin perwujudan hal-hal tersebut
untuk keperluan perorangan, keperluan perusahaan dan keperluan khusus. Setelah
ditelusuri tidak ada satu pun keperluan tersebut yang diperuntukkan bagi konversi
alam ,atau menjaga keseimbangan alam.

Kita kupas satu-satu. Untuk kepentingan Wisma, dan Karya
maka dilakukan pembebasan lahan, pembukaan lahan, berapa banyak hutan yang
dibuka untuk lahan pertanian, dan perkebunan? Belum lagi untuk pemukiman, yang
berarti jutaan hektar pepohonan rindang ditebang, yang paling ektrem penebangan
pohon untuk kepentingan produksi dan praktik eksploitasi tak terkendali dalam
bentuk illegal loging. Untuk keperluan Marga, berapa jengkal tanah Ibu pertiwi
yang ditutupi lapisan batu, aspal, beton, de el el yang meminimalisir permukaan
tanah untuk keperluan penyerapan air hujan? Jawabannya pasti jutaan, bahkan
triliyunan jengkal (lagian ngapain sih make ukuran jengkal, kurang kerjaan).
Ini penyebab utama pergeseran perilaku para kucing.

Bukan hanya kucing domestik jinak yang berubah perilakunya,
mbahnya kucing pun terpaksa turun gunung cari mangsa akibat stok dapurnya di
hutan berkurang. Menu daging manusia jadi menu populer di kalangan mereka. Ini
terbukti dengan maraknya kasus Harimau pemakan manusia di Sumatera.Di tahun
2005 seekor harimau tertangkap dan dijadikan tontonan bertarif untuk
pembangunan mesjid di Sumatera Barat, edan, keblinger. Atas nama
kepentingan manusia segalanya dieksplotasi.

Jutaan
hektar lahan lainnya dibuka untuk keperluan Suka dan Penyempurnaan. Baru ketika
banjir menjadi agenda tahunan, dan longsor menjadi bencana biasa, kita berpikir
tentang reformasi Tata Ruang.
Upaya ini menurut hemat penulis tidak akan berdampak
signifikan selama akar ideologi pembangunan tidak diubah. Kepentingan merubah
paradigma pembangunan menjadi semakin mendesak. Paradigma alternatif sudah
jauh-jauh hari tersedia dalam firman Tuhan (AL-Quran), yaa kita harus merubah
paradigma pembangunan ekonomi yang eksploitatif dengan paradigma pembangunan
prophetik yang perlu kita gali dalam Al-Quran.

Gimana kata Qur’an? Nah di sini kita
butuh bantuan para pakar untuk menjelaskan. Om Misri Gozan,
Dosen Fakultas Teknik UI, Fellow pada LEAD
Internasional, Advisory Board ISTECS cabang Eropa, ngebantuin kita dengan
mengangkat dua logika dasar pembangunan prophetis yang digali dari Al-Quran.
Yaitu tanggung manusia adalah khalifah di Bumi dan keteraturan alam dengan
sunnatullahnya..

Buanyak ayat-ayat Al-Quran yang menuntun manusia
untuk berperilaku secara bertanggungjawab, dari mulai sindiran untuk tidak
membuat kerusakan di muka bumi (Q.S. 2:11), tuntunan untuk tidak mengikuti hawa
nafsu dan keserakahan (Q.S. 23:71), juga kwajiban kita untuk berbuat baik tidak
hanya kepada manusia tetapi juga pada alam semesta.

Nah, Allah juga melalui Al-Quran mengajak manusia untuk senantiasa berpikir
tentang alam dan keteraturannya. Coba deh temen-temen baca surat-surat ini (QS 6: 97 dan 16: 16), (QS
21: 31; 16: 15), (QS 25: 45-46; 22: 61), dan masih banyak lagi yang lainnya.
Petunjuk mengenai keteraturan alam ini selayaknya menjadi panduan manusia dalam
pemanfaatan alam. Bagaimana misalkan ketika Allah menyebutkan rantai hdirologi,
adanya matahari, air laut yang menguap, hujan yang diturunkan, yang kemudian
menghidupkan tanah yang mati, tertahan dalm akar pohon-pohonan, memancarkan
mata air, maka tugas manusia adalah menjaga agar pemanfaatan alam tidak merusak
sunnatullah siklus ini. Nga nebangin pohon-pohonan dengan keserakahan cuman
buat untung besar-besaran. Akibatnya, silus ini terganggu dan petaka seperti
banjir, erosi, kekeringan itu terjadi.

Sekiranya pembangunan berangkat dari ketentuan ini, maka
nga perlu tuh kita teriak-teriak global warming, ga perlu kita tiap hri ngeluh
karena niii hari kok panaaas banget ya? Kok tiap musim hujan banjir ya?

Adalah tangan manusia, kita sendiri yang menyebabkan kerusakan-kerusakan itu :

” Telah tampak kerusakan di
darat dan di laut disebabkan karena perbuatan tangan manusia; Allah menghendaki
agar meraka merasakan sebagian dari (akibat) perbuatan mereka, agar mereka
kembali (ke jalan yang benar).”

