hard works always pay
hehehehh entah ini narsis namanya atau sombong, ujub or saudara-saudaranya yang menunjukkan esensi yang sama…tapi gue nga tahan untuk merasa senang n sedikit pamer dengan hasil tes kecil Hukum Perdata Internasional yang baru aja gue terima, gue dapet 80 dari empat soal…..biasa yaaa?….ini luar biasa klo sedikit menengok ke belakang di semester lima gue nga lulus nni mata kuliah, nilai huruf kapital D berwarna merah menghiasi catatan akademis gue di dunia maya, SIAK-NG-UI. Di tambah lagi , mata kuliah ini dinilai angker oleh hampir semua angkatan yang mengambil program kekhususan hukum Transnasional, dan memang materi perkuliahannya teramat berat.
Semoga Allah Sang pemilik kesombongan memaafkan dosa gue yang sedikit ujub, tapi beruntung gue keburu sadar kalau apa yang gue dapatin adalah ketetapan Allah , sebuah sunnatullah yang layak terjadi : barangsiapa yang menanam dia akan menuai/memanen, man jadda wajada, hard works always pay.
Barangsiapa yang bersungguh-sungguh dan bekerja keras maka dia akan berhasil, atau setidaknya mendapatkan ganjaran atas hasil kerja kerasnya. Dalam hadis masyhur tentang niat yang diriwayatkan dari Umar bin Khatab dikatakan bahwa segala amalan bergantung pada niatnya barangsiapa yang niat hijrahnya kepada Allah dan Rasul maka hijrahnya sampai kepada Allah dan Rasul, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia atau wanita yang dicintainya maka hanya dapat apa yang ditujunya(H.R bukhari dan Muslim).
klau gue mengartikan niat sebagai kehendak kekuatan batin yang mendorong upaya keras mewujudkan cita-cita maka gue boleh dong menyimpulkan orang yang bekerja keras mengejar targetnya akan sampai kepada goalnya.Toh ini yang gue rasakan dengan hasil 80, I worked hard enough days before the test, and my mark is such a pay.
Kesadaran ini secara langsung menyerang n menusuk kebiasaan hidup gue sehari-hari: malas, yaa as the pic I grab to personalize myself, pemalas sejati….betapa kesengsaraan bekerja keras membawa kenikmatan merasakan hasil usaha, sedang apa yang didapat dengan berpangku tangan? nihil, selain kenikmatan bermalas-malasan, bertopang dagu menyandarkan punggung, menguap dan keasyikan lainnya yang membawa gua pada isolasi imajiner yang membentengi dari realita keseharian.
Memori gue terbawa kepada sejarah hidup pribadi di mana ada momen-momen kerja keras membawa kenikmatan dan kesenangan….
Teringat bagaimana senangnya bisa diterima di Gontor satu , bahkan masuk dalam jajaran kelas elit Intensif Satu B (mesti pada akhir cerita bagian ini I kabur dari pondok dengan penuh penyesalan yang membawa pada babak2 depresi, goncangan jiwa dan upaya bunuh diri?), maka teringat suka duka ketika berjibaku dengan materi2 dasar dan persiapan di Gontor II, segala penggemblengan yang dilalui dengan kesabaran dan ketabahan, bilangan waktu yang dihabiskan untuk belajar, belajar, dan belajar. belajar tentang hidup dan kehidupan…singkatnya manisnya keberhasilan terasa sangat manis dengan bekerja keras.
Pasca kasus melarikan diri dari Gontor I dan berlabuh di SMU Cenderawasih II, hal yang sama gue rasakan. Bayangkan akibat depresi dan kegoncangan jiwa yang belum sepenuhnya pulih I harus melewati semester I(atau cawu I lupa, dulu sistemnya rubah-rubah) kelas I dengan enam angka merah di raport , dengan satu diantaranya EMPAT. Nga ada dalam sejarah hidup gue dapet nilai kayak begini kecuali waktu mendapat rapor bayangan kelas V di SIC, jaman pak Husein Landa, itupun dalam derajat yang tidak senista ini. Alhamdulillah ketika menemukan obat hati dan hidayah Allah, fakta tersebut menampar diri dan memicu semangat untuk berubah. Di tahun yang sama di semester akhir kenaikan kelas, segalanya berubah, niali-nilai merah itu kini bersandar dengan angka-angka yang jauh lebih baik menutup sejarah kelas I dengan bertengger di peringkat kedua dari keseluruhan kelas (cuma dua limaan orang). Rasa senang dan kebanggaan tiada tara tidak akan hadir jika itu bukan hasil dari kerja keras, andai itu hasil manipulasi atau penipuan justru akan mendatangkan rasa malu (trust me I know), semalu gue mendapati nilai fisika gue , matematika dan Biologi di STTB tertulis 9, 9, dan 8, benar-benar manipulasi sekolah yang membutuhkan akreditasi lebih baik.
