Fighting Dreamer

Harapan pribadi atas blog ini:

Archive for October, 2006


hard works always pay

hehehehh entah ini narsis namanya atau sombong, ujub or saudara-saudaranya yang menunjukkan esensi yang sama…tapi gue nga tahan untuk merasa senang n sedikit pamer dengan hasil tes kecil Hukum Perdata Internasional yang baru aja gue terima, gue dapet 80 dari empat soal…..biasa yaaa?….ini luar biasa klo sedikit menengok ke belakang di semester lima gue nga lulus nni mata kuliah, nilai huruf kapital D berwarna merah menghiasi catatan akademis gue di dunia maya, SIAK-NG-UI. Di tambah lagi , mata kuliah ini dinilai angker oleh hampir semua angkatan yang mengambil program kekhususan hukum Transnasional, dan memang materi perkuliahannya teramat berat.

Semoga Allah Sang pemilik kesombongan memaafkan dosa gue yang sedikit ujub, tapi beruntung gue keburu sadar kalau apa yang gue dapatin adalah ketetapan Allah , sebuah sunnatullah yang layak terjadi : barangsiapa yang menanam dia akan menuai/memanen, man jadda wajada, hard works always pay.

Barangsiapa yang bersungguh-sungguh dan bekerja keras maka dia akan berhasil, atau setidaknya mendapatkan ganjaran atas hasil kerja kerasnya. Dalam hadis masyhur tentang niat yang diriwayatkan dari Umar bin Khatab dikatakan bahwa segala amalan bergantung pada niatnya barangsiapa yang niat hijrahnya kepada Allah dan Rasul maka hijrahnya sampai kepada Allah dan Rasul, dan barangsiapa yang hijrahnya karena dunia atau wanita yang dicintainya maka hanya dapat apa yang ditujunya(H.R bukhari dan Muslim).

klau gue mengartikan niat sebagai kehendak kekuatan batin yang mendorong upaya keras mewujudkan cita-cita maka gue boleh dong menyimpulkan orang yang bekerja keras mengejar targetnya akan sampai kepada goalnya.Toh ini yang gue rasakan dengan hasil 80, I worked hard enough days before the test, and my mark is such a pay. 

Kesadaran ini secara langsung menyerang n menusuk kebiasaan hidup gue sehari-hari: malas, yaa as the pic I grab to personalize myself, pemalas sejati….betapa kesengsaraan bekerja keras membawa kenikmatan merasakan hasil usaha, sedang apa yang didapat dengan berpangku tangan? nihil, selain kenikmatan bermalas-malasan, bertopang dagu menyandarkan punggung, menguap dan keasyikan lainnya yang membawa gua pada isolasi imajiner yang membentengi dari realita keseharian.

Memori gue terbawa kepada sejarah hidup pribadi di mana ada momen-momen kerja keras membawa kenikmatan dan kesenangan….

Teringat bagaimana senangnya bisa diterima di Gontor satu , bahkan masuk dalam jajaran kelas elit Intensif Satu B (mesti pada akhir cerita bagian ini I kabur dari pondok dengan penuh penyesalan yang membawa pada babak2 depresi, goncangan jiwa dan upaya bunuh diri?), maka teringat suka duka ketika berjibaku dengan materi2 dasar dan persiapan di Gontor II, segala penggemblengan yang dilalui dengan kesabaran dan ketabahan, bilangan waktu yang dihabiskan untuk belajar, belajar, dan belajar. belajar tentang hidup dan kehidupan…singkatnya manisnya keberhasilan terasa sangat manis dengan bekerja keras.