 

 

 

 

Jenaka yang Sama

Sabtu sore, 10 Februari 2007, four days after my birthday….hampir seperti sore akhir pekan biasa di stasiun UI, menunggu KRL EKonomi arah Bogor untuk sekedar melepas kengen sama Mama (hehehheh), my lil sis,my Bro Yusuf, the Ida, n Abi klo lagi di rumah (ternyata sedang tidak di rumah hari itu).

Sedikit gelisah nunggu, lebih karena nga sabar ingin pulang. Cara biasa selalu efektif mengurangi kegelisahan, ngomong sendiri, aneh. Dari sebuah obrolan ringan seorang teman, Ketua DPM UI, ternyata Saya mendapati diri sebagai seorang autis ringan. Itu versi obrolan , bisa jadi Saya termasuk yang parah. Kebiasaan ngomong sendiri sudah dimulai sejak umur 3 tahun. Beberapa hal positif, terutama dalam belajar bahasa Inggris, I never really had a good English environment, but I always have it in my mind.

Kali itu I coba bersenandung, rasa bosan menunggu sedikit terobati , tapi kemudian justru semakin terobati. Mata ini menangkap sesuatu yang mungkin biasa saja. Tiga orang anak, pengemis, maaf tiada bermaksud melecehkan, justru sebaliknya kalau KAU, teman, sudi membaca ini sampai tuntas. Mereka sedang bermain di ujung koridor depan stasiun, bermain jungkat-jungkit darurat, karena wujudnya hanya sebilah balok panjang yang mereka susun di atas selokan sehingga menciptakan kemiringan yang cukup untuk dipakai bermain.

Senang melihat mereka tertawa, bermain, senang. Oh iya sekedar memperjelas deskripsi, ketiga anak ini, dua perempuan dan satu laki-laki, satu perempuan berusia awal belasan, yang tertua, satunya lagi 7-8 tahunan, dan si laki yang paling kecil mungkin 5 tahunan. Pakaian mereka kumal, meski tidak compang-camping, kulit coklat lebih karena dekil, bisa terlihat karena perempuan yang lebih muda punya kulit aseli yang lebih terang, dugaan saya mereka kerabat meski nga pasti bersaudara, dari tangkapan dialek yang terdengar mereka Jawa!

Wahana bermain dadakan mereka cukup berbahaya, letaknya persis pinggir rel, di samping tangga peron, bahkan tangga itu juga wahana terintegrasi yang mereka pakai bergelayutan. Saya tersenyum memandangi mereka dengan jarak setengah meter saja, mereka menyadari dan Saya rasa mereka cukup nyaman untuk sesekali membalas dengan senyuman jenaka anak2. SEorang penumpang yang lewat menghardik mengingatkan, bahwa apa yang mereka lakukan berbahaya. Dengan nakal yang tertua membalas masa bodo….

Aneh, lucu, melihat bagaimana dunia ini berjalan. anak2 kecil ini tak pernah mengeluh atau merajuk untuk bisa bermain di wahana semacam Dunia Fantasi atau tempat lainnya karena mereka cukup mendapat kebahagiaan dalam ‘wahana maut’ dadakan itu. Sementara anak2 yang kaya dan bercukupan mungkin bosan dengan semua fasilitas bermain yang mereka miliki, untuk kemudian merengek tak keruan kepada Orang tua yang mudah gusar akibat tekanan kerja yang tinggi.

Mereka anak2 yang tangguh, terbiasa hidup susah, terbiasa mencari nafkah dengan sedikit bernyanyi, meski hampir pasti sumbang, dan dengan pengucapan yang parah. Tapi mereka masih bisa tersenyum, tertawa, merasakan keriangan. Mereka juga memiliki jenaka yang sama dengan anak2 sebaya mereka yang berkesempatan untuk sekolah. Saat anak2 sekolah bisa tertawa dengan bermain bersama yang lainnya, mereka pun bisa tertawa, dan bermain, meski sekali lagi dengan cara mereka sendiri.

Anak-anak tetap anak-anak. Status sosial, dan tingkat ekonomi tidak pernah mencabut kejenakan dari diri mereka. Saya berani taruhan, kalau mereka dari beragam tingkatan sosial dikumpulkan dalam suatu permainan outbound, mereka akan berbagi keceriaan, dan bermain bersama. Meski pada awalnya ada kesinisan anak2, tapi tingkatannya hanya sebatas kesombongan anak2 yang dengan sedikit icebreaking maka mereka akan menyatu seperti air bertemu air lainnya.

Berani bertaruh untuk yang kedua kalinya. Hal yang berbeda akan terjadi bagi orang dewasa. Setidaknya butuh waktu lebih lama bagi orang dewasa untuk menunddukkan diri, menaggalkan kesombongan statusnya, meluruhkan egonya, menyembunyikan keserigalaannya atas sesama untuk sekedar sesaat. Bahkan bisa jadi mustahil dalam kasus orang-orang dewasa akut.

Apakah suatu imaji utopi kalau berharap suatu saat dunia hanya berisi kejenakan saja? Padahal saat kita masih kanak2 kejenakan itu bagian dan adalah kita?