Banyak peristiwa-peristiwa bersejarah pribadi merupakan hasil kerja keras, seperti menjuarai beberapa lomba bahasa Inggris, yang kesemuanya terasa menyenangkan justru karena adanya usaha itu.
Meskipun demikian, ada prinsip yang tak mungkin gue abaikan, bahwa diujung usaha manusia ada takdir Allah Yang Maha menetapkan. Banyak juga termin dalam sejarah hidup pribadi yang menunjukkan bahwa pun saat kita telah lelah berusaha, tidak selamnya keberhasilan kita dapatkan, tapi selalu ada hasil yang dicapai. Ada obat mujarab yang membangkitkan dan menjadikan gue kembali tegar menjalani hidup pasca babak keterpurukan, depresi, silahkan buka mushaf-mu tak jauh dari lembaran-lembaran awal di surah Al-Baqarah 216 maka teman U akan menemukan Allah berkata "….apa yang baik disisimu (manusia) belum tentu yang baik di sisi Allah, tetapi apa yang baik di sisi Allah adalah yang terbaik bagi mu", Saya berlindugn kepada Allah dari kesalahan kutipan terjemahan ini tolong diperiksa lagi… yang jelas, ketika upaya keras telah dijalankan dengan cara yang baik dan sebaik-baiknya apa yang diharapkan belum tentu tercapai, adalah kehendak dan ketetapan Allah yang mutlak berlaku, dan kecewa bukan pilihan yang bijak melainkan ucapan syukur dan permohonan mendapatkan balasan yang lebih baik adalah jalan yang tepat bagi orang-orang yang mau mengambil hikmah.
Ada ulasan menarik dari ayah kita, Quraish Shihab, ketika menjawab pertanyaan seputar Qadha dan Qadar serta usaha manusia. Bahwa segala ketetapan sudah ditentukan sebelumnya, dan pengetahuan Allah Maha luas, Allah telah menentukan segala sesuatu sesuai kadarnya, takarannya, terminal-terminalnya, tanpa menafikan atau menihilkan kesempatan manusia untuk berubah. Beliau menganalogikan dengan dosen/profesor yang jauh lebih tahu ddari mahasiswanya, ketika datang waktu ujian seorang mahasiswa X telah bekerja keras belajar jauh sebelum ujian berlangsung, ketika ujian selesai, mahasiswa tersebut mendapatkan nilainya jauh memenuhi harapan, bolehlah si mahasiswa mengklaim dia telah belajar dengan sungguh2 hingga mustahil jawabannya meleset dan salah, tetapi dosen lebih tahu apakah jawaban mahasiswa itu sesuai atau tidak, benar atau salah, melenceng atau lurus. Boleh lah kita berdebat kalau dosen itu bisa saja lupt atau punya subyektivitas tertentu terhadap permaslaahan, atau lebih parah punya sentimen khusus dengan sang mahasiswa, tapi patutkah kita menggugat demikian kepada Allah? Allah yang Maha mengetahui, tahu apa yang terbaik, bisa jadi dalam kerja keras kita ada sesuat yang salah, sesuatu yang tidak semestinya, ada orang-orang yang terzalimi, ada proses yang tidak dikerjakan sebagaimana mestinya, yang menjadikan tujuan tidak tercapai maksimal, maka tidak mungkin Allah menetapkan keberhasilan yang mutlak sifatnya bagi upaya kita yang demikian.
Dengan menyandarkan ketetapan akhir kepada Allah bukan berarti memperlemah upaya dan kerja keras kita, justru sebaliknya memperbaiki upaya dan kerja keras sesuai dengan cara-cara yang benar. Selain itu dengan cara demikian kita akan lebih tegar menghadapi kegagalan, lebih arif untuk mau mengevaluasi hasil kerja keras kita, dan lebih banyak keberhasilan yang bisa kita ca[ai, stidaknya keberhasilan memaknai kegagalan.
yaah semoga sedikit tulisan ini mampu menggugah jiwa pemalas gue untuk bangkit dan berjuang, and I kep struggling with this, I am a dreamer as also a fighter, a fighting dreamer
N I keep praying: Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazn wa minal jubni wal bukhl wa minal ‘ajzi wal kasl wa ‘audzubika min ghalabatiddaini wa qahririjal…Amieen
dari perpustakaan FHUI, udah kayak di warnet gue…