Pasca kasus melarikan diri dari Gontor I dan berlabuh di SMU Cenderawasih II, hal yang sama gue rasakan. Bayangkan akibat depresi dan kegoncangan jiwa yang belum sepenuhnya pulih I harus melewati semester I(atau cawu I lupa, dulu sistemnya rubah-rubah) kelas I dengan enam angka merah di raport , dengan satu diantaranya EMPAT. Nga ada dalam sejarah hidup gue dapet nilai kayak begini kecuali waktu mendapat rapor bayangan kelas V di SIC, jaman pak Husein Landa, itupun dalam derajat yang tidak senista ini. Alhamdulillah ketika menemukan obat hati dan hidayah Allah, fakta tersebut menampar diri dan memicu semangat untuk berubah. Di tahun yang sama di semester akhir kenaikan kelas, segalanya berubah, niali-nilai merah itu kini bersandar dengan angka-angka yang jauh lebih baik menutup sejarah kelas I dengan bertengger di peringkat kedua dari keseluruhan kelas (cuma dua limaan orang). Rasa senang dan kebanggaan tiada tara tidak akan hadir jika itu bukan hasil dari kerja keras, andai itu hasil manipulasi atau penipuan justru akan mendatangkan rasa malu (trust me I know), semalu gue mendapati nilai fisika gue , matematika dan Biologi di STTB tertulis 9, 9, dan 8, benar-benar manipulasi sekolah yang membutuhkan akreditasi lebih baik.

Banyak peristiwa-peristiwa bersejarah pribadi merupakan hasil kerja keras, seperti menjuarai beberapa lomba bahasa Inggris, yang kesemuanya terasa menyenangkan justru karena adanya usaha itu.

Meskipun demikian, ada prinsip yang tak mungkin gue abaikan, bahwa diujung usaha manusia ada takdir Allah Yang Maha menetapkan. Banyak juga termin dalam sejarah hidup pribadi yang menunjukkan bahwa pun saat kita telah lelah berusaha, tidak selamnya keberhasilan kita dapatkan, tapi selalu ada hasil yang dicapai. Ada obat mujarab yang membangkitkan dan menjadikan gue kembali tegar menjalani hidup pasca babak keterpurukan, depresi, silahkan buka mushaf-mu tak jauh dari lembaran-lembaran awal di surah Al-Baqarah 216 maka teman U akan menemukan Allah berkata "….apa yang baik disisimu (manusia) belum tentu yang baik di sisi Allah, tetapi apa yang baik di sisi Allah adalah yang terbaik bagi mu", Saya berlindugn kepada Allah dari kesalahan kutipan terjemahan ini tolong diperiksa lagi… yang jelas, ketika upaya keras telah dijalankan dengan cara yang baik dan sebaik-baiknya apa yang diharapkan belum tentu tercapai, adalah kehendak dan ketetapan Allah yang mutlak berlaku, dan kecewa bukan pilihan yang bijak melainkan ucapan syukur dan permohonan mendapatkan balasan yang lebih baik adalah jalan yang tepat bagi orang-orang yang mau mengambil hikmah.

Ada ulasan menarik dari ayah kita, Quraish Shihab, ketika menjawab pertanyaan seputar Qadha dan Qadar serta usaha manusia. Bahwa segala ketetapan sudah ditentukan sebelumnya, dan pengetahuan Allah Maha luas, Allah telah menentukan segala sesuatu sesuai kadarnya, takarannya, terminal-terminalnya, tanpa menafikan atau menihilkan kesempatan manusia untuk berubah. Beliau menganalogikan dengan dosen/profesor yang jauh lebih tahu ddari mahasiswanya, ketika datang waktu ujian seorang mahasiswa X telah bekerja keras belajar jauh sebelum ujian berlangsung, ketika ujian selesai, mahasiswa tersebut mendapatkan nilainya jauh memenuhi harapan, bolehlah si mahasiswa mengklaim dia telah belajar dengan sungguh2 hingga mustahil jawabannya meleset dan salah, tetapi dosen lebih tahu apakah jawaban mahasiswa itu sesuai atau tidak, benar atau salah, melenceng atau lurus. Boleh lah kita berdebat kalau dosen itu bisa saja lupt atau punya subyektivitas tertentu terhadap permaslaahan, atau lebih parah punya sentimen khusus dengan sang mahasiswa, tapi patutkah kita menggugat demikian kepada Allah? Allah yang Maha mengetahui, tahu apa yang terbaik, bisa jadi dalam kerja keras kita ada sesuat yang salah, sesuatu yang tidak semestinya, ada orang-orang yang terzalimi, ada proses yang tidak dikerjakan sebagaimana mestinya, yang menjadikan tujuan tidak tercapai maksimal, maka tidak mungkin Allah menetapkan keberhasilan yang mutlak sifatnya bagi upaya kita yang demikian.

Dengan menyandarkan ketetapan akhir kepada Allah bukan berarti memperlemah upaya dan kerja keras kita, justru sebaliknya memperbaiki upaya dan kerja keras sesuai dengan cara-cara yang benar. Selain itu dengan cara demikian kita akan lebih tegar menghadapi kegagalan, lebih arif untuk mau mengevaluasi hasil kerja keras kita, dan lebih banyak keberhasilan yang bisa kita ca[ai, stidaknya keberhasilan memaknai kegagalan.

yaah semoga sedikit tulisan ini mampu menggugah jiwa pemalas gue untuk bangkit dan berjuang, and I kep struggling with this, I am a dreamer as also a fighter, a fighting dreamer

N I keep praying: Allahumma inni a’udzu bika minal hammi wal hazn wa minal jubni wal bukhl wa minal ‘ajzi wal kasl wa ‘audzubika min ghalabatiddaini wa qahririjal…Amieen

dari perpustakaan FHUI, udah kayak di warnet gue…

 

belum pulih dari kedustaan….

Ramadhan tinggal  sepenggala……….lewat sudah waktu untuk membakar semua dosa….Ramadhan kali ini dilalui penuh penyesalan, bagaimana tidak, di awal menyambut Ramadhan, beragam target di tetapkan…..yaaa khatam Alquran tiga kali misalnya, 10 hari terakhir mau i’tikaf, re komitmen dengan organisasi(BPM), amanah dakwah, dan yang lebih penting berusaha menjadi orang lebih bersyukur….
tapi ….. astagfirullah….ampuni hamba mu  Rabb, yang tiada mampu mewujudkan janji yang terucap, huh untung bukan nadzar……
di antara hamba-Mu ada orang-orang yang menepati janjinya dan telah lebih dulu menjumpai-Mu Rabb….salaam sejahtera bagi Mus’ab bin Umair, hamba-Mu yang telah berjanji dan menepati janjinya, salaaam kepada para sahabat Rasulullah yang telah berjanji dan menepatinya……
pantaskah hamba yaaa Rabb berharap berjumpa dan bercanda dengan mereka kelak di surga?…
padahal hamba penuh dusta?
Duhai pemilik kebenaran, pembuka tabir kedustaan ampunilah dosa-dosa hamba, yang masih bergumul dalam kedustaan…….

karena lapar aku sadar….

"Maka nikmat Tuhan mana lagi yang hendak engkau dustakan" (Ar-Rahman…)

semoga ini menjadi wasilah(jalan) bagi gue untuk senantiasa mendekatkan diri pada Rab yang Maha Rahman….Beberapa waktu lalu (rabu 4 September 2006) ada Forum Mahasiswa(FM), forum tinggi di lingkungna Ikatan Keluarga Mahasiswa Universitas Indonesia, beranggotakan ketua2 lembaga di lingkungan IKM UI: ketua2 Senat/BEM fakultas, Ketua2 DPM/BPM fakultas. DPM UI, Ka BEM UI, dan Ka BO UKM. Agendanya membahas Ketetapan FM tentang Laporang Berkala Lembaga Kemahasiswaan…bukan proses dan pembahasannya yang mau gue angkat, lebih pada keadaan pribadi saat itu….lapar, ya jelas lapar hari itu seperti hari ini gue berpuasa, maka menahan lapar dan haus adalah bagian dari rukun puasa ramadhan (buat yang belum tau rukun puasa ada dua:1. Niat;2. imsak (menahan diri dari yang membatalkan puasa termasuk makan n minum)). Hari itu uang yang tersisa di kantong cuma Rp 100, seratus perak uang koin…Alhamdulillah beruntung pas adzan untuk ta’jil, presidium FM menyiapkan makanan ringan, sebelumnya diedarkan plastik buat urungan(iuran) meski nga wajib, n terpaksa hari itu cuma bisa senyum n bilang, "Her (Herdi ketua BEM FH) loe udah masukin kan? sekalian yaa atas nama FH.heheh…", lumayan bisa terganjal perut untuk sesaat…ya sesaat karena pas ca shalat Maghrib perut meronta-ronta, mengemis pada tuannya untuk tidak berperilaku dzolim pada anggota tubuhnya…tapi apa mau dikata duit tak ada…no food for tonight stumy. Tadinya pas pulang ke Asrama PPSDMS NF (kebetulan gue numpang, meski sebalumnya gue dapet beasiswa, tapi berhubung sekarang sudah Alumni so no more fund) berharap ada saudar2 yang dengan tangan terbuka menawarkan makan, or setidaknya I nga sungkan untuk ngutang! Ternyata gue lupa mereka ada acara buka puasa bareng di rumah Ketua Regional PPSDMS NF Jakarta Bapak Misri Gozan(dosen tehnik UI)…uhhhh perutku semakin tak tertahan…waktu Isya sudah masuk….perut ku lapar yaaa Rab, pluk tau2 jatuh makanan dari langit..

boong ding, yaa nga mungkin laaa, sini kan bukan Isa a.s. yang Allah berikan hidangan dari langit bagi kaumnya, Bani Israel…. perut masih lapar…entah dari mana godaan itu datang, timbul prasangka yang buruk kepada Allah, timbul amarah…God you let me starve today, so I’ll delay to pray Isya today…yaaa meski masuk waktu Isya, tapi karena ngambek I tidur langsung sambil nahan lapar…bangun masuk waktu sahur…astagfirullah belum shalat Isya, segera sholat.. anak2 asrama sudah bangun dan beberapa sudah mulai makan sahur…ada perasaan sungkan untuk ‘minta-minta’…terbersit ide untuk pergi ke masjid karena biasanya mereka menyediakan sahur, bergegas keluar dan berpas-pasan dengan bang Ahmad (supervisor PPSDMS NF, teman sekamar) yang mau pergi ke warung makan, "sahur di mana mar?" …"di depan sana.." beralasan merujuk pada warung makan yang agak jauh ke dalam..sesampainya di masjid ternyata sudah tak ada makanan yang tersisa….lapar , perut masih lapar…dengan lunglai kembali berjalan ke asrama, tapi entah kenapa di tengah jalan timbul kesadaran, heei bung cheer up, di luar sana berapa banyak orang yang tidak makan seharian penuh, dua hari bahkan lima hari, you won’t die for not eating just a day! be strong! kekuatan batin ini menyingkirkan 20% dari rasa lapar yang ada…tapi teteep: laper! hmmm kepikiran untuk minta gula ke bang Berno untuk buat teh manis, gula kan karbohidrat juga…

Sesampainya kembali di kamar asrama, Bang Berno sedang duduk di lantai menyantap (supervisor juga,n temen sekamar juga, gw numpang di kamar dengan 3 orang penghuni lainnya, pdhal cuma layak buat dua orang)sedang malahap makan sahurnya, segera gue minta gula, tapi milih sirup markissa yang juga punya Mr. B, "udah makan belom mar?"…"Belum"…"Nih bareng…","Iya sebentar bang, nyeduh ini dulu(marqissa)…" ..tiba-tiba ada perasaan bersalah dan renyuh di hati…Astagfirullah, ya Allah durjana sekali makhluk bernama Umar ini, telah berprasangka buruk pada-Mu yaa Rab…mungin Mr B nga tau kalau ajakannya untuk makan itu berarti besar bagi saya dini hari itu…saat makan bersama, beliau berhenti di tengah, karena sudah kenyang menyisakan masih banyak bagian, dengan sayur serta sepotong daging ayam bagian sayap dan pangkalnya yang berdaging banyak…"abisin mar!"…"lho abang udah? dikit banget makannya?.." , "tadi banyak itu porsinya satu, tinggal setengahnya..!"…Beliau segera berwudhu kemudian duduk di meja belajar sambil membaca mushaf(al-Quran)..letak meja itu persis di belakang lokasi saya terduduk dan makan…tetesan air mata dan rintihan sendu dengan lihai gue sembunyiin, ya Allah betapa nikmatnya terbebas dari kelaparan, makan ayam lagi…heheh….setelah selesai makan ada perasaan syukur yang teramat mendalam, "me kasih bang" berucap sambil lalu supaya berkesan tidak ada sesuatu yang berbeda, atau aneh, padahal terima kasih itu bukan jenis yang biasa…BAru hari ini gue baca, dalam sebuah situs internet tentang keutamaan Ramadhan , penulis mengutip sebuah hadis, dimana seorang sahabat bertanya tentang amalan apa yang balasannya segera diberikan oleh Allah, maka Rasulullah berucap, memberi pakaian orang yang telanjang, memberi makan orang yang kelaparan dst……Ada hikmah Ramadhan yang coba saya raih dari peristiwa ini, bahwa kita tak mungkin merasakan penderitaan orang yang kelaparan, ketika kita tidak pernah merasakan kelaparan…sulit menumbuhkan kepekaan sosial saat kenyamanan jamak kita dapatkan, hidup kita nyaman, segala sesuatunya selalu ada untuk kita, makan yaa tinggal makan, rumah tinggal tempatin, kasur tinggal plek tidurin, pkoknya serba enak, gimana kita mau peduli sama orang yang nga punya rumah….singkatnya segala macam kenikmatan sering luput kita syukuri dan baru kita sadari patut untuk disyukuri ketika nikmat itu tak lagi kita rasakan…pernah kita bersyukur hari ini masih bisa melihat, bernafas, berbicara? Padahal besok , lusa, satu jam nanti, atau malah detik ini kita seketika bisa saja buta, apa jadinya? lantas pernah kita menjaga ikmat memandang ini saja, untuk tidak memandang sesuatu yang hina, zina mata dsb…seperti lapar yang gue rasain kemaren..berapa banyak waktu dimana gue dalam kegelimpangan harta n makanan tapi lupa untuk bersyukur..banyak…semoga peristiwa ini tidak hanya membangunkan kesadaran n menumbuhkan sensivitas sosial gue, tapi juga melahirkan aksi yang konkret untuk terdorong memberantas kemiskinan mengurangi jumlah orang kelaparan, dengan upaya-upaya yang mungkin gue lakuin…dan tu banyak…as mahasiswa kita bisa mengawal pemenuhan hak ekonomi, sosial dan budaya masyarakat, salah saunya yang strategis adalah mengawal RAPBN, karena di situ ditentukan berapa alokasi yang diberikan untuk pemenuhan tersebut, dari mulai, pangan, pendidikan, perumahan, lapangan pekerjaan, fasilitas umum dll…dan ternyata banyak ketidakadilan dalam RAPBN, 70% pendapatan APBN dari rakyat melalui pajak ternyata dianggarkan 36% untuk utang luar negeri yang tidak produktif, di bawah 9% saja untuk pendidikan, 2,7% saja buat kesehatan, dan prosentase yang lebih kecil lagi untuk pos-pos bagi rakyat….dengan melaparkan diri ternyata kita dapat merakyatkan logika kita…rasakan dan maknai kemiskinan rakyat banyak dengan menumbuhkan kesadaran untuk berjuang, melawan ketidakadilan….dari salah satu sudut kota depok…Amru Albadari a fighting dreamer